1 Suro

68

1986

“Jadi besarmu nanti mau jadi apa, Nduk?”

“Pembaca berita pak, seperti yang di Dunia Dalam Berita itu.”

“Wah, bagus… kamu mau jadi jurnalis? Hebat itu Nduk. Kamu bisa tahu segala hal yang terjadi di dunia ini. Siapa? Siapa yang jadi idolamu itu sih?”

“Desi Anwar, Anita Rachman, Adolf Posumah, Ida Parwati, Yasir Den Has, Zsa Zsa….”

“Hahahaaa iya iyaa nduk, semua kok trus disebutkan”

“Laaah Bapak kan nanya…?!”

“Iya.. tapi ini bukan ujian”

“Lalu apa dong? Kuis? Hadiahnya uang ya Pak? Asyik….!”

Bapak dan anak itupun tergelak bersama. Malam 1 Suro mereka nikmati di teras rumah, di atas bangku bambu beralas tikar anyaman daun pandan, jauh di pelosok Karanganyar, 2 jam dari kota Solo.

“Ini kopinya,Pak. Pisang rebus apa sekalian mau dibawa? Biar ga jajan sambil nunggu kirab?”

“Ga usah, Bu, aku bawa kopinya saja”

“Rejeki, kamu jadi minta mie godok?”

“Jadi dong Bu… mie godok Ibu itu top markotop….!”

Ancungan jempol dan wajah berseri Rejeki membuat Ibu semangat. Sudah menjadi tradisi di leluhur Bapak untuk selalu mengikuti kirab malam 1 Suro di Solo. Bapak, meski masih keturunan Sri Susuhunan Pakubuwono XII, raja Kasunanan Surakarta yang memerintah sejak 1945 namun tidak pernah menyombongkan keningratannya. Tawaran tinggal di Baluwarti, dimana para keturunan dan abdi dalem keraton tinggal, ditolaknya. Punya rumah di Karanganyar ini lebih enak. Jauh dari kota. Udara masih segar, Bapak bisa bercocok tanam dan beternak ayam, begitu alasan Bapak.

Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Bapak pamit dan mengecup kening Rejeki. Ibu masih di dapur menyiapkan mie godok. Meski tak ikut kirab, biasanya mereka lek-lek an. Melek semalaman. Ibu mengaji dan membacakan tafsir Qur’an, Rejeki mendengarkan.

Baca Juga:  Rahmat

Setiap mengikuti kirab pusaka keraton dan kebo Kyai Slamet di malam 1 Suro, Bapak pulang mendekati waktu sholat Subuh. Bawa oleh-oleh tlethong alias tahi kebo. Kebo Kyai Slamet dipercaya membawa keberuntungan dan tahi nya melancarkan rezeki. Bahkan tahi-nya sering buat rebutan. Orang-orang memakainya untuk menyuburkan tanaman. Ada yang dibungkus kain mori putih kemudian ditanam di lahan perkebunan atau dicampur dengan tanah seperti halnya pupuk kandang.

Rona merah dan oranye langit mulai tampak di atas horizon. Fajar segera menyingsing. Bapak belum pulang. Ibu gelisah. Ada yang tak beres. Ibu mondar-mandir. Ceret air berbunyi. Nyaring. Ibu mematung. Pikirannya masih melayang. Rejeki bangun, mematikan kompor.

“Bapak belum pulang bu?”

“Mungkin sebentar lagi, Nduk”

“Ibu jangan nangis. Bapak pasti baik-baik saja. Mungkin… tlethong nya banyak jadi Bapak pulang terlambat?”

“Ahhh kamu bisa saja menghibur Ibu, Nduk”

Tak lama kemudian Bapak datang. Tampak gelisah. Keringat membasahi bajunya. Ibu dan Rejeki menyambut di pagar. Namun Bapak tidak sendiri, Ia bersama seorang perempuan.

“Inikah orangnya, Pak?”, meski kaget namun Ibu berusaha tenang.

“Iya Bu”, jawab Bapak dengan suara bergetar.

Bapak, Ibu dan perempuan yang bersama Bapak tadi ngobrol serius di ruang tamu. Rejeki diminta masuk ke kamar. Sayup-sayup Ia mendengar perbincangan mereka. Sesekali ada suara tinggi yang berasal dari Ibu, suara isak tangis dari perempuan itu dan suara bariton Bapak, yang tak ubahnya hari-hari biasa ketika memberikan wejangan untuk Rejeki.

“Nduk, Ibu pamit. Jaga Bapakmu. Ibu akan kasih kabar segera…”, Ibu menjinjing tas tangannya dan tergesa meninggalkan kamar Rejeki.

Dunia terasa berputar. Ketika Bapak dan tamu perempuan itu masuk ke kamarnya dan mengajaknya bicara. Ibu pergi, tanpa membawa pakaian ganti. Tanpa memeluk dan memberikan senyum terbaiknya. Bapak meminta ijin menikahi perempuan bernama Wiwik yang ternyata telah hamil 4 bulan. Ya, itu anak Bapak, mereka telah menikah siri dan berencana menikah resmi atas persetujuan Ibu, demi bayi yang dikandungnya.

Baca Juga:  Tepi Gang Ndasen

Hari-hari kemudian berjalan sangatlah lambat. Bagi Rejeki, kenyataan ini terlalu sulit Ia cerna. Bapak dan Ibu adalah sosok terindah baginya. Sebuah tanya yang tak berujung. Kenapa Ibu memilih pergi. Dan Bapak memilih Wiwik?

TAMAT

Penulis Adalah News Presenter BeritaSatu TV dan Tenaga Ahli DPR RI, Jakarta