Bibit-bibit Keretakan Mulai Terbuka

561
Anies Baswedan (ilustrasi)
Anies Baswedan (ilustrasi)

Oleh: Irsad Al- Falsabi

Keputusan gubernur DKI terkait penetapan UMP 2018, Provinsi DKI sebesar Rp 3,6 juta menimbulkan gejolak dan kekecewaan bagi serikat buruh. Siaran Pers Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) pimpinan Said Iqbal tertanggal 2 November 2017 lalu menyatakan mencabut dukungan dan melakukan perlawanan dengan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Bibit perpecahan pun mulai terbuka, terbukti KSPI menarik dukungannya, Padahal KSPI pendukung mereka dan pembawa pesan Prabowo dalam hal ini mengaku sudah mengantongi kontrak politik yang akan menetapkan Upah Minimum Propinsi (UMP) DKI lebih tinggi dari PP 78/2015.

Putusnya hubungan atau pecah kongsi antara Anies-Sandi dengan KSPI merupakan risk dari kompetisi persaingan terselubung antara ambisi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Anies baswedan yang juga berambisi ingin menjadi Presiden. Dengan abainya Anies terhadap kepentingan buruh, Anies tampak mulai “melawan” Gerindra yang menitipkan KSPI kepadanya. Hal ini akan menciptakan jarak bila saatnya nanti bersaing dalam kontestasi popularitas capres 2019.

Sebagaimana diketahui dalam survei popularitas calon presiden yang dilakukan oleh Roda Tiga Konsultan (RTK) dan Polmark, Anies berada diurutan ke 4 dengan persentase 2,2%. AHY urutan 3 dengan 2,9%. Prabowo urutan 2 dengan 21%. Joko Widodo urutan 1 dengan 41,2%.

Padahal baru beberapa hari menjabat sebagai Gubernur DKI, Anies dipredikai memiliki banyak kesempatan menaikkan popularitasnya melebihi Prabowo untuk menyingkirkannya dalam peta persaingan calon presiden mendatang.

Bagaimana tidak, bukankah Anies sekarang sudah memegang kursi kekuasaan? itu artinya mudah baginya menjadi populer dengan mengeluarkan kebijakan yang retoris populis dengan mengiming-imingi rakyat dengan omongan santunnya sama seperti waktu dia kampanye.

Sementara itu, Prabowo yang popularitasnya sudah menurun sampai di kisaran 21% diyakini akan semakin menurun. Sedangkan, mengenai AHY yang popularitasnya sedikit berada di atas Anies hanyalah masalah kecil.

Baca Juga:  Pancasila di Era Millenial

Jadi sekali lagi Anies Baswedan berpeluang besar mendegradasi Prabowo keluar dari persaingan survei popularitas.

Hal yang dilakukan Anies ini bukan yang pertama. Sewaktu diberi kepercayaan menjadi Rektor termuda Paramadina, Anies juga mengeluarkan pendiri Paramadina Cak Nurcholis Majid dan mendepak banyak orang dalam Yayasan Paramadina untuk digantikan dengan orang-orang kelompok Anies. Apalagi sekarang jadi Gubernur DKI. Tempat pusat perhatian publik tentu akan memperhatikannya dan menaikkan popularitasnya menggeser Prabowo dengan mudahnya setelah memanfaatkan Gerindra dengan puasnya.

Kemungkinan besar Anies akan menang dalam kompetisi Pilpres mendatang jika melihat kursi kekuasaan DKI 1 sudah di tangan, sedangkan Prabowo belum dapat apa-apa sampai Anies menyetujuinya. Jadi posisi tawar Anies jelas lebih baik daripada Prabowo. Who’s the boss now, kira-kira begitu posisinya sekarang. Anies sudah jadi Bos yang pastinya tidak mau disuruh-suruh lagi dengan keputusan kenaikan UMP DKI 2018 yang menurut kontrak politik harusnya lebih besar dari PP 78/2015.

Jika mengikuti trend bahasa ‘obrolan warung kopi’ tampaknya saat ini yang oaling tepat untuk mengungkapkannya adalah “Sekarang loe mao ape?! Nyang kuase gue. Biar gue nyang ngatur. Situ kagak useh sok ngatur-ngatur dah” mungkin kira-kira seperti ini.

Begitulah bahayanya Anies dimana semakin banyak mata melihat dia di posisi yang penuh dengan sorotan publik dari berbagai kalangan. Kebiasaannya yaitu begitu diberikan jabatan, dia tidak akan segan menyingkirkan orang-orang yang membantunya, seperti KSPI Said Iqbal yang dengan mudah disingkirkannya setelah dibuai dengan janji manis kesepakatan palsu.

Menarik disimak bahwa keputusan Anies yang menaikan upah buruh sebesar Rp 200 ribu rupiah jadinya sangat jauh dari harapan mereka. Dan sangat sedikit bila dibandingkan dengan gubernur terdahulu; yaitu 700 ribu rupiah semasa Jokowi-Ahok; 400 ribu dan 300 ribu rupiah semasa Ahok-Djarot. Lalu, kini Anies-Sandi hanya menaikkan 200 ribu rupiah.

Baca Juga:  Peta Mesin Politik Golkar

Melihat kenyataan tersebut, tentu saja buruh merasa sangat terpukul karena telah merasa dibohongi oleh Anies dengan lihainya. Ketika kampanye, begitu enteng mengumbar janji akan lebih baik daripada Ahok-Djarot. Kenyataannya, malah lebih buruk.

Bukan Anies dan bukan Sandi jika tak pandai berkata-kata. Baik bujuk rayu maupun “ngelesnya”. Orang bilang memang lidah tak bertulang. Janji asal janji memang gampang. Ketika akan dilaksanakan baru sadar ternyata tidak semudah cocotnya. Ketika ditagih, aneka alasan bisa dibuat, seperti “banyak tekanan dalam memimpin Jakarta”, dan lain-lain.

Kenyataan di lapangan memang tidak seindah kata-kata yang dapat disusun dan diucapkan dengan manisnya. Namun, bukan Anies dan bukan Sandi pula jika tak pandai menyusun kata-kata untuk berkelit. Di antara panik dan hilang akal, mereka masih bisa membuat janji baru dengan enteng lagi. Kini, mereka hendak meniru Ahok-Djarot yang menggratiskan TransJakarta dan memberi subsidi bagi penghuni rusun dan pelajar pemegang KJP.

“Kami akan memberikan pelayanan transportasi angkutan jalan yang lebih berkeadilan dengan memberikan kartu gratis transjakarta bagi pekerja dengan angka gaji UMP, ini akan berlaku mulai 1 Januari,” ujar Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (1/11/2017) lalu.

Keinginan meniru memang mudah. Sekilas terlihat hanya mengganti subjek dan kondisinya. Namun, penerapannya akan berbeda jauh. Penghuni rusun dan pelajar jelas subjeknya.

Nah, bagaimana dengan pekerja yang berpenghasilan sebatas UMP? Bagaimana memastikannya? Siapa saja yang berhak? Apakah mereka yang bekerja lembur sehingga memperoleh penghasilan lebih dari UMP juga berhak? Apakah pekerja yang menerima upah atau gaji lebih besar sedikit saja tidak berhak? Tidakkah akan menimbulkan aneka friksi?

Tampaknya, hal itu bukan big deal bagi Anies. Yang penting baginya adalah membuka jalan menuju RI 1 dengan umbar janji retoris populis. Jangan lupa, Anies juga punya senjata dahsyat yang telah terbukti memenangkannya di pilkada. Isu tersebut diyakininya akan mengatasi segala isu lainnya.

Baca Juga:  Surat Cinta Untuk Pak Bupati

Bagaimana dengan Sandi? Ya, dia tinggal menunggu durian runtuh ketika Anies berhasil menuju puncak. Lalu pertanyaannya bagaimana dengan nasib Prabowo?

Dalam waktu dekat Anies cukup memungkinkan untuk menyingkirkan Prabowo dalam kontes capres populer. Lalu, siapa lagi kira-kira yang akan menjadi korban Anies berikutnya? Kepentingan Anda?? Kepentingan Anak Anda? Keluarga Anda? Kepentingan Saya?? Kepentingan mayoritas penduduk DKI?? Atau kepentingan kuda??