CATATAN KECIL UNTUK ABDON NABABAN

613
Foto: Dokumen Pribadi
Foto: Dokumen Pribadi

Oleh : Nestor Rico Tambunan

Sejarah besar dunia tak lain adalah berupa kemajuan dan perkembangan mengenai kesadaran dan kebebasan. (Friedrich Hegel, filsuf Jerman)

Tanjung Gusta, Jumat, 17 Maret 2017. Pagi itu langit cerah. Menteri KLH Siti Nurbaya bersiap memasuki main hall (tenda utama) tempat berlangsung Kongres Masyarakat Adat Nusantara Ke-5 (KMAN V), didampingi Gubernur Sumut Erry Nuradi dan Sekjen AMAN  HYPERLINK “https://www.facebook.com/abdon.nababan?fref=mentions” Abdon Nababan. Ada upacara penyambutan kecil.

Sejenak saya tertegun. Penampilan Abdon Nababan tampak lain dari biasa. Ia mengenakan pakaian adat Batak lengkap, berlilit dan menyandang ulos, serta mengenakan tali-tali (ikat kepala) tuntuman. Tumtuman adalah tali-tali yang biasa dipakai uluan atau pimpinan dalam upacara adat Batak.

Hey, tak biasanya lae Abdon berpenampilan begitu. Ia memang uluan, pimpinan barisan di AMAN. Tapi ia jarang menunjukkan identitas uluan itu. Ia biasanya mengenakan tali-tali ulos mangiring yang berwarna kemerahan. Identitas yang lebih netral dalam adat Batak. Kadang ulos mangiring itu hanya ia selendangkan di leher.

Saya sudah lama mengenal nama Abdon Nababan, dari berita di media-media mainstream, maupun media sosial di internet, seperti facebook. Berita mengenai AMAN atau masyarakat adat seperti sudah identik dengan namanya. Menurut saya, ia merupakan tokoh kunci dari gerakan masyarakat adat di Indonesia, maupun di tingkat regional dan internasional.

Abdon Nababan lahir dan dibesarkan di Tano Batak, tepatnya di Siborongborong, Sumatera Utara, 2 April, 1964. Sejak kuliah di Institut Pertanian Bogor [IPB], ia sudah aktif dalam organisasi pecinta alam dan lingkungan, baik didalam maupun diluar kampus. Setelah lulus (1987), ia akhirnya bekerja di lembaga-lembaga dengan kegiatan yang sama, seperti Perkumpulan Telapak dan Forest Watch Indonesia. Hingga akhirnya ia ikut mendirikan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Maret 1999.

AMAN boleh disebut, seperti dikatakan Friedrich Hegel, sebagai bentuk gerakan kesadaran dan kebebasan dari masyarakat-masyarakat adat yang ada di Nusantara, yang terabai dan tertindas dalam proses perjalanan bangsa.

Masyarakat-masyarakat adat ini sudah ada dan mendiami pelosok-pelosok Nusantara sejak negara Indonesia belum berdiri. Hak-hak dan keberadaan mereka (masyarakat tradisi) juga dijamin dalam UUD 45 (Pasal 18 ayat 2). Tetapi kemudian masyarakat-masyarakat tradisi ini justru menjadi korban-korban pembangunan. Wilayah adat mereka diserobot negara dan perusahaan-perusahaan yang diberi ijin oleh negara. Lingkungan tempat tinggal dan alam sumber kehidupan mereka dijadikan taman nasional, HPH/hutan tanaman industri, perkebunan, pertambangan, dan sebagainya. Dan ketika berusaha mempertahankan hak, mereka justru dikriminalisasi. Ditangkap polisi, diadili dan dipenjara. Itu berlangsung hingga kini.

Baca Juga:  Motivator Muda Indonesia Menghipnotis Mahasiswa Mahasiswi Surabaya

Dalam gerakan kesadaran dan upaya kebebasan itulah Abdon Nababan berkiprah, bahkan sepuluh tahun terakhir, sejak tahun 2007, menjadi Sekjen. Tak heran kalau namanya seperti sudah identik dengan AMAN dan gerakan yang berkaitan dengan masyarakat adat. Ia seperti sudah menyatu dengan perjuangan masyarakat adat, dengan gerakan pembelaan kaum terpinggirkan di Indonesia umumnya.

Jujur, saya menghormatinya. Saya merasa, perjuangannya adalah perjuangan saya juga. Dalam kerja di dunia jurnalistik, saya memang sejak lama memiliki perhatian terhadap liputan yang berkatian dengan masyarakat daerah dan tradisi. Saya juga termasuk orang yang merasa marah dan terluka dengan kerusakan lingkungan dan konflik sosial yang ditimbulkan Indorayon/Toba Pulp Lestari (TPL) di Tano Batak.

Namun, saya baru mengenal Abdon Nababan secara langsung beberapa tahun belakangan, setelah terlihat dengan kegiatan-kegiatan AMAN. Awalnya sebagai trainer dalam pelatihan penulisan untuk kader-kader AMAN. Tapi kemudian dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan lain, seperti Rakernas, Kongres, seminar, dan sebagainya. Biasanya saya membantu dalam penulisan berita. Pada akhirnya, saya merasa sebagai bagian dari keluarga AMAN.

Dalam kegiatan atau pertemuan-pertemuan AMAN, acara besar atau kecil, tampak sekali Abdon Nababan jadi bintang sekaligus sahabat semua orang. Laki atau perempuan akan memeluknya dengan hangat. Sering orang menariknya sebentar untuk berbicara. Sepertinya orang-orang itu belum puas kalau belum mengadukan, berbicara langsung dengannya, walau hanya sebentar. Dan ia tampaknya sangat memahami itu. Ia selalu tampak berusaha melayani dengan tulus.

Saya kira, itulah kelebihan Abdon Nababan. Di dalam tubuhnya yang agak kurus itu, selain semangat yang besar dan pengetahuan yang luas, ada kesabaran dan ketulusan yang dalam. Sosoknya yang sederhana dan low profile membuat ia terasa dekat dengan siapapun. Gaya bicara yang tenang dan teratur, dengan argumentasi yang jelas, tegas namun tidak reaktif, membuat ia diterima di semua kalangan. Dari anggota-anggota komunitas adat, anak buah, teman-teman aktifis, kawan-kawan dari komunitas budaya, hingga pejabat-pejabat dari pemerintahan, menteri, bahkan Presiden.

“Kita harus bisa tidur dengan musuh,” kata suami dari  HYPERLINK “https://www.facebook.com/memame.devi?fref=mentions” Devi Anggraini dan ayah tiga putri ini suatu ketika. Ya, untuk perjuangan yang ia emban, ia barus bisa berdialog dan bernegosiasi dengan semua pihak, termasuk dengan pihak yang menjadi musuh-musuh masyarakat adat. Super cool, menurut saya.

Baca Juga:  Eva K. Sundari

Tentu saja, ia sangat sibuk. Coba bayangkan, dari tanggal 12 hingga 20 Maret 2017 ia ada di lokasi Kongres MAN V di Tanjung Gusta, Deli Serdang, Sumut. Rabu, 22 Maret, ia bersama pengurus PB AMAN dan perwakilan masyarakat-masyarakat adat Nusantara sudah menghadap Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Tapi, dua hari kemudian tanda chek-in di timeline facebook-nya menunjukkan dia sudah berada di Washington DC, Amerika Serikat.

Begitulah Abdon Nababan. Tak lagi aneh, ia sebentar ada di Markas PBB di Jenewa, atau pertemuan lain di Paris. Tapi beberapa hari kemudian ia sudah mem-posting foto dari pedalaman Kalimantan, atau pelosok lain Nusantara. Jangan lupa, ia tinggal di Bogor dan harus mundar-mandir tiap hari ke Kantor PB AMAN di Tebet, Jakarta. Bagaimana tubuhnya yang kecil itu, menyimpan begitu besar stamina? Luar biasa, menurut saya.

Masih ada lagi. Orang yang mengikuti line-nya di facebook pasti akan tahu ia rutin men-share tulisan-tulisan, artikel atau berita mengenai lingkungan, pertanahan, budaya, atau masyarakat adat dari berbagai media atau portal, baik dari dalam maupun luar negeri. Bisa puluhan konten berita/artikel setiap hari. Sepertinya semua tulisan yang berkaitan dengan pekerjaannya mendatangi akunnya, lalu semua konten itu disebar ke semua orang. Selain jadi Sekjen, ia serasa merangkap Direktur Infokom AMAN. Bagaimana dia menemukan semua konten itu?

Saya memiliki kenangan tersendiri mengenai kegiatan Infokom ini. Suatu sore, ia mengajak saya berbicara berdua di ruang kerjanya, di kantor PB AMAN di Tebet. Tak biasanya. Ia mengatakan, AMAN sedang mencari Direktur Infokom yang sudah setahun kosong. “Saya merasa, harus menawarkan ini pertama kali ke lae,” katanya.

Saya termenung sejenak. Iya, saya kaget, tidak menyangka ia ternyata punya penghargaan seperti itu kepada saya. Dengan tulus saya menolak. Saya mengatakan, posisi itu tidak cocok untuk orang setua saya. AMAN membutuhkan pimpinan infokom yang lebih menguasai konvergensi komunikasi masa kini. Bukan sekedar orang yang menguasai penulisan seperti saya.

Selama Kongres MAN V di Tanjung Gusta berlangsung, kembali terlihat Abdon Nababan adalah bintang yang dikenal, dibutuhkan, dan disayang semua orang. Karena itu saya cukup kaget ketika di hari terakhir Kongres, dalam sesi pemilihan pengurus, ia melepaskan jabatan, tidak bersedia lagi dipilih sebagai Sekjen AMAN.

Baca Juga:  Menteri Susi tertidur kelelahan di VIP Lounge Bandara JFK, New York

So? Saya jadi teringat pakaian adat yang ia kenakan ketika pembukaan Kongres. Saya tidak tahu apakah penampilan itu ia persiapkan dengan sengaja. Tapi saya pribadi memaknai, sahabat ini menunjukkan penampilan sebagai uluan hanya di ujung masa jabatannya.

Saya juga mengenal baik  HYPERLINK “https://www.facebook.com/rsombolinggi?fref=mentions” Rukka Sombolinggi, yang menggantikan Abdon Nababan jadi Sekjen AMAN. Dalam kepengurusan sebelumnya, putri Toraja ini menjadi Deputi Advokasi dan Politik. Ia juga seorang yang gigih dan cerdas. Di tangannya, tentu perjuangan AMAN akan terus bergulir. Tapi jujur, seperti juga mungkin dirasakan banyak orang di AMAN dan di komunitas-komunitas masyarakat adat yang biasa mengadu padanya, saya merasa ada rasa kehilangan.

Seperti saya sebut di atas, ia sudah menjadi tokoh kunci gerakan masyarakat adat. Namanya seperti sudah identik dengan perjuangan masyarakat adat. Saya sulit membayangkan, datang ke AMAN tanpa bertemu Abdon Nababan. Seperti apa AMAN tanpanya? Dan, kemanakah ia akan pergi?

Saya tahu, perasaan ini hanya karena emosi manusiawi persahabatan semata. Saya tahu, Abdon tidak akan jauh dari perjuangan masyarakat adat. Dalam acara sebelum pemilihan Sekjen, ia tepilih jadi salah seorang anggota Dewan AMAN Nasional (DAMANNAS) mewakili Region Sumatera. Ia masih tetap berada di AMAN.

Selain itu, ia masih memegang posisi-posisi lain yang berkaitan dengan pembelaan hak-hak masyarakat adat, baik di level regional Asia, maupun internasional. Ia juga aktif, bahkan memegang beberapa posisi kunci di beberapa organisasi yang berkaitan dengan persoalan masyarakat adat, seperti Forest Watch Indonesia (FWI), Perkumpulan Telapak, dan beberapa lembaga donor internasional.

Lebih dari itu, pejuang sejati tak akan kehilangan medan juang, dan tak akan pernah kehilangan spirit juang. “Bagi orang yang mempunyai tujuan, hidup tidak akan mempunyai hari akhir,” kata Jawahral Nehru.

Jadi, dimanapun Abdon Nababan memilih medan juang yang baru, saya tak perlu merasa kehilangan. Juga tak perlu mengucapkan selamat jalan. Lepih tepat, sampai bertemu di medan perjuangan yang lain, Lae. Horas ma!

Tanjung Gusta, 20 Maret 2017