Opini

Cak Imin Untuk Indonesia

 

Mereka yang tidak siap harus rela jadi pecundang,” –Muhaimin Iskandar.

Kalimat ini menjadi dasar dan prinsip manusia di bumi. Gejolak dialektis dalam kehidupan kemanusiaan menjadi tantangan besar untuk pribadi lebih baik dari yang lain. Cak Imin berada dalam titik dasar prinsip tersebut. Kelahiran Jombang, Jawa Timur, menjadi tempat lahirnya santri berwibawa yang memiliki pengalaman menjabat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (2009-2014), Wakil Ketua DPR RI (1999-2009), setelah terpilih sampai hari ini menjadi Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa.

Warga NU dan internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sudah banyak mengakui ketokohannya. Pihak luar pun memiliki pandangan yang sama, mengakui bahwa sosok Cak Imin memiliki karakter, toleran, dan santun. Beliau cukup cerdas memainkan peran di dalam internal partai, memberikan pengaruh tanpa melupakan hubungan harmonis dengan bawahannya. Hal demikian menjadi bukti bahwa NU dan PKB memiliki pemimpin muda yang akan bersinar menjadi pemimpin besar pada masa yang akan datang.

Gus Dur dan Cak Imin

Berkiprah sebagai seorang aktivis dan politisi pada tahun 1990, Cak Imin merupakan sosok muda yang dekat dengan KH. Abdurahman Wahid—Gus Dur. Beliau—Gus Dur—merupakan seorang ulama yang menyalamatkan Nadhatul Ulama menghadapi rezim orde baru yang represif. Beliau menjadi sumber inspirasi, jembatan, dan sekaligus solusi bagi rumah Nahdhatul Ulama dan Indonesia. Hari ini, kita mendapatkan seorang Cak Imin sebagai sosok yang berjiwa Gus Dur—untuk tidak berlebihan menyebut secara langsung menyamai seorang Gus Dur.

Karena kedekatan beliau dengan Gus Dur inilah, seringkali Cak Imin mendapatkan tugas khusus untuk menjalankan strategi politik di masa lalu. Sebagai tipe pemimpin yang sabar menempuh jalan politik dari bawah, melalui perjuangan dan tempaan pengalaman. Sehingga sangat jelas kita lihat, Cak Imin memulainya dari bawah seperti menjadi Ketua BPM UGM, Ketua PMII Cabang Yogyakarta, Ketua Umum PB PMII, Sekjen DPP PKB, Ketua PKB, dan akhirnya didaulat sebagai Ketua Umum DPP PKB sampai hari ini.

Dari Santri Untuk Indonesia

Peran ulama dan pesantren menjadi pemegang keutuhan bangsa Indonesia dalam rangka melakukan pengawalan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Cak Imin menegaskan bahwa Islam Indonesia akan kokoh dengan bimbingan kiai dan ulama. Nilai-nilai kesederhanaan, moderat, santun, terbukti menegakkan persatuan dan kesatuan bangsa, kendati terus dihantui oleh radikalisme dan terorisme. “Semoga tidak hanya kokoh untuk Indonesia, tetapi untuk Islam seluruhnya dan dunia. NU sebagai kekuatan terbesar dengan ditopang oleh pesantren harus kita pertahankan,” tambah beliau.

Karena santri, menurutnya, memiliki tiga makna kesucian yaitu suci dalam pikiran, hati dan perilaku. Tiga Makna kesucian tersebut dinilai dapat menjadi modal bangsa untuk maju, tetapi tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keagamaan yang kuat.

Sehingga sudah saatnya, seorang sosok Cak Imin sebagai santri dapat memberikan kemajuan dan gagasan cemerlang untuk Indonesia dengan menjadi seorang pemimpin di masa yang akan datang. Beliau adalah pejuang kebhinnekaan, menjadi pilar yang mampu menyatukan perbedaan sebagaimana dalam nilai perjuangan Islam Ahlusunnah wal Jamaah yang menjadi rahmat bagi seluruh bangsa Indonesia sebagai negara yang sangat majemuk terutama dari segi agama dan budaya.

Keberagaman dan Kebhinnekaan

Prinsip kebhinnekaan ini dapat menjadi bagian dari kehidupan berbangsa, beragama dan bernegara. Cak Imin sebagai salah satu tokoh yang inten memperhatikan kebhinnekaan terbina di dalam bangsa yang majemuk; Indonesia. Pluralitas suku, budaya, dan agama menjadi sensitifitas konflik yang menjadi ancaman keutuhan negara dan berbangsa. Tetapi prasyarat dasar yang harus dipenuhi agar semangat kebangsaan dan penerimaan terhadap keberagaman tetap terjaga. Prasyarat itu adalah keadilan sosial dan tegaknya hukum. Ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial yang masih kasatmata terlihat dan dirasakan bisa menjadi tanah subur bagi gagasan-gagasan anti kebhinnekaan.

“Merusak kebhinnekaan berarti melawan sunnatulah, dan melawan sunnatullah merupakan kezaliman,” kata beliau dalam diskusi Ilmiah berjudul Memperkokoh Politik Kebhinnekaan di Universitas Airlangga, Surabaya (Kompas.com./13/10/2017).

Menjaga keberagaman dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan nilai yang tidak bisa ditawar—Harga Mati. Indonesia menjadi negara multikultur dalam setiap perbedaan baik suku, budaya, maupun agama.

Karena keberagaman atau multikulturalisme tidak bisa terlepas dari hakikat corak manusia di dunia. Manusia diciptakan dengan multi-etnis, budaya, dan suku, sebagai keindahan untuk saling melengkapi satu sama lain. Situasi di Indonesia yang cukup dinamis dalam aspek politik, kebudayaan dan agama sangat membutuhkan sosok Cak Imin sebagai pemimpin yang mampu merawat kebhinnekaan dan punya keberpihakan terhadap masyarakat pinggiran. Terbukti, silaturahim sebagai metode yang dipakai Cak Imin dalam merawat persatuan dan keberagaman cukup memberikan dampak positif demi menjaga persatuan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

Popular

SerikatNews.com adalah portal media Online, sebagai wadah media kritis anak bangsa yang menerjemahkan visi, mencerahkan itu sebagai keharusan, menyajikan tulisan-tulisan jernih dan transfomatif. SerikatNews.com merupakan media yang menyajikan berita-berita yang terpercaya sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Media SerikatNews.com bergerak diranah kampus bermaksud untuk membangun secara kolektif nalar kritis mahasiswa yang hari ini sudah banyak terkoptasi dengan dunia hedonisme. SerikatNews.com tidak memihak terhadap kepentingan satu golongan baik ras, suku, partai politik bahkan agama! Salam Tim Redaksi SerikatNews.com.

Copyright © 2017 Serikatnews.com - All Rights Recerved

To Top