Puisi

Aku dan Tuhan

Ilustrasi (favim.com)

Oleh: Rohmatul Izad

Aku kira Tuhan telah mati
Ternyata aku yang menyaksikan kematianku dihadapannya
Aku kira Tuhan punya selera buruk
Tapi betapa indahnya aku diciptakan

Aku dan aku aku yang lain betapa nistanya
Betapa aku sangat buruk dihadapannya
Tuhan, maafkan aku
Kau sering mengunjungiku
Tapi aku jarang ada di rumah

Yang baru selalu tergantikan
Yang lama akan lenyap dimakan waktu
Aku di sini menolak untuk lenyap
Aku di sini akan hidup abadi
Bagai kata yang tak lekang oleh zaman

Seperti malam, siang pun punya kesunyian
Aku dihamparan keramaian
Menyaksikan kekeruhan batin yang begitu dalam
Kehampaan ini tidakkah kau sadari
Ketika mata terpejam dunia seakan terdiam
Maut, terlalu cepat kau menjemputku

Malam itu aku sendiri
Malam itu aku dimakan kesunyian
Diamku bukan kata-kata
Mataku bukan segalanya

Sudahlah aku tak tahan lagi
Aku hanya ingin kau di sini
Menemani malamku
Mengikatku dikehampaan spritual
Tuhan, dengarkan aku kali ini saja

SerikatNews.com adalah portal media Online, sebagai wadah media kritis anak bangsa yang menerjemahkan visi, mencerahkan itu sebagai keharusan, menyajikan tulisan-tulisan jernih dan transfomatif. SerikatNews.com merupakan media yang menyajikan berita-berita yang terpercaya sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Media SerikatNews.com bergerak diranah kampus bermaksud untuk membangun secara kolektif nalar kritis mahasiswa yang hari ini sudah banyak terkoptasi dengan dunia hedonisme. SerikatNews.com tidak memihak terhadap kepentingan satu golongan baik ras, suku, partai politik bahkan agama! Salam Tim Redaksi SerikatNews.com.

Copyright © 2017 Serikatnews.com - All Rights Recerved

To Top