Alegori Muhammad Yamin

427
Sumber Foto: jinderapura.blogspot.co.id
Sumber Foto: jinderapura.blogspot.co.id

Oleh: Al-Farisi

17 Oktober 1962, tepat 9 hari sebelum peringatan Sumpah Pemuda ke 34, Muhammad Yamin berpulang selama-lamanya, meninggalkan semesta kehidupan yang fana ini. Indonesia berduka. Peringatan Sumpah Pemuda yang ke 34 terasa hambar, karena kehilangan sosok visoner yang sadari awal menggemakan semangat persatuan.

Imajinasi persatuan begitu liat melambari kehidupan Yamin. Sumpah Pemuda adalah cawan, tempat dia mengartikulasikan idealismenya yang terpendam sejak kecil. Di usia 17 tahun, Yamin menggubah sajak “Tanah Air” yang penuh tenaga dan berkekuatan proyektif: Pada batasan, Bukit Barisan/ Memandang aku, ke bawah memandang/ Tampaklah hutan, rimba dan ngarai/ Lagipun sawah, sungai yang permai/ Serta gerangan, lihatlah pula/ Langit yang hijau bertukar warna/ Oleh pucuk, daun kelapa/ Itulah tanah, tanah airku/ Sumatera namanya, tumpah darahku.

Sajak tersebut mengandung getaran nasionalisme. Kecintaan pada tanah air mendekap kesadarannya, meskipun hanya tersudut pada bagian kecil wilayah Nusantara: Sumatera. Namun, diusia yang begitu dini, tentu hal tersebut adalah kemajuan. Apalagi, di kala itu, masyarakat pribumi masih terbenam dalam determinasi imprealisme Belanda yang menyumbat potensi dan pikiran maju kaum pribumi.

Membaca kehidupan Yamin, kita seperti diajak menyelami dua sisi kehidupan yang saling bertabrakan. Dia adalah sosok kontroversial. Terkadang, Yamin harus menempuh jalan penuh intrik, dan kelicikan. Tetapi, di sisi berbeda dia pecinta sejati Indonesia yang terkagum-kagum kepada Mahapatih Majapahit, Gadjah Mada. Gelegar Sumpah Palapa, berusaha dihidupkan kembali dan dijadikan langgam dari rasa nasionalismenya. Di titik inilah, letak pembenaran dari pernyataan Bennedict Anderson (1936-2015), bahwa sebuah bangsa lahir dari imajinasi yang terbayang.

Etika-politik kebangsaan yang dipegang erat-erat Yamin bersandar pada prinsip etis warisan para leluhur. Alhasil, Yamin berhasil menguasai bahasa Jawa Kuno dan Sangsakerta sebagai bentuk kepandaiannya merawat warisan para moyang. Kerajaan-kerajaan Nusantara, seperti Majapahit, Sriwijaya dan Padjajaran telah memerangkap dirinya dalam keterpesonaan. Berangkat dari sinilah, pemikiran proyektif Yamin meluncur, menjadi pahatan kokoh semangat zamannya yang kala itu sedang bergolak.

Baca Juga:  Cak Imin sebagai Pemimpin Zaman Now!

Nasionalisme terbentuk dengan cara menggali gebyar gemilang peradaban masa lalu. Soekarno memiliki kesadaran historis yang hampir sama seperti Yamin, dengan gaya retorik dalam pidatonya di pengadilan 1930 bertanya “Bagaimana cara memupuk nasionalisme? Bagaimanakah cara menghidupkannya?”. Kemudian Soekarno menjawabnya sendiri “Kita tunjukkan pada rakyat bahwa mereka mempunyai masa lampau, suatu masa lampau yang jaya”.

Barangkali gambaran ideal kedigdayaan Majapahit di bawah Hayam Wuruk (memimpin 1350-1389) dan mahapatih Gadjah Mada (menjabat 1334-1359) yang menginspirasi lahirnya organisasi Budi Utomo (1908) dengan tujuan mengangkat moral orang Jawa. Bahkan, penulis berasumsi bahwa Sumpah Pemuda 1928 memiliki aliran semangat persatuan yang berhulu dari Sumpah Palapa  yang didengungkan Gadjah Mada.

Pidato Yamin berjudul “Persatuan dan Kebangsaan Indonesia”, mengungkapkan ikatan kebangsaan kita dapat ditelusuri sampai zaman Sriwijaya abab ke 7. Hal itu, menegaskan adanya jalinan semangat yang terus mengalir dalam batang tubuh bangsa ini. Yang cemerlang di masa lalu kemudian redup dan menjadi data sejarah yang “berdebu”, bisa menyembul sebagai kekuatan dan memberi energi bagi terciptanya perubahan di masa kini. Pijakan Yamin kokoh di atas altar historis Nusantara.

Kecakapannya dalam memahami sejarah, membuat diri Yamin begitu cinta terhadap tanah airnya. Gelora nasionalismenya terpancar hingga menghasilkan jejak sejarah yang tak luruh dimakan waktu. Lambang Garuda Indonesia dia ciptakan. Bersama Soekarno, dia berperan dalam melahirkan kata Pancasila, sebagai pijakan dasar bangsa Indonesia. Buku-buku seperti 600 Tahun Merah Putih, Ketatanegaraan Majapahit, Gadjah Mada, Pangeran Dipenegoro, Ken Arok dan Ken Dedes, Kalau Dewi Tara Sudah Berkata berhasil dia gubah dengan perspektif sejarah yang kuat.

Muhammad Yamin, berandil besar dalam menganggit bait-bait Sumpah Pemuda. Jika Gadjah Mada bersumpah: Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa (Jika Nusantara telah dibersatukan, saya baru akan berhenti berpuasa), Yamin dan kawan-kawannya berikrar: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.  Inti dari keduanya sama, yakni mencari titik temu diantara bentangan keanekaragaman kita.

Baca Juga:  Performance And Legitimate SerikatNews

Sebagai delegasi dari Jong Sumatranen Bond, Yamin memunculkan ide terciptanya bahasa persatuan. Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Melayu adalah usulan Yamin, yang ditentang oleh Mohammad Tabrani wakil Jong Java dengan alasan Melayu tidak merepresentasikan keindonesiaan. Syahdan, perdebatan alot terjadi dengan memunculkan larik Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia sebagai hasil ahir yang disepakati. Meski, sejatinya bahasa Indonesia yang dimaksud merupakan bahasa Melayu.

Sehingga, melalui ikrar tersebut, Yamin keluar dari jeratan primordialisme kedaerahan  menuju rasa nasionalisme yang lebih luas. Dalam sajaknya “Indonesia Tumpah Darahku”, Yamin mengungkapkan : Bersatu kita teguh/ Bercerai kita runtuh/ Duduk di pantai tanah yang permai/ Tempat gelombang pecah berderai/ Berbuih putih di pasir berderai/ Tampaklah pulau di lautan hijau/ Gunung-gunung bagus rupanya/ Dilingkari air mulia tampaknya/ Tumpah darahku Indonesia namanya.

Selain sebagai sastrawan cum sejarawan, Yamin juga turun ke dalam palagan politik, piawai dalam mamainkan kebijakan-kebijakan politis. Tetapi, yang perlu dicatat darinya, politik bukanlah tujuan hidup melainkan instrumen demi merealisasikan idealisme. Seringkali Yamin disebut-sebut tidak konsisten, zig-zag, dan berpindah-pindah dalam lorong politik yang ditempuhnya. Tetapi itulah politik, yang memang menuntut pragmatisme.

Bahkan, saat bergabung di Volksraad (Dewan Rakyat), Yamin dijuluki “pemecah belah abadi”. Tetapi, dengan melihat batapa berharga jasa-jasanya dalam mewujudkan persatuan Indonesia, Yamin juga bisa kita sebut “pemersatu abadi”. Sehingga apa yang diingat dari Yamin, selain sepenggal sumpah yang mengubah paras Indonesia. ***

*Mahasisiwa Sosiologi Agama, Anggota Korp Pusaka Perlawanan dan Aktif di Komunitas Kutub Yogyakarta