AMPI: Harus Ada Resolusi Permanen dalam Krisis di Myanmar

143
Foto: Dok, Pribadi
Foto: Dok, Pribadi

SERIKATNEWS.COM – Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) bersama beberapa organisasi-organisasi pemuda serta unsur-unsur pemuda lainnya di wilayah regional untuk mendorong Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (PERBARA/ASEAN) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB/UN) untuk segera melakukan tindakan penyelamatan dan resolusi permanen terhadap krisis yang terjadi di Myanmar.

Ketua Umum DPP AMPI Dito Ariotedjo mengatakan, AMPI melakukan “Network Diplomacy” dengan jaringan dan infrastruktur melalui konferensi regional-internasional antara lain dengan unsur pemuda di negara-negara ASEAN yaitu National Youth Council (Singapura), Pemuda UMNO (Malaysia), Patricia TAYO & Phillipine Center for Young Leaders in Governance (Filipina), Res Movement of Cambodia National Rescue Party (Kamboja) untuk menghimpun kekuatan dan melakukan diplomasi pemuda di kawasan untuk bersama-sama mengambil tindakan untuk sesegera mungkin membentuk dan menyepakati resolusi untuk menghentikan tragedi kemanusiaan yang sedang terjadi Myanmar.

“Beberapa kesepakatan dalam konferensi antar pemuda ASEAN tersebut, menyepakati beberapa poin untuk disuarakan dan ditindaklanjuti, di antaranya dibentuk lembaga pengawas dari PBB dan ASEAN untuk memitigasi dan meredakan konflik di Rohingya, dimana Indonesia menjadi pihak netral yang mewakili ASEAN dalam proses membina perdamaian yang berkelanjutan,” ujar Dito dalam siaran pers yang diterima Serikat.com.

Dito melanjutkan, pihaknya menuntut agar memberlakukan sanksi keras kepada pemerintah Myanmar jika terus membiarkan aksi kekerasan bermotif genosida yang merupakan pelanggaran HAM berat sesuai Universal Declaration of Human Right PBB; berupa pemutusan hubungan diplomatic dan kerjasama. Dia menambahkan, pihaknya juga meminta Pemerintah Indonesia agar mendesak pemerintah Myanmar untuk mengakui hak status kewarganegaraan penduduk Rohingya sebagai warna negara sah
AMPI juga menuntut agar pihak yang berwajib dapat meningkatkan bantuan kemanusiaan, pendidikan, dan ekonomi bagi penduduk Rohingya dengan mengikutsertakan secara gotong royong negara negara ASEAN dan khususnya mengikutsertakan Inggris. Di mana transmigrasi awal Rohingya ke Myanmar terjadi dalam proses pembangunan koloni kerajaaan Inggris Birma selama lebih dari 100 tahun.

Baca Juga:  Presiden Jokowi: Saya Tidak Akan Membiarkan KPK Diperlemah

“Hari ini kita menyatukan kekuatan bersama pemuda dari negara-negara tetangga, untuk bersama-sama berkomitmen untuk bersuara dan beraksi, bersinergi dengan pemerintah kami di setiap negara, untuk mengambil tindakan dalam usaha penyelamatan dan pembentukan solusi yang tetap dan permanen terhadap saudara-saudara kita di Myanmar,” kata Dito.

Dito melihat peran pemuda, dalam spirit utama “Millennials Nationalism”, sangatlah besar dan penting dalam membangun kesadaran agar masyarakat mampu melihat apa pun itu; isu, pemberitaan, masalah dan solusi dari berbagai perspektif dan pandangan, hingga akhirnya berpartisipasi langsung dalam pembentukan resolusi ini. Pemuda adalah kalangan yang suaranya dan tindakannya harus paling besar, paling lantang, dan tentu keaktifannya dalam membangun masyarakat yang sadar dan peduli dapat dimulai dari keaktifan pemuda untuk mulai bersuara.

Menurut Dito, pemuda adalah harapan, pendorong, dan motivator utama penggerak masyarakat. Dan dalam hal ini, mempunyai potensi yang sangat besar untuk mengubah dan berbuat sesuatu. Pihaknya berharap, langkah yang mereka lakukan bersama itu dapat menjadi pondasi serta inspirasi bagi masyarakat, terutama generasi pemuda untuk melakukan hal yang sama. Tentu, lanjut Dito, tidak lain untuk tujuan yang sama yaitu untuk membangun dan menciptakan keamanan serta resolusi kemanusiaan di dunia khususnya di Myanmar. (SMH)