Aspirasi untuk Sulawesi Tenggara

359

Saya adalah anak Sulawesi tenggara, dokter yang sedang belajar di program pendidikan dokter spesialis Ilmu Bedah Saraf. Dalam 4 tahun ke depan saya akan kembali ke daerah saya, mengembangkan ilmu bedah saraf yang saya pelajari, membantu masyarakat yang memerlukan. Saya memiliki visi membawa perubahan dalam bidang pelayanan kesehatan khususnya dalam bidang Bedah saraf. Angka kematian pasien cedera kepala akan saya turunkan. Pasien hydrocephalus yang belum dapat mengakses pengobatan akan saya selamatkan. Serta penyakit-penyakit bedah saraf lainnya yang selama ini belum bisa diterapi di Sulawesi tenggara.

Hal yang menyedihkan adalah saat menjalankan kuliah, Sulawesi selalu dianggap sebelah mata. Saat teman saya mengatakan berasal dari wilayah Sumatra maka mereka otomatis dianggap sepadan. Namun sebaliknya, jika saya mengatakan berasal dari Sulawesi maka orang akan menanyakan apakah disana ada mall? Apakah ada lampu? Apakah ada bioskop? Universitas yang ada disana apa? Sebenarnya pertanyaan itu adalah pertanyaan polos. Namun secara tidak langsung menganggap sepele daerah kita, daerah tempat kelahiran kita.

Dibandingkan dengan daerah Sulawesi yang lain, perkembangan Sulawesi tenggara masih cukup jauh tertinggal. Perkembangan Sulawesi selatan sangat pesat. Rumah sakit bertaraf internasional, gedung-gedung besar, jalan yang macet, industry, tambang, pertanian dan usaha-usaha lainnya adalah bukti nyata perkembangan daerah. Sulawesi utara yang terkenal dengan taman laut bunakennya juga tidak kalah jauh. Rumah sakit yang dimiliki adalah rumah sakit tipe A dan merupakan pusat rujukan nasional. Sulawesi tengah bahkan kini memiliki 2 fakultas kedokteran. Sulawesi tenggara yang berumur tidak jauh dari mereka masih belum ada apa-apanya.

Saat orang-orang di Jawa berpikir tentang persaingan dunia internasional, dikampung kita saat ini masih banyak orang yang memikirkan bagaimana cara untuk bertahan hidup, bagaimana cara untuk mencari makan, miris bukan. Saya sedih. Saya merasa bahwa perkembangan Sulawesi tenggara tidak lepas dari lemahnya sumberdaya manusia yang memimpin tanah kelahiran kita Sulawesi tenggara. Budaya korupsi yang dianggap biasa-biasa saja, malah kelihatan hebat, pembangunan infrastruktur yang terbatas, pengelolaan tambang yang masih simpangsiur adalah bukti ketidak mapanan kita. Imbasnya adalah saudara-saudara kita yang kesulitan mencari pekerjaan, kesulitan mendapatkan sekolah yang layak. Padahal besar harapan saya warga Sulawesi tenggara mendapatkan pendidikan yang tinggi.

Baca Juga:  Bibit-bibit Keretakan Mulai Terbuka

Untuk mengembangkan Sulawesi tenggara, saya tidak ingin sendiri. Saya ingin memiliki teman yang juga sukses dalam bidangnya. Dalam bidang teknik, dalam bidang social, dalam bidang politik, budaya dan ekonomi. Saya ingin memiliki teman yang memiliki visi yang sama, membangun Sulawesi tenggara.

Saya yakin, kerja sama yang selaras, efektif, efisien dan berkesinambungan akan mempercepat pembangunan di tanah kelahiran kita Sulawesi Tenggara.
Yang akan mejadi pertanyaan, siapakah orang-orang itu? Mereka adalah anak-anak muda yang memiliki wawasan luas, pendidikan tinggi, militan, dan memiliki kemampuan untuk membuat perubahan. Faham feodal, angkuh dengan kebodohan, menghalalkan korupsi, bangga dengan moral yang buruk seperti judi dan minum minuman keras, pamrih, keinginan memperkaya diri sendiri harus dihapuskan dari diri-diri para stake holder kita kelak.

Sudah saatnya pemuda-pemuda Sulawesi tenggara, memiliki pengetahuan mumpuni, pendidikan yang tinggi dan membawa perubahan pada Sulawesi tenggara. Paham premanisme dan kebodohan harus dihapuskan. Selanjutnya Sulawesi tenggara yang disegani dan dapat dibanggakan kepada seluruh masyarakat Indonesia di daerah lain dapat terwujud.

Semoga keluarga-keluarga kita yang saat ini merasakan keterbatasan, kesulitan untuk menempuh pendidikan tinggi dan belum merasakan kemerdekaan seutuhnya dapat merasakan perubahan yang kelak akan kita lahirkan.

Perubahan yang kita buat, akan menjadi patokan yang membuka mata masyarakat Sulawesi Tenggara saat ini dan menurun ke anak cucu kita. Tidak ada tanah terindah melainkan tanah kelahiran kita. Tanah tempat ayah ibu kita hidup dan menginjakkan kakinya.

Dokter TKHI (Tenaga Kesehatan Haji Indonesia), Sekretaris non edukatif Bagian Anak RSUDP Kendari, Ketua Subkomite Pasien savety RSUDP Bahteramas