Batik Bidadari 

231

: Yuditeha

Aku mandi di kali, kau adalah airnya.
Kau adalah mula sekaligus akhir.
Kau adalah segala.

Kain yang kau kenakan, aku rasa tenunan
langit. yang sempit, sexy, sexy sekali.
Aku masih di Bumi, (masih) mandi. Kau sudah terbang.
Sudah tinggi. Sudah hilang.

Aku bertanya pada langit, “pernahkah melihat bidadari
yang sexy, yang pahanya seperti Indonesia, manis budaya?”
Langit diam. Tetap saja diam. Hingga, aku jawab tanyaku sendiri,
“Paha seorang gadis tercebur ke dalam kain. Kain yang sexy.
Kain yang kau temui saat mandi pagi, di kali, dan tentu saja,
Kau sedang telanjang. Air adalah mulanya.”

aku atau kau yang sedang telanjang

aku atau kau yang sedang telanjang, “ kata langit
meniru langit, aku diam, tetap saja diam. Bidadari keluar
dari kali. Bidadari itu lompat ke langit dengan pelan, terdengar
sebuah puisi yang makin lama, makin kehilangan bunyi,
“Rajinlah mandi pagi. Dan kau akan mendapat ganjarannya.
Bidadari sexy, dan paha yang seperti Indonesia.

Padang, 18 Januari 2017, 10:33 WIB

 

 

Bekerja dan Menetap di Padangpariaman. Puisinya Tersebar di beberapa Media Nasional

Baca Juga:  Puisi- Puisi Faris Al Faisal