Antara Ustadz Abdul Somad dan Kita 

1025

Jangan terlalu berlebihan menyikapi Ustadz Abdul Shomad, Insha Allah beliau itu murni ulama dan bukan politisi yang menyamar sebagai ulama. Jika ada perbedaan pemikiran dengan Ustadz Shomad, sikapi beliau dengan sewajarnya tidak perlu emosional dan membully beliau di medsos. Sebagai manusia yang berpikir, tentu orang lain tidak akan bisa selamanya 100% sama percis dengan apa yang kita pikirkan atau inginkan. Apabila ditemukan beberapa pandangan yang berbeda dengan kita itu sangat manusiawi.

Terlepas dari beberapa perbedaan pemikiran antara kita dan Ustadz Abdul Shomad, bagi saya Ustadz Shomad masih sangat menjaga dengan baik akhlaknya. Beliau tidak pernah ceramah dengan mengumbar kata-kata jorok, vulgar seperti danc*k, matamu picek, anjing, babi kutil dlsb. seperti mereka yang membakar sentimen SARA dan menjadi ulama dadakan. Ustadz Abdul Shomad masih on the track, meski terlihat penuh semangat dan meledak-ledak dalam berbagai ceramahnya. Beliaupun memulai dakwahnya dari bawah, tidak tiba-tiba jadi mubaligh yang populer dan berpengaruh.

Ustadz Abdul Shomad juga bukan kader dari Partai Politik konstentan Pemilu, juga bukan calon Kepala Daerah atau calon Presiden/Wapres. Beliau murni mubaligh Islam yang lahir dari pelosok daerah dan berdakwah sesuai dengan visi dan misinya sendiri. Beliau juga gentle dalam menyampaikan setiap pemikirannya dan jauh dari kesan pencitraan, tidak seperti ulama-ulama dadakan yang ilmu agamanya dangkal tapi lebih banyak menonjolkan pencitraan. Yang tidak mimpin demo dengan bersurban dan naik kuda seperti Pangeran Dipinegoro dengan kawalan asisten pribadinya, yang tidak mimpin demo dengan naik mobil Toyota Rubicon keluaran terbaru dengan pagar betis para pengawalnya, Ustadz Abdul Shomad biasa-biasa saja, pakai sarung, berkopiah hitam dan shal kecil di pundaknya. Beliau benar-benar Uatadz yang sangat sederhana, bersahaja namun –sekali lagi di luar perbedaan kita dengannya– pikiran-pikiran dan orasinya Ustadz Abdul Shomad luar biasa.

Baca Juga:  Istana, Benda Seni dan Ruang Budaya

Memang ada dari beberapa ceramah Ustadz Abdul Shomad yang condong pada ideologi politik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), condong pada Front Pembela Islam (FPI), menyudut-nyudutkan Presiden Jokowi, menghina etnis keturunan China dlsb. tapi percayalah bahwa jika semua itu kita teliti, apa yang dikatakan Ustadz Abdul Shomad itu hanyalah semata karena beliau terbawa oleh suasana politik kebangsaan yang saat ini terbelah dua. Beliau nampaknya melihat orang-orang yang selama ini mengelilingi dakwahnya, adalah orang-orang yang banyak beraktivitas di organisasi-organisasi itu, di perkumpulan aksi-aksi itu, sementara orang-orang nasionalis moderat seperti kita nyaris tak pernah mendekatinya, bahkan yang ada malah mencemo’ohnya, membullynya. Oleh karena lingkungan pergaulan Ustadz Shomad yang demikianlah maka karakter dakwahnya seperti itu. Lalu kalau sudah seperti itu siapa yang salah, beliau ataukah kita?…

Berikutnya, selain karena faktor lingkungan pergaulan Ustadz Abdul Shomad yang lebih banyak didominasi oleh kelompok ekstrim, nampaknya buku-buku atau kitab-kitab literasi Ustadz Abdul Shomad juga nyaris 100% merupakan karya ulama-ulama Timur Tengah klasik yang sangat tepat untuk zamannya, dan bila hal itu diterapkan untuk konteks Indonesia kekinian sepertinya masih perlu sekali untuk lebih banyak didialogkan. Bukankah pemikiran sebagaimana hukum itu dapat berubah mengikuti gejala sosial masyarakatnya? Pemikiran sebagaimana hukum yang saya maksudkan disini bukanlah dalam ranah ritual seperti Ibadah Maghdhah dalam terminologi Fiqh Islam, yakni aktivitas ibadah yang sudah ditentukan syarat dan rukunnya serta keberadaannya harus berdasarkan dalil/perintah yang jelas dan tegas, melainkan Ghairu Maghdhah atau umum, yakni segala amalan yang diizinkan oleh Allah serta keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang seperti seni berdakwah, bernegara dlsb.

Kitab-kitab literasi atau bacaan Ustadz Abdul Shomad yang didominasi oleh para ulama Timur Tengah itu harusnya diimbangi pula dengan buku-buku pemikir modern entah itu yang datang dari Barat ataupun Timur, dan ini sebetulnya sangat berguna sekali untuk dapat memahami lebih jelas terhadap dinamika pemikiran dan kehidupan masyarakat dunia kontemporer. Sesekali Ustadz Shomad memang pernah menyinggung karya pemikir Barat semisal Karen Amstrong, tetapi beliau hanya mengatakan judul bukunya saja namun tidak pernah mengupas isinya secara mendalam. Karena kesenjangan sumber literasi atau bahan bacaan Ustadz Shomad inilah yang saya pikir menjadikan pula beliau sebagai pemikir yang tidak berimbang, berat sebelah, dan karena ini pula Ustadz Abdul Shomad nampak kurang arif dan bijaksana dalam merespon situasi kenegaraan atau kebangsaan yang saat ini persoalannya menguras energi dan emosi kita semua. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari persoalan ini. Wallahu a’lamu bishawab.