Anies Baswedan Ingkar Janji Kepentingan Buruh, disebut “Bapak Pembohong”

420
Sumber Foto Istimewa

SERIKATNEWS.COM- Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia atau KSPI Said Iqbal menanggapi soal keputusan gubernur DKI terkait penetapan UMP 2018. Anies-Sandi berbohong serta mengingkari janjinya sendiri dalam kontrak politik yang mereka berdua tanda tangani secara resmi dengan para buruh yang bergabung di Koalisi Buruh Jakarta

Said Iqbal, menyatakan kekecewaannya saat menanggapi keputusan gubernur DKI terkait penetapan UMP 2018. Ia dan KSPI nya yang merupakan pendukung Prabowo pada pilpres 2014 yang lalu, bahkan menyatakan Ahok jauh lebih berani dan ksatria daripada Anies

Kecaman Gerindra melalui KSPI tersebut dapat dimaknai sbg sebuah “teguran” kepada gubernur yang mereka usung dalam pilgub 2017 yang lalu itu. Selain itu di sisi lain, Gerindra juga nampaknya cukup gusar dengan pemberitaan hasil polling beberapa lembaga survey yang menyebut nama Anies sebagai salah satu nama calon presien 2019.

Jauh sebelumnya diberitakan sejumlah media, ketika Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengundurkan diri dari Gerindra, Fadli Zon menyatakan bahwa mereka kecolongan. Sebelumnya, jurus superioritas kader partai dilancarkan oleh Taufik, sehingga mereka kerap terlibat adu mulut. Tak dinyana, Ahok akhirnya mengirimkan surat pengunduran ke DPP Partai Gerindra.

Perasaan kecolongan karena telah membesarkan anak macan mungkin juga dirasakan ketika Jokowi menjadi calon presiden yang akhirnya mengalahkan Prabowo.

Pengalaman-pengalaman inilah yang membuat Prabowo merasa khawatir kalau-kalau Anies juga akan menyimpang dari komitmen mereka untuk memerintah selama lima tahun sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Sebagaima diberitakan oleh Warta Kota mengutip Prabowo mengatakan bahwa banyak kandidat memberikan janji dan komitmen demi diusung partai politik namun tak melaksanakan komitmen itu, setelah terpilih.

“Lu mau lihat calon yang baru menang, manut-manut-nya diatur, ngangguknya dia. Saya was-was, gue was-was begitu lu menang. Lu kalah gue enggak was-was,” ujar Prabowo dalam syukuran kemenangan Anies di  Museum Bank Indonesia, Jumat (5/5/2017) lalu.

Baca Juga:  Film G30S PKI untuk Apa Diputar Lagi?

Tampaknya memang ada cukup alasan untuk membuat Prabowo cemas. Gerindra dengan tegas berkali-kali mengatakan akan kembali mengusung sang ketum, Prabowo Subianto di Pilpres 2019.

“Semua jajaran Gerindra tak satupun yang tidak meminta Pak Prabowo maju. Kader Gerindra, kami semua hanya menyebut Prabowo (untuk Capres 2019),” kata Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani, di Gedung DPR RI, Selasa (24/10/2017).

Itu sebabnya, publik tak heran ketika elite-elite Gerindra tampak menafikan kemungkinan Anies masuk radar pilpres. “Pak Anies jadi Gubernur Jakarta sampai lima tahun yang akan datang. Sudah, Anies gubernur Jakarta jadi jangan berandai-andai ya,” kata Muzani.

Sebelumnya, Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria juga menyebut Gerindra menginginkan Anies bisa menyelesaikan amanahnya di Jakarta selama 5 tahun.

Perlu diketahui, bahwa nama Anies muncul di survei Pilpres yang digelar oleh Polmark. Dalam survei Polmark, Anies meraup angka 2,2 persen jika Pilpres digelar hari ini. Bahkan, sosok yang diberhentikan dari Mendikbud di era presiden Joko Widodo ini diprediksi bisa melejit dibandingkan Prabowo jika mampu mengelola citra baik.

Peneliti Populi Center Rafif Pamenang Imawan berpendapat masyarakat DKI yang memilih pasangan Anies justru melihat faktor figur Anies yang lebih kuat dibandingkan Prabowo.

“Elektabilitas tak berpengaruh pada siapa elit yang mengusung politisi tersebut di Pilkada. Yang kerja Anies, harusnya Anies naik elektabilitasnya, bukan malah elektabilitas Prabowo yang naik,” tandasnya.

Diduga kuat hal itulah yang membuat Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal melancarkan kecaman keras kepada Anies.

“Ternyata Ahok jauh lebih berani dan ksatria dalam memutuskan UMP pada waktu itu ketimbang Anies Baswedan yang lebih mengumbar janji,” kata Said dalam keterangan tertulis, Kamis (2/11/2017).

Baca Juga:  TARIAN KEDAMAIAN

Anies pernah menandatangani kontrak politik dengan buruh saat kampanye Pilkada DKI 2017. Dalam kontrak politik itu disebut-sebut ada kesepakatan agar Anies-Sandi tidak menetapkan UMP dengan dasar PP No 78.

“Kemudian berbohong serta mengingkari janjinya sendiri dalam kontrak politik yang mereka berdua tanda tangani secara resmi dengan para buruh yang bergabung di Koalisi Buruh Jakarta,” ujar Iqbal.

Setelah kecaman sengit dari loyalis Prabowo tersebut, tak kurang seorang Waketum Gerindra, Arief Poyuono, juga menimpali. Bahkan tanpa tedeng aling-aling, Poyuono menuding Anies telah melanggar PP Nomor 78/2015 tentang pengupahan. “Saat kampanye mendapatkan dukungan dari kaum buruh Jakarta dengan menandatangani kontrak politik,” ujar Poyuono, Kamis (2/11).

Perubahan sikap Gerindra yang demikian cepat ini ditengarai sebagai jurus antisipasi mengendalikan anak macannya.  Sementara itu, para pendukung Prabowo di akar rumput pun mulai gelisah mendengar Anies memiliki tim yang menargetkan jadi RI 1, setelah DKI 1.

Lalu pertanyaannya, apakah Anies, setelah Berhasil meraih kursi gubernur, akan meninggalkan Prabowo demi memenuhi nafsu kekuasaan yang lebih tinggi? (Rendy/ berbagai sumber)