Bayangkan Dunia Tanpa Kebebasan Pers

278

Bersama organisasi tempat saya berhimpun, Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta, saya melihat bagaimana kawan-kawan saya bertahan atas serangan kebebasan pers dan berekspresi. Kami seringkali didatangi gerombolan pembenci atas apa yang kami suarakan. Beragam intimidasi datang. Kami mengalami persekusi. Tentu saja, kami tetap bertahan dan banyak jaringan aktivis pro-demokrasi yang membantu.

Mungkin organisasi profesi ini bukan yang paling baik dan sempurna, tapi saya bersyukur bisa bergabung dengan organisasi yang setidaknya berusaha keras menjaga dan menjalankan kode etik jurnalistik.

Ilustrasi Wartawan | Foto: Istimewa

Tiga pilar yang AJI suarakan: kebebasan pers, profesionalisme jurnalis, dan kesejahteraan jurnalis.

Pengalaman personal:

Suatu hari, tak ada seorang pun perempuan. Di antara kerumunan, semua lelaki memandangi saya penuh curiga. Berusaha bertahan, saya melihat persengkokongkolan jahat yang berdampak pada kerusakan lingkungan. Sedih melihat mereka yang tak sanggup bersuara.

Tahun 2015, di negara dengan sejarah militer yang kuat, dilanda konflik etnis, saya was-was. Bisa saja saya dideportasi. Saya dan sejumlah jurnalis bertahan dan bisa keluar dari sana dengan selamat. Ternyata tak sengeri yang saya bayangkan sebelumnya. SEAPA (Southeast Asian Press Alliance) membantu kami menuliskan cerita pemilu di Myanmar.

Baca Juga: Pearl S. Buck, Feminis Penjelajah Tradisi Timur dan Barat

Di negeri antah berantah, Arequipa, Peru, Amerika Latin saya merasa sendirian. 2014, demi cerita tentang museum peraih Nobel Sastra, Mario Vargas Llosa saya memberanikan diri ke Arequipa seorang diri. Saya ndredeg karena banyak yang cerita di situ nggak aman. Kejahatan mengintai di jalanan. Di sekeliling, saya melihat banyak rumah dan toko yang dengan gembok dan rantai berukuran besar. Beruntung seorang teman yang bekerja di Arequipa dengan baik hati membantu. Tentu saja tidak lepas dari bantuan Kedutaan Besar Indonesia di Peru.

Baca Juga:  Ayo dukung gerakan tagar #IndonesiaPositif

Suatu hari, di pojok bangunan penuh corat coret cat, seseorang mengancam. Ia yang penuh amarah hendak mencekik leher tipis ini. Intimidasi verbal terus dilancarkan. “Saya bisa membenamkan linggis pada kepala anda setiap saat,” kata dia.

Siang yang terik, suatu sore di tempat yang berbeda. Dalam suatu wawancara, seseorang menyerang identitas pribadi. “Anda tak berjilbab dan tak pantas jadi muslim,” kata dia sembari berceramah.

Saya tak kuasa melihat pemaksaan atas nama identitas agama. Tetap bertahan dan dingin menceritakannya. Tentu saja setelahnya berita kami diprotes.

Suatu malam, segerombolan lelaki berhelm mengintimidasi:memotret dan meminta agar tak menulis kekerasan dalam pembubaran acara. Di sana, saya mendengar anak-anak menangis ketakutan.

Baca Juga: Monster dan Pemberontak Keluarga

Suatu waktu, di antara kerumunan “pengeroyok” di media sosial ada hujatan, cacian, olokan, sindiran terhadap protes penggunaan duit pelesiran pemerintah. “Anda sok-sokan. Tak tahu diri,” kata mereka.

Apakah saya membenci mereka? Tidak sama sekali.

Panas yang terik. Saya bertemu dengan sejumlah perempuan buruh migran di desa-desa yang menderita karena menjadi korban perdagangan manusia. Mereka dibohongi, tak mendapat kesempatan mengerti aturan perlindungan kerja. Mereka terpaksa bekerja demi bertahan hidup.

Di awal bertemu pekerjaan ini, seorang pejabat menyogok duit. Dia rutin menggelar jumpa pers, menyelipkan duit, dan meminta tanda tangan. Saya tolak. Duit saya kembalikan. “Mengapa anda kembalikan? Ini bukan sogokan cuma duit pengganti transportasi,” kata si pejabat.

Saya tak bisa terima. Itu mengganggu independensi saya dalam bekerja, saya jelaskan begitu.

Sekelumit cerita itu memang nggak ada apa-apanya dengan jurnalis yang pernah meliput di wilayah konflik bersenjata, perang, dan liputan lain yang lebih berat. Trauma pasti ada. Saya menaruh hormat buat mereka yang terus punya nyali menulis cerita-cerita kemanusiaan. Seringkali saya merenung, ini pekerjaan apa sih sebenarnya. Ada banyak risiko di sana. Kehidupan macam apa sih yang saya jalani ini. Mau sampai kapan? Saya nggak tahu.
Ya sudah dijalani saja.

Baca Juga:  Yenti Garnasih

Maafkan kenarsisan saya yang amat menyebalkan karena ini sedikit pengalaman pribadi.

Selamat hari Kebebasan Pers Sedunia, 3 Mei 2018.

It’s Time for Truth
It’s Time for Press Freedom

 

Aktif menulis di Tempo, AJI Yogyakarta, Vice, dan ragam isu lainnya. Meliput pemilu di Myanmar (2015), Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations Framework Convention on Climate Change) di Peru, Amerika Latin (2014).