Berhijab Dalam Pandangan Bung Karno

98

Kaum perempuan muslimat Indonesia sedang ngetrend dengan penggunaan hijab atau berhijab. Termasuk di kalangan para artis. Mereka biasanya berpakaian “buka-bukaan”, sekarang di kalangan mereka mulai banyak “berhijrah” dengan menggunakan hijab. Mereka menamai dirinya sebagai kaum hijaber.

Fenome itu menandai bahwa berhijab bukan hanya menjadi kewajiban syariat tetapi sudah menjadi bagian dari fashion dan industry fashion. Apakah Islam memang mewajibkan umat muslimat mengenakan hijab?

Bung Karno mengatakan bahwa tidak ada ketentuan Islam yang mewajibkan untuk menggunakan tabir atau hijab. Sebaliknya para ulama ahli fiqih mengatakan bahwa ketentuan berhijab atau menggunakan tabir (kerudung) diatur dalam ketentuan fiqih menjadi kewajiban setiap perempuan muslim untuk menjaga aurat.

Tentu saja Bung Karno menilai bahwa masyarakat muslim adalah masyarakat yang tidak dapat melepaskan diri dari ketentuan-ketentuan fiqih. Bahkan Bung Karno menyatakan bahwa masyarkat muslim adalah masyarakat berfiqih. Tapi apakah berhija itu merupakan kewajiban syar’i? Bung Karno menyatakan itu tidak ada ketentuannya. Bahkan dia mengatakan penggunaaan tabir atau hijab itu merupakan warisan kolot masyarakat kolot. Oleh karena itu fiqih berkaitan dengan tabir atau hijab tidak boleh tunduk pada praktek-praktek kolot masyarakat seperti itu.

Karena dalam kehidupan masyarakat bukan berarti fiqih itu harus statis terutama fiqih berkaitan dengan kemasyarakatan (muamalah), fiqih mesti berwatak danamais atau seperti “karet” kata Bung Karno sehingga dapat menyesuaikan dengan dinamika kehidupan sosial. Kecuali ketentuan-ketentuan fiqih yang bersifat qoth’i seperti sholat berifat given artinya umat Islam tinggal terima menjalankan saja, karena sudah ada ketentuan yang pasti.

Pandangan Bung Karno seperti diatas tentu saja mendapat kritikan tajam dari para ulama terutama dari kalangan nahdliyin. Sehingga antara dia dan kiai NU terjadi perdebatan. Misalnya perdebatan cukup hangat antara Bung Karno dengan kiai-kiai itu berkaitan kasus “merobek tabir”. Bagi dia merobek tabir itu merupakan sebuah tindakan yang tidak melanggar aturan fiqih. Alasannya bahwa bahwa “tabir” itu sudah tidak zamannya lagi digunakan oleh umat Islam karena menggambarkan masyarakat statis.

Baca Juga:  POLITIK DAN SENI KEMUNGKINAN

Dalam dinamika hukum kemasyarakat (hukum-hukum sosial) kata Bung Karno, tabir itu merupakan praktek adat kolot warisan dari masyarakat yang sudah tua. Sehingga dalam kasus tabir ini, dia berpendapat fiqih sebagai bergerak statis tidak dinamis dalam menghadapi perkembangan zaman. (Sukarno: DBR I, h. 399). Bahkan dia menegaskan bahwa “tabir” sebagai simbul dari masyarakat perbudakan peninggalan masa lalu. Oleeh karena itu tidak sesuai dengan zaman yang sudah berkembang maju.

Tentu saja pendapat Bung Karno itu mendapat reaksi kritik dari para kiai NU yang sangat memahami ketentuan-ketentuan fiqih. KH. M. Dachlan mengkritik pendapat Bung Karno soal tabir itu. Kiai NU ini memandang tabir dari sudut pandangan ketentuan fiqih yang menjadi acuan di umat Islam Indonesia. Menurutnya, tabir sebagai kewajiban syariat bagi perempuan untuk melindungi kehormatan dirinya. Bagi Sang Kiai, tabir tidak ada kaitannya dengan simbul perbudakan seperti yang disampaikan Bung Karno. Ketentuan tabir itu justru untuk menjaga kehormatan kaum perempuan. Tabir berupaya menutup aurat bagi perempuan dengan menggunakan hijab (kudungan) batasnya tangan dan wajah untuk memelihara kehormatan, kesopanan, serta derajat kaum perempuan.. (H. M. Dachlan, BNO, 1 Maret 1939, h. 7/339). Jadi penggunaan kerudung atau hijab itu tidak maksud untuk menurunkan derajat apa lagi memperbudak kaum perempuan. Tujuannya supaya kaum perempuan dapat bergerak merdeka di ruang publik dengan tetap dapa menjaga kehormatan dirinya.

Tapi bagi Bung Karno mengatakan, tidak ada dalam hukum Islam kewajiban menggunakan tabir atau hijab. Islam hanya memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk menjaga kehormatan satu sama lainnya. Untuk tujuan substansi itu, kaum perempuan tidak perlu ber-tabir (mengunakan hijab), cukup kaum perempuan dan laki-laki menundukkan kepala dan menjaga hati ketika berhadapan satu sama lain. dalam hal ini Bung karno barangkali lebh menekankan ketenttuan tabir sebagai bagian dari etika dan moral (menempatkan ketentuan-ketenuan fiqih sebagai etik dan moral) yang sudah melekat pada setiap individu perempuan muslim. Oleh karena itu perempuan muslim tidak lagi perlu hijab/tabir dalam artian kain.

Baca Juga:  Angin Perubahan Arab Saudi

Oleh karena alasan itu, Bung Karno berpendapat bahwa penggunaan tabir (hijab) pada perempuan muslim itu merupakan adat kebiasaan kuno sebagai bentuk perbudakan kaum perempuan. Walaupun sebagai orang Timur Bung Karno menolak cara-cara pergaulan model Barat yang sudah dekaden tentang pergaulan perempuan. (Sukarno: DBR I, h. 350). Tetapi Bung Karno menilai bahwa menggunakan hijab atau tabir bagi perempuan tidak ada ketentuan kewajibannya dalam syariat, karena kebiasaan itu merupakan warisan masyarakat kuno. Jika sekiranya tujuannya tabir atau hijab itu untuk menjaga aurat, cukkup bagi perempuan menjaga hati dan menundukkan pandangan mata masing-masing agar terhindar dari godaan.

Namun sebaliknya para kiai tidak dapat menerima pendapat Bung Karno seperti itu. Bagi para kiai penggunaan tabir dan hijau itu tidak bermaksud untuk merdendahkan kaum perempuan, apa lagi sebagai simbul dari perbudakan masyarakat kuno. Karena soal tabir atau hijab itu merupakan ketentuan syariat Islam seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT melalui ayat suci Al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad SAW.

Tabir bagi kalangan kiai NU, tidak sama sekali bertujuan untuk memperbudak kaum perempuan seperti yang dikatakan Bung Karno, tetapi “busana” untuk memerdekakan kaum perempuan agar dapat bergerak leluasa di ruang publik dengan tetap menjaga aurat dan kesopanan. Sementara bentuk hijab/tabir, kaum perempuan dapat menyesuaikan dengan perkembangan adat, budaya, dan tradisi masyarakat setempat. Penggunakan hijab atau kerudung menurut KH. M. Dachlan dalam menjawab pandangan Bung Karno , itu diatur berdasarkan hadist Nabi SAW artinya: Apabila seoerang itu soedah datang bulannya (haid) yakni sudah aqil baligh, maka tidaklah patut mempertentonkan daripada badannya, kecuali ini dan ini…lalu Nabi menunjukkan muka dan tangannya. Artinya tidak ada perintah bercadar kan…, dalam masyarakat Melayu berkerudung sudah menjadi bagian kebudayaan.