Beda Antara Memotivasi dan Memprovokasi

312

Entah apa yang ada di pikiran mereka yang sudah antipati terhadap sosok Presiden Jokowi, hingga apapun yang keluar dari ucapan Jokowi selalu dipersoalkan. Kali ini mereka mulai ramai-ramai mempersoalkan ucapan Presiden Jokowi dalam pidatonya di hadapan ribuan relawan pendukung Jokowi, di Sentul Bogor 4 Agustus 2018 yang lalu. Tak tanggung-tanggung pula ada komunitas yang melaporkan Jokowi pada 4 Lembaga Negara (KPU, Bawaslu, Polri dan Komnas HAM).

Jika kita amati pidato Jokowi saat itu tidak ada salahnya, karena Jokowi mewanti-wanti para relawan pendukungnya untuk tidak gemar membangun permusuhan, tidak gemar membangun kebencian, tidak gemar mencela, menjelek-jelekkan orang lain, memfitnah dan mengakhirinya dengan kata-kata,”kalau diajak berantem ya harus berani”. Kalimat terakhir itu jika orang mau jujur atau obyektif menilainya, bukanlah kalimat provokatif melainkan motivatif, atau memotivasi para relawan pendukungnya untuk jadi orang-orang pemberani. Berani dalam hal apa? Ya tentunya berani menghadapi para pencela, pemfitnah dengan berbagai argumentasi yang rasional. Lalu dimana letak salahnya? Tidak ada bukan?.

Baca Juga: Sebar Berita Bohong, Pesantren Al Munawwir Minta JPNN Menarik Beritanya

Bandingkan ucapan Jokowi itu dengan ucapan-ucapan sarkasme kubu sebelah, yang sedikit-sedikit mengatakan Pemerintahan Thoghut, kafir, anti Islam, suka mengkriminalisasi ulama, Jokowi PKI, antek asing dan aseng dlsb. Sangat jauh sekali dengan ucapan-ucapan Jokowi yang selalu lembut, mendidik, mendamaikan dan sangat bermartabat. Namun memang begitulah watak kubu sebelah yang selalu berbicara tidak berdasarkan nalar sehat dan kebeningan hatinya, hingga yang keluar dari mulutnya sangat sarat dengan kebencian, permusuhan, provokatif dan membodohkan para pengikutnya. Seperti tidak tersisa sedikitpun rasa tanggung jawab moral dalam dirinya untuk menjaga perasaan saudara-saudara sebangsanya, juga para pendukung atau simpatisan Jokowi musuh politiknya. Bagi mereka yang penting puas dan puas setelah memuntahkan seluruh amarah dan kebenciannya di muka umum.

Baca Juga:  Peta Mesin Politik Golkar

Jokowi diakui atau tidak, beliau merupakan pribadi yang sangat sabar atau sangat pandai menahan diri. Dihina dan dicaci maki seperti apapun Jokowi belum pernah sekalipun memerintahkan para pendukungnya, terlebih pada para pejabat di institusi kepolisian untuk menangkap atau “menghabisi” mereka yang memfitnah dan mencaci makinya. Padahal Jokowi itu Pemimpin Tertinggi dari TNI dan Polri. Kalau saja yang mereka fitnah dan caci maki itu bukan Jokowi melainkan Soeharto, maka mereka sudah akan diculik dan dihabisi Prabowo seperti di tahun 1997.

Mereka harusnya tau para pendukung Jokowi itu banyak dari kalangan aktivis militan ’98, jumlahnya ribuan. Apa mereka pikir jika orang seperti kami diperintahkan oleh Jokowi untuk menyikat habis mereka kami tidak siap? Apa mereka pikir kalau Jokowi memerintahkan para jenderal militer loyalisnya untuk menyikat habis para pemfitnahnya, mereka tidak siap? Kami sesungguhnya sangat siap untuk melaksanakan itu, namun hal itu sangatlah mustahil kami lakukan, sebab Jokowi mempunyai kepribadian yang sangat dewasa, bijak dan matang, yang sangat tidak mungkin memberikan instruksi pada kami secara sembarangan.

Jadi, sudahlah…kembalilah pada nalar sehat kalian. Jangan lagi terus memancing keributan sebab negeri ini sudah mulai kembali ditata dengan baik setelah berpuluh tahun absen dari pembangunan. Ya pembangunan, baik itu pembangunan karakter bangsa maupun pembangunan fisik berupa infra struktur negara dlsb. Kalau mau berkontestansi politik ya berkontestansilah secara bermartabat, jangan asal mau menang Pemilu lalu semua orang yang beda pilihan politik disikat. Jangan karena ingin menang Pemilu atau Pilpres lalu sentimen agama dan ras dikobarkan. Jangan karena takut kalah dengan Jokowi lalu pidatonya dipersoalkan.

Memotivasi beda dengan memprovokasi Bung ! Memotivasi itu seperti membangunkan yang lemah untuk bisa berdiri, memprovokasi itu seperti Neno Warisman membangunkan gairah Mardani Ali Sera. Membangunkan gairah mengobarkan Daulah Khilafah untuk mengganti Pancasila maksudnya. Yang pertama tidak melanggar Konstitusi yang kedua melanggar konstitusi, karena itu termasuk perbuatan makar yang pelakunya dapat dipidana ! Saya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat HARIMAU JOKOWI tidak rela apabila Jokowi dilecehkan, sebab Jokowi bukan hanya pemimpin kami, melainkan juga Presiden Indonesia ! Sebelum kalian bermain api dengan Jokowi, kalian akan berhadapan dengan kami.