Opini

Angin Perubahan Arab Saudi

Sumber Foto: Reuters OKEZONE NEWS Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud dan Presiden Jokowi

Oleh: Khairul Mufid

Kunjungan kenegaraan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al-Saud (82) ke Indonesia pada 1-9 Maret 2017 menjadi trending topic hangat, baik di arus media utama maupun di semesta maya beberapa pekan terakhir. Cerita tentang Raja Salman dan keluarganya tersebar luas di media sosial, seperti foto raja, artikel tentang pengaruhnya di Arab Saudi, Raja Salman yang Hafiz sejak usia 10 tahun, persiapan penyambutan nan mewah di Jakarta dan Bali, bahkan putri-putrinya nan cantik jelita.

Barangkali inilah kali pertama kunjungan kenegaraan yang paling menyita perhatian masyarakat. Kunjungan Presiden Barack Obama pada Nobember 2010 tidak seheboh ini. Dengan membawa 1.500 rombongan, diantaranya 25 pangeran, dan 10 menteri, kunjungan Raja Salman bisa dibilang adalah kunjuangan balasan atas kunjungan Presiden Jokowi ke Saudi pada September 2015. Kunjungan Raja Salman adalah terma positif untuk mempererat hubungan Indonesia-Saudi, terlebih ini sebagai penghilang dahaga kerinduan masyarakat Indonesia setelah kunjungan Raja Saudi terjadi pada 47 tahun silam. Terakhir Raja Saudi mengunjungi Indonesia pada 10-13 Juni 1970 oleh Raja Faisal. Tiga raja berikutnya: Khalid (1975-1982), Fahd (1982-2005), dan Abdullah (2005-2015) tidak sekali pun mengunjungi Indonesia.

Dalam konteks hubungan interasional, kunjungan para pemimpin politik senior atau pemimpin tertinggi suatu negara bisa dimaknai sebagai sebuah entitas proporsional dalam menjalin kerja sama bilateral kedua negara. Hal ini begitu berarti ketika melihat kunjungan Presiden Joko Widodo ke Australia (25-26/02/17), yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan negara bertetangga yang saling mengkhormati dan kerja sama militer. Atau kunjungan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ke Indonesia (15-16/01/2017), yang membicarakan isu ekonomi. Dan dipungkasi oleh kunjungan Raja Arab Saudi Salman ke Indonesia 1-9 Maret ini, sebagai lawatan bersejarah bagi kerja sama kedua negara yang termaktub dalam 10 nota kesepahaman yang akan ditandatangani kedua pemimpin negara.

Babak Baru

Sejak Arab Saudi mendeklarasikan visi 2030—di bawah nakhoda Raja Salman—Arab Saudi kini memasuki babak baru dalam membangun keseimbangan hubungan politik, ekonomi, dan budaya. Babak baru itu ditandai upaya Arab Saudi menancapkan kaki hubungan diplomatik dengan Barat dan Timur secara seimbang. Akan tetapi aplikasi di lapangan dan kalau flash back pada sejarah, orientasi Arab Saudi di berbagai bidang selalu mengacu ke Barat, khususnya Amerika Serikat. Sebaliknya, Arab Saudi selalu melihat Timur dengan sebelah mata. Maka dari itu, selama 10 tahun terakhir ini Arab Saudi lambat laun mulai melirik ke Timur berkat kemajuan ekonomi yang pesat di Asia Timur dan tenggara. Laiknya Cina, Jepang, Singapura, dan Indonesia.

Saat ini sangat sulit bagi Arab Saudi menjadikan Amerika sebagai main reference. Selain karena sifat demagog Donald Trump terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Timur Tengah dan dunia islam, masalah kawasan yang sampai saat ini masih menebali langit Timur Tengah akibat konflik tak berkesudahan. Fakta lain, sebanyak 34 aliansi militer di bawah komando Riyadh tampaknya belum ampuh menggoyahkan pemerintahan Basyar al-Assad yang dibekingi Iran dan promotornya. Di Irak pun Saudi sudah tidak lagi diperhitungkan.

Apalagi ketika ancaman eksternal kian mengungkung Arab Saudi dari berbagi sisi, kekuatan Syiah dan wahabisme misalnya. Negara itu memang sudah terkepung dengan kekuatan Syiah. Di Timur, berhadapan dengan Iran yang berbasis pusat Syiah terbesar. Di Utara, Saudi harus menghadapi kenyataan pahit, negeri yang dulu dipimpin Sunni, lalu dikuasai Syiah. Di selatan, Yaman Utara (Sha’adah dan sekitarnya) juga dikuasai Syiah dibawah kombatan Houthi.

Babak baru tersebut bisa dilihat dari lawatan panjang Raja Salaman ke sejumlah negara-negara Asia selama satu bulan, dari akhir Februari hingga akhir Maret. Bahkan untuk hiburan pun Raja Salman melirik ke Timur, yakni Pulau Bali dan Maladewa. Di Bali, Raja Salman dan rombongan akan menghabiskan waktu sekitar 6 hari, 4-9 Maret ini. Mengapa demikian?. Mengapa seorang raja dengan hukum islam yang sangat ketat, malah berlibur ke Bali?. Menurut Abdul Muta’ali: Begitu cerdiknya Raja Salman membangun dialektika logika global. Ketika ada gerakan terorisme dan radikalisme di dunia internaional akar genealoginya berasal dari paham literal dan puritan, Saudi ingin mengatakan kepada dunia, kami bangsa yang sangat human.

Harapan

Angin perubahan Arab Saudi sudah terekam jelas saat Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi melakukan kunjungan kehormatan pertama kali kepada Raja Salman di Jeddah, Mei 2015. Dalam pertemuan itu, Raja Salman menegaskan keinginannya memperkuat kembali hubungan bilateral dengan negara-negara Islam. “On the top of the list is Indonesia (nomor satu dalam daftar itu adalah Indonesia),” tangkas Raja Salman ketika itu.

Di tengah huru-hara konflik di Timur Tengah dan tidak menentunya Barat, Indonesia berpeluang untuk merangkul kerekatan-keretakan dunia islam secara mondial. Islam Indonesia yang moderat, Indonesia yang bisa bergaul baik dengan negara-negara Sunni dan negara-negara Syiah. Apalagi ditopang dengan kematangan demokrasi Indonesia yang cukup, dan dipungkasi perekonomiannya relatif stabil menjadi komponen eksoterik yang harus dikumandangkan.

Primordialisme kunjungan Rasa Salman ke Indonesia semoga saja tidak hambar. Karena tidak ada kerja sama atau pertemuan khusus antara pihak kerajaan dan pimpinan Ormas Islam serta para ulama. Dan yang juga luput dari perhatian dan terasa sepi dari pemberitaan adalah perlindungan bagi perempuan pekerja migran Indonesia di Arab Saudi. Karena saat ini berdasarkan catatan Migrant Care, ada 40 perempuan pekerja migran terancam hukuman mati di Arab Saudi. Perlindungan bagi perempuan dan kerja migran tersebut tidak disebut di dalam 10 nota kesepahaman yang akan ditandatangani Presiden Joko Widodo dan Raja Salman. Dan yang paling urgent Saatnya semua komponen bangsa kedua negara sama-sama mengambil peran untuk saling mengisi. Ahlan wa Sahlan fi Indonesia, Ya Raja Salman.

*Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

SerikatNews.com adalah portal media Online, sebagai wadah media kritis anak bangsa yang menerjemahkan visi, mencerahkan itu sebagai keharusan, menyajikan tulisan-tulisan jernih dan transfomatif. SerikatNews.com merupakan media yang menyajikan berita-berita yang terpercaya sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Media SerikatNews.com bergerak diranah kampus bermaksud untuk membangun secara kolektif nalar kritis mahasiswa yang hari ini sudah banyak terkoptasi dengan dunia hedonisme. SerikatNews.com tidak memihak terhadap kepentingan satu golongan baik ras, suku, partai politik bahkan agama! Salam Tim Redaksi SerikatNews.com.

Copyright © 2017 Serikatnews.com - All Rights Recerved

To Top