Cerpen

Biografi Pejuang

Sumber Gambar : image-serve.hipwee.com

Oleh: Daruz Armedian

Apa yang akan kau lakukan jika kelahiranmu di dunia hanya untuk menyaksikan peperangan atau bahkan menjadi bagian dari peperangan itu sendiri?

Tetapi, pertanyaan itu tak perlu kau jawab. Sebab, Mbah Selamet, tetanggaku yang umurnya sekarang mencapai seratus tahun, menjawab hal itu. Bahkan dengan cerita yang bagiku sangat mengharukan. Beginilah kira-kira kalau ditulis dalam format cerpen.

Suatu malam yang biasa, malam yang tanpa keanehan apa-apa, malam yang menyiapkan bintang-bintang dan rembulan di atas langit, serta dingin yang mungkin saja membawa penyakit, aku berjalan melewati rumah Mbah Selamet. Di situ aku melihat dia duduk di beranda menikmati kopi dan rokok. Sebelum aku menyapanya, ia sedang melamun. Entah melamunkan apa, barangkali tentang usianya yang senja dan kematian terasa begitu mendekatinya atau tentang manusia yang cara kerjanya sudah banyak digantikan mesin dan sudah mulai lupa tatacara menyapa, aku tidak tahu.

“Sendirian saja, Mbah?”

“Iya, Le. Sudah biasa sendiri.”

Begitulah dialog untuk pembukanya. Aku duduk di sampingnya. Dia menawariku tembakau dan kertasnya. Aku disuruh melinting sendiri. Sementara itu, aku mengeluarkan sebungkus rokok dari saku. Bersamaan ia menyulut rokoknya, aku menyulut rokokku. Kami berdua sama-sama mengepulkan asap ke udara. Dan di situ, aku merasakan ada kebebasan di dada.

Bagitulah, akhirnya kami berdua berbincang-bincang. Ah, sebetulnya kurang benar kalau dikatakan berbincang-bincang. Sebab, tanpa diminta, Mbah Selamet mulai bercerita. Aku sebagai pendengar yang baik, sesekali menyahut ceritanya, sesekali bertanya-tanya.

Sering pada waktu hampir subuh, pada waktu fajar belum luruh, jika kentungan yang dipasang di atas pohon asam diketuk-ketuk oleh orang, maka itulah tandanya dari selatan, dari arah Desa Banyurip, Londo, sebutan untuk penjajah Belanda, akan menyerbu desa ini, Medalem. Sebetulnya bukan hanya menyerbu desa ini, tetapi segala desa yang letaknya di utara.

Penjajah itu kadang-kadang mengambil para lelaki yang ada di desa ini. Barangkali untuk dijadikan pekerja paksa di tempat-tempat yang lain. Kadang-kadang mengambil sapi, kerbau, emas, dan barang-barang berharga lainnya. Dan kadang-kadang juga mereka datang hanya untuk membunuh orang. Ya, datang dari jauh-jauh hanya untuk membunuh. Alangkah sia-sianya hidup mereka.

Nah, pada saat itulah, jerit tangis pertama kali Mbah Selamet muncul di dunia. Ia lahir dari rahim ibu yang sudah agak tua. Sementara, di sisi yang lain, bapaknya sudah dibawa Londo entah ke mana.

Waktu itu, ibu Mbah Selamet sudah pasrah terhadap apa pun yang akan terjadi padanya. Ia melahirkan di rumah kecil sendirian. Dan memang, ketika subuh tiba dan kentungan diketuk sebegitu rupa, orang-orang akan berhamburan mencari keselamatan.

Sebetulnya, ia punya tetangga. Tetapi, ketika itu, pintu rumahnya sengaja ditutup. Agar tetangganya mengira ia sudah pergi entah ke mana. Ia tidak ingin merepotkan orang lain. Ya, apalagi kalau bukan dengan cara seperti itu ia berbuat baik. Dan tentu saja, kapan lagi ia akan berbuat baik ketika kematian seperti membayanginya?

Tetapi, meski sendirian, ia tidak merasa sendirian. Di mana-mana ada Tuhan. Termasuk di sampingnya. Maka, dengan keajaiban yang begitu rupa, ia dan bayinya selamat. Oleh karena itulah ia diberi nama Selamet (semoga ia selamat di dunia dan akhirat, aamiin).

Mbah Selamet tumbuh di bawah desingan peluru dan penindasan yang terus memburu. Di umur yang ke sebelas tahun, ia ditinggal mati ibunya. Ibunya merenggang nyawa setelah sakit selama berbulan-bulan. Mbah Selamet hidup sendirian.

Mbah Selamet dewasa— entah dengan cara apa ia dewasa—ikut berperang dalam rombongan gerilyawan. Ia tidak lagi mementingkan hidup. Meskipun pada suatu waktu ia pernah mendengarkan ceramah yang entah dari mana, hidup mati memang di tangan Tuhan, tapi dirimu juga punya tangan, tangan untuk mempertahankan kehidupan. Tapi ia sudah betul-betul tidak mementingkan hidup lagi.

Sebab, dalam peperangan, siapa yang berani menebak ia akan terus hidup atau langsung mati? Sebagaimana sejarah, peperangan selalu tentang darah. Lalu, mungkin saja darah Mbah Selamet saat itu akan tumpah. Dan dengan kesendiriannya, ia tidak perlu memikirkan siapa yang akan menangis jika ia mati.

Peluru-peluru menjelma hujan. Mbah Selamet, selamat dari hujan itu. Ia ditakdirkan berteduh dalam payung Tuhan. Sampai sekarang.

Sekarang, cerita itu ia usaikan. Ia menyulut lintingan rokok lagi. Begitulah. Aku pamit pergi dan ia masih di depan rumahnya. Dengan kopi yang tinggal ampasnya. Dengan hati yang tinggal kehampaannya. Dengan mata yang tinggal keruhnya.

**

Sudah tiga tahun lebih aku di tanah rantau dan tentu saja tak tahu bagaimana sekarang nasib Mbah Selamet. Sekarang aku pulang lagi ke kampung. Aku ingin bertemu dia. Aku ingin mendengar kembali cerita-ceritanya.

Senin pagi, aku datang ke rumahnya. Aku mengetuk pintunya. Tetapi yang terjadi hanya sepi. Sepi yang seperti abadi. Tak ada sahutan. Tak ada suara apa pun kecuali suara ketukan tanganku di pintu.

Aku tak tahu kenapa bisa begitu. Apakah Mbah Selamet sudah meninggal? Oh, tidak. Oh, jangan. Jangan dulu. Aku masih ingin mendengar cerita-ceritanya mengenai peperangan. Tentu saja, peperangan yang pernah ia termasuk di dalamnya.

Aku ingin membuat cerita dengan tokoh Mbah Selamet. Cerita yang terinspirasi dari kisah nyata.

Kembali aku mengetuk pintu. Dan kembali tidak ada sahutan di situ. Sebenarnya aku bisa membuka pintunya secara paksa, mendobrak, misalnya. Tetapi itu tidak kulakukan karena tidak sopan.

Ada ibu-ibu yang secara kebetulan lewat dan aku bertanya mengenai keberadaan Mbah Selamet.

“Mbah Selamet sudah pergi.”

“Apa? Sudah meninggal dunia maksudnya?”

“Tidak tahu. Yang jelas, ia sudah pergi dari rumah ini.”

“Ya Tuhan. Sejak kapan?” tubuhku gemetaran.

“Dua bulan yang lalu.”

“Dia pergi ke mana?”

“Aku tidak tahu. Bahkan orang-orang di sini tidak ada yang tahu.”

“Lalu, siapa yang memiliki rumah ini?”

“Sudah milik bank.”

Seketika aku bersedih. Maaf, sebenarnya aku bukan lelaki yang melankoli, tetapi hal semacam ini memang patut untuk dijadikan bahan kesedihan. Aku membayangkan Mbah Selamet mati dan tidak ada yang mengurus jenazahnya. Atau kalau tidak begitu, ia hidup di jalanan seperti gelandangan. Atau, ia memang sudah menjadi gelandangan? Sejak kapan seorang pejuang begitu cepat menjadi gelandangan?

Aku buru-buru pamit dan mengucap terima kasih pada ibu-ibu itu. Dan setelahnya, aku tak tahu mau bagaimana. Apakah mencari Mbah Selamet yang tidak jelas di mana berada ataukah membiarkan masalah ini begitu saja.

Sampai sekarang, aku tidak tahu kabar Mbah Selamet bagaimana. Masih hidup ataukah sudah mati. Yang jelas, aku hanya bisa menuliskan kisahnya sesingkat ini. Adakah kau tahu di mana dia sekarang?

**

Suatu hari, aku bermimpi bertemu Mbah Selamet. Ia memakai baju yang compang-camping. Mirip sekali dengan gelandangan. Wajahnya pucat dan tulang rusuknya terlihat. Rambutnya gimbal, seperti sudah lama tidak mandi (tidak memakai shampo terutama).

Sungguh kasihan nasib pejuang, pikirku.

Kami tidak membincangkan apa pun. Sebab, sesaat sebelum aku menanyakan kabar, ia sudah merentangkan tangan. Membelah diri (dalam mimpi, seseorang membelah diri tetap bisa dimaklumi). Kemudian aku lihat banyak sekali Mbah Selamet. Ribuan lebih kira-kira. Dan sebelum habis takjubku, belahan-belahan Mbah Selamet itu terbang, menyebar ke seluruh penjuru negara. Negara ini.[]

Daruz Armedian, lahir di Tuban. Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga ini bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.

Popular

SerikatNews.com adalah portal media Online, sebagai wadah media kritis anak bangsa yang menerjemahkan visi, mencerahkan itu sebagai keharusan, menyajikan tulisan-tulisan jernih dan transfomatif. SerikatNews.com merupakan media yang menyajikan berita-berita yang terpercaya sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Media SerikatNews.com bergerak diranah kampus bermaksud untuk membangun secara kolektif nalar kritis mahasiswa yang hari ini sudah banyak terkoptasi dengan dunia hedonisme. SerikatNews.com tidak memihak terhadap kepentingan satu golongan baik ras, suku, partai politik bahkan agama! Salam Tim Redaksi SerikatNews.com.

Copyright © 2017 Serikatnews.com - All Rights Recerved

To Top