Cak Imin sebagai Pemimpin Zaman Now!

Sumber foto: Muhaimin Iskandar (dok. JawaPos.com)
Sumber foto: Cak Imin (dok. JawaPos.com)

A. Muhaimin Iskandar dengan panggilan Cak Imin, sosok Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan sebagai salah satu keluarga pendiri Nahdhatul Ulama (NU). Beliau juga aktif dalam dunia politik dan pergerakan sejak orde baru sampai era reformasi.

Dimulai semenjak menjadi seorang mahasiswa, beliau pernah mengenyam menjadi pimpinan organisasi, dari seorang pemimpin yang dikenal lahir dari tradisi pesantren. Hal demikian membuktikan bahwa santri juga sebagai intelektual organik, merupakan identitas, sekaligus menjadi sebuah kelompok yang memiliki orientasi perubahan yang begitu pesat.

Hidup menjadi bagian dari masyarakat multi etnik, multi agama, multi budaya sungguh membutuhkan seorang pemimpin yang sangat menentukan kemajuan bangsa dan negara. Ditambah gejolak politik dan perubahan sosial yang dinamis, sosok pemimpin dan atau karakter pemimpin harus dapat membawa perubahan dan memiliki keberpihakan penuh terhadap rakyat sebagai upaya merangkul setiap golongan—live and act together—di tengah pedihnya radikalisme yang menjadi ancaman keutuhan Negara Republik Indonesia (NKRI).

Anugerah Sayyidul Imam Surya Negara

Sosok yang lahir di Jombang, 24 September 1966 memperoleh gelar kehormatan “Sayyidul Imam Surya Negara” dari Lembaga Penasehat Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Gelar ini bermakna guru besar pemimpin yang menerangi ibu pertiwi (Jurnas.com/31/07/2017). Gelar tersebut didaulat melalui sebuah prosesi upacara adat, yang digelar di kompleks perkantoran Pemerintah Kota Lubuklinggau.

Sebuah anugerah yang diberikan kepada Muhaimin Iskandar sebagai tokoh muda yang sudah banyak berbuat untuk rakya kecil dan bangsa. Anugerah ini merupakan hasil dari rapat dewan lembaga penasehat adat kota Lubuklinggau, sehingga beliau layak mendapatkan gelar kehormatan tersebut menurut Abunawas.

Ini membuktikan bahwa Cak Imin sebagai pembela masyarakat pinggiran dari seorang santri yang mampun memberikan kontribusi penuh terhadap keberpihakannya kepada rakyat. Pertama, memperjuangkan “ekonomi kerakyatan” dengan memberikan solusi terhadap persaingan pasar lokal dengan pasar modern. Kedua, sosok dari istri Rustini Murtadho juga pernah menjadi garda terdepan memperjuangkan petani tebu menghapus Pajak Pertambahan Nilai (PPN) gula 10 persen telah berhasil. Terakhir, membela “nelayan” yang dianggap sebagai kriminalisasi menggunakan alat tangkap cangkrang.

Baca Juga:  Politik itu Keberpihakan

Hal ini membuktikan bahwa beliau hadir serta ikut memberikan jalan keluar, membuat A Muhaimi Iskandar diterima oleh masyarakat kecil serta kemampuan membaca perubahan dan realitas sosial tersebut menjadi jembatan membela rakyat kecil.

Politik Santun dan Demokrasi Keadaban Cak Imin

Cak Imin mengemukakan analisisnya mengenai sejumlah persoalan faktual yang tengah dialami bangsa, mulai dari kecenderungan mengerasnya pemahaman agama yang dangkal, kemiskinan, ketidakadilan dan beragam masalah lain (tribunnews.com/Rabu, 30/8/2017). Ketika berdiri di hadapan mahasiswa dan menyampaikan materi “Membumikan Pancasila dan Islam Rahmatan lil Alamin dalam Sistem dan Lanskap Politik Nasional dan Daerah” di Universitas Dipenogoro, Semarang.

Sejak kelahiran gerakan Islam merupakan entitas yang menjadi bagian dari kekuasaan politik ataupun dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaan yang telah ada. Kompromi, persuasi, koalisi, oposisi, konsensus bahkan perang merupakan bagian integral dalam perkembangan Islam, tuturnya. Ada beberapa hal yang prinsip di antaranya adalah kemanusiaan dan keadilan.

Kemanusiaan bermakna sebagai rasa belas kasih dan solidaritas kepada siapapun yang membutuhkan. Sementara keadilan, menurutnya bermakna penegakan hukum yang dilaksanakan dengan seadil-adilnya dan pemenuhan hak-hak mendasar rakyat yang sesuai dengan konstitusi.
Hal tersebut membuktikan kesantunan berpolitik dan berdemokrasi yang berkeadaban serta masyarakat tetap berada garis memperjuangkan bangsa Indonesia yang lebih baik, sejahtera, makmur dan berkeadilan serta berkeadaban.

Sebuah politik akan bermakna dan memiliki kekuatan abadi apabila politik terus mengakar dengan tradisi dan budaya yang kuat. Terkait kepemimpinan, beliau mencontohkan sosok Abdurahman Wahid (Gus Dur). Beliau menyampaikan bahwa kepemimpinan politik harus dilandasi prinsip al Ukhuwah al Islamiyah (Persaudaraan Islam) serta al Ukhuwah Insaniyah (Persaudaraan Manusia).
“Maka untuk 2019-2024 kami memiliki aspirasi baru untuk calon pemimpin.

Baca Juga:  Setnov; Sebuah Fenomena

Aspirasi ini merupakan harapan kami atas perubahan dan penyegaran kepemimpinan di republik ini. Muda dalam usia, namun panjang dalam pengalaman. Sosok itu ada di Cak Imin dan AHY,” menurut Baihaqi sebagai Ketua Nasional Pro-1 yang mendeklarasikan Cak Imin-AHY maju dalam pemilihan pilpres 2019-2024. Hal yang sama juga didukung oleh Jaringan Akar Rumput Cak Imin (Jangkar Cak Imin), Peneliti LIPI, dan pengamat Politik UI, Lili Romli, serta Adi Prayitno sebagai peneliti UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (Kompas.com/29/10/2017).