Chairil Anwar, dan Penyair Angkatan 1945

210

Judul : Chairil Anwar: Bagimu Negeri Menyediakan Api
Penulis : Tim Tempo
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : I, Oktober 2016
Tebal : x + 152 halaman

Buku ini mengungkap hidup Chairil Anwar dengan lengkap, mulai dari masa kecilnya, kepindahannya ke Jakarta, sampai inspirasinya dalam menulis. Menarik mengenal Chairil Anwar dari segala sisi melalui buku ini. Chairil Anwar adalah tipe seniman yang memiliki otak yang selalu resah bergerak dan tak bisa diimbangi oleh keterbatasan fisiknya dan logika orang-orang pada zamannya. Sikap Chairil kadang dinilai janggal dan membuat geleng-geleng kepala. Namun, jiwa patriotismenya tidak perlu diragukan. Mengenai puisi-puisi perjuangannya, ia tidak menulisnya hanya di balik meja, namun ia juga menyaksikan peristiwa yang kemudian dituangkannya dalam puisi tersebut. Krawang-Bekasi, misalnya, ditulis karena pada saat pertempuran tersebut berlangsung, Chairil memang berada di Krawang, bahkan menikahi Hapsah di sana. Selain itu, posisinya sebagai keponakan Sutan Sjahrir juga membuka pintu perkenalannya pada para pejuang kemerdekaan RI dan gerakan politik pada masa itu. Selain puisi perjuangan, ada juga puisi-puisi cinta yang terinspirasi dari beberapa perempuan yang pernah singgah di hidupnya.

Yang membuat Chairil Anwar bersinar adalah kemampuannya melahirkan karya yang tidak sekadar memotret dan menggelorakan jiwa perjuangan kemerdekaan RI, namun juga kemampuannya mengolah bahasa Indonesia, yang pada saat itu belum semaju sekarang. Pada masa ia hidup, bahasa Melayu dan Belanda masih lebih familier digunakan. Kegilaan Chairil terhadap buku sastra dunia dan perjuangannya mencari kata, diksi, bentuk dan isi terbaik dalam lirik-lirik puisinya membuat karyanya menjadi unggul dan berbeda dari karya-karya Angkatan Pujangga Baru saat itu. Oleh karenanya, Chairil dinobatkan sebagai salah satu pelopor Angkatan ’45 menggantikan Angkatan Pujangga Baru dalam dunia sastra Indonesia.

Baca Juga:  Tidak Sekedar Meperingati

Menggunakan gaya bertutur yang mengalir dan mudah dicerna, buku ini sungguh merupakan pilihan yang tepat dibaca untuk kamu-kamu yang ingin mengenal sosok Chairil Anwar lebih jauh.

Pada tahun 1942, setelah perceraian orang tuanya, Chairil bersama ibunya pindah ke Jakarta dan mulai mengenal dunia sastra. Yang membuat Chairil Anwar bersinar adalah kemampuannya melahirkan karya yang tidak sekadar memotret dan menggelorakan jiwa perjuangan kemerdekaan RI, namun juga kemampuannya mengolah bahasa Indonesia, yang pada saat itu belum semaju sekarang. Pada masa ia hidup, bahasa Melayu dan Belanda masih lebih familier digunakan.

Mengenai puisi-puisi perjuangannya, ia tidak hanya merenung dan berimajinasi di balik meja saja, melainkan terlibat langsung dalam pertempuran yang kemudian dituangkannya ke dalam sajak. Hal ini dapat dilihat dari salah satu puisinya yang berjudul Krawang-Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, Aku dan Diponegoro. Selain puisi perjuangan, ada juga puisi-puisi cinta yang terinspirasi dari beberapa perempuan yang pernah singgah dihidupnya.

Chairil Anwar meninggal pada tanggal 28 April 1949, karena penyakit tifus, infeksi dan usus pecah. Chairil dimakamkan di Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat. Chairil mati muda pada usia 27 tahun dan sejarah akan terus mencatat, ia seorang pemberontak yang tak beranjak tua. Mati muda telah mengekalkan imaji dirinya selaku pemberontak terhadap adat-istiadat, nilai, dan kemapanan Pujangga Baru. Walau telah tiada, sampai hari ini Chairil adalah sebuah inspirasi. Inspirasi tentang bagaimana seorang pengarang menciptakan karakter bahasa yang mampu menembus dominasi bahasa pejabat, bahasa politikus, bahasa pengacara dan bahasa preman sekaligus.

Buku ini disarankan untuk mahasiswa yang belajar kesusastraan, dan juga tenaga edukatif untuk menambah referensi dalam proses pembelajaran serta khalayak umum yang ingin lebih tahu lebih dalam tentang Chairil Anwar. Semoga buku ini bermanfaat untuk menambah wawasan.