Buku Penangkal Hoaks (?)

354

Tebal: 400 hlm
Ukuran: 14,5 x 21 cm
Kertas Isi: Bookpaper
Kover: Soft
Penulis: Ghali Syukri (Mesir)
Penerjemah: Khoiron Nahdhiyyin
Mahar: Rp 60,000,- tidak termasuk ongkir.

Mengapa sebuah pemikiran mampu memengaruhi banyak orang dan berwibawa sepanjang zaman?
Sebuah pertanyaan klise, namun relevan untuk kita renungkan kembali di era cyber-hoax ini.

Berbicara soal ‘teks’ dan ‘kehidupan teks’ sesungguhnya merupakan arena kontestasi antar berbagai kepentingan di tengah masyarakat. Tafsir terhadap sebuah teks selalu tidak lepas dari relasi kuasa. Dengan kata lain, teks pada dirinya sendiri, maupun teks yang telah masuk ke dalam kehidupan masyarakat pembacanya, selalu terlibat dalam praktik pemaknaan. Makna tidak pernah netral, ia selalu berada di ruang kekuasaan dengan segenap otoritas yang menjustifikasinya.

Upaya melawan teks tersebut, diperlukan upaya penelusuran terhadap jejak-jejak teks yang kontroversial dan dianggap subversif. Teks perlu ditelaah, dibongkar, dan diletakkan dalam konteks-konteks yang melingkupinya.

Sebuah teks tidak bisa menjelma menjadi karya hebat bila ia tidak hadir di arena yang tepat. Artinya, “kesuksesan” sebuah karya dalam artinya yang luas, bukan saja didukung oleh muatannya yang berbobot, melainkan juga konteks yang tepat. Sebagai contoh sederhana, teks editan ”karya” Buni Yani atas pidato Ahok tahun lalu, akan menjadi tidak berarti apa-apa, meaningless, tidak memiliki pengaruh sama sekali terhadap pembaca, jika ”karya” itu muncul di luar momen Pilkada DKI 2017. Karena ”karya”nya ini, Buni Yani menuai kritik dan sanksi secara pribadi, tetapi secara politis ia menang (karena kenyataannya Ahok harus kalah oleh ”karya” tersebut). Banyak contoh lainnya, dari yang ringan-ringan hingga yang berat-berat.

Melawan teks (al-Khurûj ’an al-Nash) sebagaimana gagasan yang diusung oleh Ghali Syukri dalam buku ini adalah suatu upaya untuk keluar dari rezimentasi makna yang sewenang-wenang tersebut.

Baca Juga:  Apakah Ada Hidup yang Sederhana?