Opini

Cerita, Berita, Anomali Media

Foto Dokumen Pribadi

Oleh: Muchlas Jaelani

“Berita” dan “cerita” hanya beda antara “c”  dan “b”, kata Sapardi Joko Damono beberapa waktu lalu saat mengisi acara di UGM. Cerita memang memuat serangkaian catatan naratif, sebagaimana juga berita yang menjadi wahana penutur publik. Tukang berita—hampir ditemukan banyak yang juga—pasti mahir bercerita. Memang, cerita dan berita nyaris tidak memiliki garis demarka. Hanya nyaris!

Cerita yang memuat soal satu kejadian tertentu, dan oleh karenanya dirasa penting dan memiliki prinsip news value, maka hakikatnya ia adalah berita. Setiap kabar dan keterangan akan dirumuskan menjadi sajian informatif, tentu saja melalui mekanisme pemberitaan yang sahih. Sebenarnya, secara teknis, hanya pedoman etik jurnalistik yang mampu memisah domain “cerita” dan “berita”.

Dalam perkembangannya kini, cerita dan berita memiliki pola lain. Sealur dengan kenyataan tren global yang—sebagaimana disebut Muhammad Sufyan—menuntut perlihan pembaca dari media massa konvensional ke digital, cerita yang berita tidak sekadar ditulis dalam press klarr, tetapi juga melalui perluasan kanal media lain. Cerita, pada titik ini, dikonvensi menjadi audio-video yang memungkinkan wartawan mesti semua bisa, menjadi jurnalis multimedia.

Inilah yang kemudian popular disebut “konvergensi media”. Kecanggihan tekhnologi-informasi memaksa media konvensional (Koran, televise, radio, dll) mesti juga dilebur ke dalam domain digital. Paschal Preston dalam Reshaping Communications, Technology, Informations, and Social Change (2001) mendedah, bahwa kehadiran sistem komunikasi multimedia-interaktif yang ditandai dengan masifnya fungsi new media telah menggeser peran, hingga nyaris seluruhnya, media konvensional. Bahkan, keperkasaan new media ini akan memberikan penawaran hal-ihwal yang lebih. Artinya, banyak bonus.

Konvergensi media, oleh karena itu, bisa dimaknai lebih simple: penyatuan berbagai media massa dan tekhnologi informasi ke dalam satu paket perangkat gadget yang lebih aksesabel. Tentu, era konvergen ini akan banyak bermanfaat, terutama bagi net generations sebagai anak pinak dari masyarakat digital. Netizen bisa dengan mudah mengakses informasi berita dan streaming siaran, tayangan, dan audio melalui internet di gadget.

Namun begitu, saat media komunikasi mulai bergeser dari ‘realitas’ menjadi ‘hiperrealitas’, maka dengan cepat kehidupan masyarakat akan juga mendewakan citra, fantasi, artifisial, dan simulasi. James Brook & A. Boal dalam Resisting the Virtual Life menyimpulkan, bahwa komunikasi media virtual selalu bersifat destruktif.

Anomali

Masyartakat digital, bagaimanapun, telah mewedarkan dua ihwal yang saling bertentangan. Satu sisi, kecanggihan tekhnologi informasi—terutama melalui media sosial—telah menyatukan setiap pengguna tanpa dihalangi ruang dan masa. Tetapi pada sisi yang sama, internet telah memangkas batas kelaziman etika publik.

Kesan “anonimitas”, yaitu keawanamaan dengan tanpa menampilkan informasi identitas pribadi, bagi psikolog Graham Jhones, menjadi penyebab aktifitas kekerasan di dunia maya. Seseorang bisa dengan mudah menyampaikan segala hal dalam konten informasi tertentu tanpa risiko secara langsung. Buktinya, hingga kini telah menyebar konten informasi bohong yang setiap detik tampil di lini masa media sosial seseorang.

Terlebih, konten informasi menyesatkan di media sosial-internet relatif menyasar kepada emosi setiap pengguna (netizen) sebagai bentuk propaganda dan mobilisasi khalayak. Maraknya berita hoax yang tersebar di internet—kemudian dipublish ke media sosial—menjadi bukti riil menguatnya konten sesat yang dibungkus sedemikian apik. Hoax kini telah menjadi problem akut di Indonesia—seperti narkoba dan korupsi.

Kontra Narasi

Jamaknya produk jurnalisme fitnah yang tersebar luar melalui internet, kiranya bisa dibendung dengan menghadirkan jurnalisme tandingan. Jurnalisme fitnah selalu mewartakan agitasi, hasutan, dan propaganda. Makanya, kontra narasi “wajib” ditampilkan untuk kesesuaian dan keshahihan berita.

Peranan jurnalisme damai sebagai upaya kontra propaganda sepertinya lebih efektif ketimbang melalui pendekatan regulative-punitif dengan, misalnya, melakukan razia, fatwa haram media, pemblokiran, dan sebagainya. Memarakkan portal media yang menyajikan prinsip jurnalisme damai ke tengah masyarakat adalah keharusan.

Bagaimanapun, konvergensi media dengan menempatkan internet sebagai platfiorm utama, adalah konsekuensi logis tren global. Justru, yang terpenting, media mesti secara konsisten membantu net generations untuk mengembangkan multiple literacy sebagai bekal dunia digital.

Media boleh saja terus berubah dan berkembang, tetapi prinsip etik jurnalistik akan terus menggawangi. Karena, yang fana adalah media, jurnalisme abadi! Begitu.

*Penulis Adalah Direktur Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Sinergi Yogyakarta.

To Top