Agama, Gerak Zaman dan Upaya Menjadi “Bodoh”

1214

Sejarah bukanlah benda mati. Ia selalu diwarnai dengan dinamika dan perubahan besar di tiap gulir zamannya. Pada pemahaman historiografis klasik, perubahan-perubahan yang tak dapat dihindari itu selalu menampilkan seorang aktor dengan kesadaran lintas batas agama dan kebudayaan serta kemampuan multi dimensi yang membangkitkan ghirah dan partisipasi publik.

Aktor semacam ini—sebagaimana pernah disitir oleh Abdul Munir Mulkhan—bisa dikatakan sebagai sosok yang melampaui ambisi pribadi bahkan nyaris tak memiliki sama sekali kepentingan personal ketika ia meleburkan diri di tengah-tengah publik dan menyatukan diri dengan suara zamannya. Kehadirannya kerapkali berada dalam suatu ukuran kategorisasi diluar publik, Helap (Baca: Bahasa Madura) dan aneh pada mulanya. Dalam bahasa Abdul Munir Mulkhan adalah sosok yang melampaui publik, yakni super publik.

Personifikasi semacam ini tentu tidak asing bagi literatur kita, dalam bahasa lain ia dapat disebut sebagai “Insan Kamil”dalam term sufistik dan Übermensch dalam konsep filsafat Nietzche. Meski baik keduanya, Insan Kamil maupunÜbermensch memiliki perbedaan konsepsi yang cukup mendasar.

Sosok semacam ini, meminjam bahasa Gus Abbas Katandur (kiai dan budayawan Pamekasan) merupakan sosok “lentera yang mencari kegelapan”. Sosok yang pada umumnya dilahirkan dalam suasana chaos. Ketika publik mengalami suatu kesenjangan eksistensial dan kecemasan akut akan zaman yang berpusing dalam pusaran konflik dan problematika yang tak menemu ujung; yang mampu menembus batas gelap dan bayang-bayang.

Agama-agama samawi memberikan kita cerminan yang sangat besar dalam hal ini. Sebagaimana pernah disitir Kiai Musleh Adnan (Ulama dan Muballigh Pamekasan) dalam suatu gelaran tabligh budaya “Ngasango: Ngaji Sambil Ngopi” di Pamekasan, Madura, bahwa sosok-sosok para nabi merupakan sosok tauladan yang dapat menjadi cerminan sosok yang“jumeneng” dalam waktu dan kondisi perubahan zaman yang tak ramah. Laksana ikan di lautan yang bertahan dalam gelombang tanpa tercemari asin lautan, kualitas keberimanan yang meliputi kesadaran dan keteguhan batin yang dimiliki para Nabi justru merubah orbit perubahan pada suatu pembebasan spiritual yang total.

Baca Juga:  Gerakan Spiritualitas Baru

Seiring berkembang dan meluasnya kesadaran dan partisipasi publik terhadap laju politik lokal, regional bahkan nasional, konteks kebangsaan kita belakangan ini cukup mencemaskan. Era pasca-reformasi yang merupakan era keterbukaan dan demokrasi, negeri yang dikenal sebagai Jamrud Khatulistiwa dan memiliki keanekaragaman budaya dan negeri sejuta masjid, terancam oleh suatu disentegrasi multi sektoral. Negeri yang dikenal dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, rupanya merupakan sarang teroris, negeri korup, pabrik pil setan dan kerap diwarnai dengan aksi-aksi persekusi bahkan berujung pada kekerasan atas nama agama.

Konsep dan imajinasi kebangsaan diakui atau tidak belum dapat mengikat sepenuhnya di antara para pemeluk agama untuk menganggit keragaman kebudayaan. Berkembangnya laju informasi dan media sosial yang pesat, kelimpahruahan kekayaan material, kesalehan ritual dan reproduksi intelektual rupanya bukanlah suatu jaminan semangat kebangsaan dan penghayatan keagamaan dapat menyemai kesadaran kemanusiaan dan keakraban antar warga negara.

Kita memang tak dapat melakukan simplifikasi atas persoalan-persoalan di atas sebagai murni persoalan agama. Setiap peristiwa memiliki latar dan motif yang beragam, bahkan kepentingan pendek semacam politik praktis dapat menjadi hulu soal yang paling laten dan rentan. Sayangnya, katakanlah sebagai misal, pihak penguasa lebih mudah melihat hal ini sebagai suatu gejala agama dengan melontarkan himbauan-himbauan yang justru meyudutkan posisi para pemeluk agama.

Ketika aksi persekusi bahkan kekerasan terhadap para pemuka agama dan ulama yang terjadi belakangan ini, sangat jarang sekali kita dapati suatu penjelasan konfrehensif kecuali bahwa ini merupakan soal antar penganut agama, bukan soal sosial-ekonomi sebagai titik dasar sebagai permisalan. Bahkan, hal ini justru diterangkan dalam suatu konsepsi absurd di mana para pelaku kekerasan terhadap pemuka agama yang terjadi merupakan ulah “orang gila.

Hamdani (Budayawan) bersama kelompok musik religi “Paddhang Bulan” dalam acara “Ngasango: Ngaji sambil Ngopi-Belajar Sampai Bodoh” di PP. Nurul Hikmah, Pamekasan, Madura (23/2/2018). [Foto: Redaksi]

Terdapat suatu peperangan interpretasi di antara para pemuka dan pemeluk agama yang tak pernah mencapai titik klimaks, benturan ini mengerucut menjadi suatu pertarungan ormas keagamaan yang meresahkan. Menciptakan suatu atmosfir ketegangan yang mudah diselewengkan oleh para pihak pemilik kepentingan yang ingin memanfaatkan chaos publik sebagai batu loncatan pemenangan. Parahnya, para pemilik kepentingan ini juga pandai memainkan interpretasi agama dengan mencuatkan konflik dan persinggungan agama ke permukaan.

Baca Juga:  Quo Vadis Partai Golkar

Dibutuhkan suatu upaya peletupan kesadaran keagaamaan yang lebih pejal dan cukup luas untuk menampung keberagaman sekaligus mengkerdilkan kepentingan praktis sesaat. Agama (katakanlah agama samawi) tak satu pun di antaranya yang membenarkan aksi-aksi persekusi dan kekerasan, ini tentu kita sadari.

Hanya saja persoalan menjadi lain ketika kita gemar menggunakan tafsir-tafsir skriptural agama untuk membangun suatu ego komunal yang hendak melindas interpretasi lain yang lebih lunak terhadap kebudayaan. Tema-tema kebudayaan dalam khasanah diskursus Islam bukan hanya tema yang tidak populer, namun juga kerap disalahpahami. Fenomena semacam ini, ditegaskan oleh Abdul Munir Mulkhan sebagai suatu implikasi dari sistem teologis yang “ragu” memberi kepercayaan pada daya kreatif manusia sebagai pencipta kebudayaan.

Tiap-tiap itikad kebudayaan sebagai suatu proses ijtihad kemanusiaan dalam melakukan penghayatan atas keberadaanNya dianggap berakhir seiring usainya risalah kenabian. Bahkan dianggap sebagai suatu hal yang menggerus dari kesempurnaan Islam itu sendiri. Ketakutan—jika tak dikatakan sebagai kekerdilan mental—menghadapi arus liberalisasi-kapitalis Barat membuat sebagian kelompok amat protektif bahkan cenderung memaksakan kehendak interpretatifnya.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan kenyataan historis bagaimana Islam masuk ke Indonesia salah satunya melalui jalur kebudayaan. Hal ini dapat dilihat dari jejak-jejak dakwah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga dan para kaum sufi tarekat. Kesenjangan ini banyak diakibatkan oleh suatu anggapan bahwa Interpretasi nyaris disamakan dengan kemutlakan kebenaran setara wahyu, ini mengakibatkan pengkristalan Ilmu Fiqih dan Kalam pada suatu tafsir skriptural yang kaku dan mengenyahkan sama sekali wahyu kontekstual; yakni jagad raya dan fakta dari alur sejarah itu sendiri yang telah dipaksa mati.

Sebuah angin kecil yang segar telah lahir ketika “Ngaji Sambil Ngopi: Nganggit Jiwa, Ngolah Pikir” dengan semangat “Belajar Sampai Bodoh” digelar baru-baru ini di Pamekasan, Madura. Sebuah forum yang digagas oleh para kiai muda dengan melibatkan banyak tokoh mulai dari pemuka agama, aparat dan masyarakat umum, dengan mengedepankan solidaritas dan keguyuban, penghadiran kembali nilai-nilai kebudayaan dan sufisme. Ini diharap menjadi suatu katalisator antara problematika di tataran bawah terhadap konteks dan isu-isu nasional—terutama berkenaaan dengan laku dan penghayatan agama.

Baca Juga:  Reforma Agraria di Tanah Ulayat Masyarakat Adat

Hal ini dianggap penting untuk menjembatani suatu arus deras pembangunan ekonomi-budaya dan sosial masyarakat berjalan seiring dengan kesadaran dan pembentukan spritual maupun intelektual. Pada suatu era keterbukaan informasi ini “Butterfly Effect” bukanlah hal yang mudah kita hindari, namun mesti direspon dengan suatu daya adaptasi maupun improvisasi yang “khusyu'”untuk mengolah potensi chaos justru sebagai persemaian kerukunan dan lentera dari pencerahan kebudayaan.

Sebagaimana dalam terma Hujjatul Islam,Imam Ghazali: Kebenaran laksana seekor gajah yang dipegang oleh beberapa orang buta. Tentu setiap kelompok memiliki interpretasinya sendiri dan kebenaran persepsinya, hal ini merupakan suatu keinsyafan bahwa tak ada kebenaran mutlak selain datang daripadaNya. Setiap interpretasi pada akhirnya dilihat sebagai suatu kenisbian, sebatas itikad manusia mencapai ridhaNya.

Kita telah tiba pada suatu gerak zaman, meminjam istilah Cak Nun “ketika kebenaran justru dipertentangkan dengan kebenaran”. Ketika kita sibuk mencari pembenaran interpretatif terhadap penghayatan agama untuk saling mencegal dan menjatuhkan kelompok lain. Itu sebabnya, pemilihan tasawuf sebagai suatu kajian pokok dalam acara rutin bulanan “Ngaji Sambil Ngopi”  diharap dapat mendadarkan pemahaman dan laku asketik di mana “kebenaran interpretatif” dapat terlebih dahulu diimplementasikan dalam akhlak personal ditimbang dipertentangkan menjadi konflik horisontal yang memecah persatuan.

Sebagaimana diwartakan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, sebab “Perang terbesar adalah perang melawan (nafsu dan ego) kita sendiri”. Sehingga lepas dari kenyataan persoalan horisontal yang terjadi belakangan ini, setidaknya kita tidak menjadi generasi yang menunggu “godot” dalam upaya menciptakan perdamaian yang dimulai dari diri pribadi, saat ini dan detik ini juga. Wallahu A’lam.

Pegiat Budaya. Mengelola “Yayasan Paddhang Bulan Tacempah”, Pamekasan, Madura.