DAUN CEMARA ITU PUN LURUH

217
Foto: Dok, Pribadi.

 

Foto: Dok, Pribadi.

Oleh: Okti Muktini Ali*
Hidup ini sungguh penuh misteri. Siapa sangka dia akan jatuh cinta pada lelaki muda itu.
Lelaki yang lebih layak menjadi mahasiswanya.
”Tolong cintai saya ya…” tulisnya via sms dengan hati tak karuan, suatu malam.
”Bagaimana cara saya mencintai?” Begitu bunyi balasan dari sms. Ketika itu jam sudah lewat tengah malam, tetapi suaminya belum juga pulang.Ada metting di Kaliurang, katanya.
”Iya ya…?” jawab Arum, perempuan jelang usia empat puluhan itu kehilangan akal, tidak menyangka balasan sms dari laki-laki muda itu berupa pertanyaan. Semula dia kira lelaki itu akan menjawab ”Ach, ibu…” atau mungkin, ”Wah, gak bisa.” Tapi dia menjawab dengan pertanyaan yang Arum sendiri tak bisa menjawabnya.
Pertanyaan yang bernada tantangan.

Sudah tiga bulan mereka berkenalan, ketika itu Arum mendaftarkan putrinya, Dea, masuk ke club taekwondo. Hal ini ia lakukan karena beberapa kali Dea pulang sekolah menangis karena dinakali temannya. Ia pikir putrinya itu harus diberi bekal ilmu beladiri supaya jadi anak pemberani. Bukan untuk membalas kekerasan dengan kekerasan, tetapi sekedar untuk pembelaan dan memupuk kepercayaan diri. Dia ingin putrinya bisa menjaga diri dengan mandiri, tidak terus mengandalkan perlindungan dari orang lain. Kebetulan Krisna teman sekolah Dea mengajaknya mendaftarkan diri di Gelanggang Mahasiswa Kampus Biru tempatnya mengajar.

Awal bertemu biasa saja, tidak ada perasaan apa-apa di hati Arum, selain terkesan sikap rendah hatinya. Sabeum, panggilan untuk pelatih taekwondo, itu memang santun sekali. Kesantunan Jawa. Kesantunan seorang Permadi, tokoh wayang dari Pendawa. Arum juga ingat betapa hidung, mata, bibir dan alis lelaki itu terlukis manis di muka pipihnya yang tampan. Setampan suaminya, Bram.
“Ya sudahlah, selamat malam, selamat beristirahat.”kata Arum via sms.
“ Iya, terimakasih, selamat malam dan selamat beristirahat juga.”jawaban sms dari seberang.
Malampun berlalu. Arum tertidur dengan bibir mengulas senyum. Bahagia.

Setiap hari, setiap ada kesempatan luang Arum kirim sms, pagi, siang, malam. Kadang hanya ucapan selamat, kadang berbagi informasi aktivitas yang sedang mereka lakukan. Arum senang karena smsnya selalu mendapat balasan positif. Bahkan ketika dia bercerita tentang hati yang gundah, tentang lelahnya ia mengajar, tentang cintanya pada suami, tentang putrinya Dea, dan tentang apapun yang selama ini hanya dia simpan sendiri di dalam hatinya, balasan dari seberang selalu saja nasehat yang menyenangkan dan membuat hatinya merasa nyaman. “ Sabar saja ya”, “ Cobalah untuk santai”, “ Iya, memang hidup tidak mudah”, “ iklas saja” dan lain sebagainya. Arum heran mengapa laki-laki semuda itu bisa bersikap dewasa dan bijaksana dalam menghadapi hidup, tetapi keheranannya tertutupi oleh hatinya yang terlanjur berbunga-bunga. Kedekatan yang terbina secara intensif dan efektif itu menumbuhkan rasa lain di hati Arum.
Tanpa mengurangi rasa cintanya pada suami, diam-diam, secara pelan tapi pasti, laki- laki muda itu memperoleh tempat tersendiri di hati Arum. Mengisi selal-sela hatinya yang kosong dan sepi. Arum jatuh hati.

Pagi itu, mereka bertemu.
”Haduh, harus bagaimana aku?”desah Arum dalam hati.
Meski via sms mereka begitu sehati dan akrab , tetapi bila bertemu langsung mereka hanya saling memandang.
Pagi itu, seperti biasa laki-laki itu memandang sekilas, tersenyum, terus menundukkan kepala sebagai rasa hormat sambil menyapa, ”Selamat pagi bu.” dan Arum juga selalu hanya bisa menjawab ” Iya, selamat pagi.”
Tak pernah lebih dari itu.

Dipandanginya deretan cemara yang berjajar rapi di depannya. Pohonnya yang ramping dan daunnya yang kecil runcing bergerak-gerak kian kemari. Seperti tangan penari. Seperti lagu ’cemara’ yang senang ia nyanyikan, ketika kecil dulu.Dia suka dengan pohon cemara, meski nampak tak berbunga dan tak berbuah tapi tegak dengan begitu kuat dan kokohnya. Seolah tak pernah rapuh termakan usia. Tak pula ada gempa dan badai yang mampu membuatnya tumbang. Sehingga burung-burungpun merasa aman dan nyaman bila bersarang. Bahkan daun-daunnya yang kecil runcing, dalam kejatuhannya pun melayang indah mengikuti tarian sang bayu. “Ach, cemara…tahukah apa yang sedang kurasa?” bisiknya dalam hati sambil menatap nanar ke arah jauh. Sejauh mata memandang.

Baca Juga:  Cah Ayu, Cah Kae

Lelaki muda itu baru saja lewat di depan Arum. Seperti biasa, dia tersenyum, memadang Arum sekilas, menundukkan kepala dan menyapa ”Selamat pagi Bu…”Arum terpana dengan senyumnya. Dan ketika pandangan mereka bertemu, hati Arum jadi bergerumuh. Layaknya kepundan kawah gunung Merapi. Luruh lantak hati Arum dibuatnya. Rapuh dan ingin dipeluk.

Wow, mata lelaki muda itu memang indah sekali. Teduh laksana telaga tujuh warna. Tempat para bidadari mandi dan bermain sebelum salah satu dari mereka, Nawangwulan, diculik dan diperistri Jaka Tarub.
Ach, andaikan di matanya aku adalah Nawangwulan. Lamunnya.
Hingga ia lupa, tidak membalas sapaan selamat pagi laki-laki muda itu.
Hahaha…Arum mentertawai dirinya sendiri.
”Konyol” umpatnya dalam hati.

Hari itu pertemuan mereka yang ke tujuh belas, terhitung sejak Arum mendaftarkan Dea masuk club taekwondo.
”Mama mana hugonya?” Suara Dea mengejutkan.
”Ohya, ini…” cepat-cepat Arum mengeluarkan pelindung badan itu dari dalam tas dan mengenakannya di tubuh putrinya, yang kemudian berlarian kembali masuk aula gelanggang mahasiswa, tempat dia dan teman-temannya berlatih taekwondo. Kembali meninggalkan Arum sendiri, dalam lamunan.

***

Enam bulan lalu, di akhir Desember, kebetulan mereka hanya bertiga. Belum ada dosen lain yang datang. Pagi hujan. Hanya ada Retno dosen sosiologi, Rini dan Arum. Bertiga mereka di kampus diskusi informal tentang perselingkuhan. Rini bilang, rugi kalau belum pernah berselingkuh. Karena selingkuh itu sensasional.
”Bayangkan kita bertemu dengan orang yang special di hati kita. Wow…”
Retno tak mau kalah dengan presentasinya, dia bilang selingkuh ada empat tingkatan, selingkuh fisik, selingkuh ekonomi, selingkuh intelektual dan selingkuh rasa.
”Selingkuh intelektual itu penting, kalau nggak tumpullah otak kita” kata Rini yang suaminya seorang guru. Dia mengakui sering melakukan perselingkuhan intelektual dengan teman yang ditemuinya saat metting di luar kota. ” Habis suamiku nggak nyambung sih kalau diajak diskusi.”
”Asal jangan selingkuh fisik,bersetubuh.Dosa dan bisa masuk neraka” katanya pula.
”Kalau selingkuh ekonomi?” tanya Arum penasaran
”Biasanya dekat tuh dengan selingkuh fisik,” jawab Retno berapi-api selayaknya sedang mengajar di depan mahasiswanya. ” Bu Arum, mana ada orang keluar uang tak dapat barangnya.”
”Heh, amit-amit…” kata Arum sambil keluar ruang dosen.
” Wow, yang amit-amit tuh ntar tahu rasa…!” teriak Rini.
”Pagi-pagi kok diskusi perselingkuhan. Hah, kurang kerjaan.” kata Arum dalam hati sambil tertawa geli.

Tetapi tak urung dia berfikir juga. Sepanjang selasar yang menghubungkan antara ruang dosen dan ruang tempat dia mengajar, Arum berdialog dengan diri sendiri.
“Untuk apa aku selingkuh? Selingkuh ekonomi? Kurasa hidup kami sudah mapan. Tinggal di Jogja yang adem ayem. Masyarakatnya tidak terlalu kapitalis dan tidak terlalu hedonis. Ada rumah, ada mobil, ada pengasilan tetap setiap bulannya. Mau apa? Dan sebagai sesama dosen aku tidak merasa kesulitan mendiskusikan apapun dengan suamiku, Bram. Jadi untuk apa selingkuh intelektual? Selingkuh fisik? Haha…suamiku sangat perkasa dan pintar memberiku kepuasan” kata Arum di dalam hatinya sambil tertawa, teringat kemesraan-kemesraan bersama suaminya.
”Selingkuh rasa? Rasa apa? Suamiku tak kurang dalamnya cintanya padaku. Sebagai aktivis dan kembang kampus, tak kurang lelaki yang jatuh hati dan menginginkan diriku. Tapi kupilih Bram dari yang lain karena kutahu dialah laki-laki yang tepat untukku. Yang mencintaiku dengan tulus, lebih dari lelaki manapun,” katanya lagi dalam hati.

Bahwa suaminya mempunyai banyak teman perempuan, memang ya. Beberapa kali digosipkan punya hubungan khusus dengan rekan kerjanya, iya juga. Bahkan dituduh telah menikah siri dengan seorang mantan artis lokal. Tetapi itu tidak meruntuhkan kepercayaan, cinta dan kesetiaan Arum pada suaminya.. Arum mengerti bahwa sebagai tokoh publik yang seringkali tampil di media massa, suaminya jadi sorotan, selalu dicari-cari saja kesalahan dan kelemahannya. Sementara sebagai dosen suaminya juga banyak dikagumi mahasiswi dan rekan kerjanya. Dan sebagai seniman dia sangat menyukai keindahan, kecantikan.
”Tetapi aku tahu semua tak lebih dari persahabatan. Tak lebih dari itu. Dan akupun sama, aku juga suka kok melihat keindahan, mahasiswa atau teman kerja yang tampan. Tetapi untuk selingkuh? Tidak pernah terpikirkan olehku. Hingga dua belas tahun pernikahan kami.” Katanya pula dalam hati. Meski tak dia pungkiri terkadang ada juga sebersit rasa pilu dan cemburu di relung hatinya yang paling dalam, setiap mendengar gosip tentang suaminya.

Baca Juga:  “Jam 2.45”)

”Ada apa tante, kok sepertinya melamun?” Ratih, ibunya Krisna menegur Arum, dia suka membahasakan putranya Krisna dengan memanggil Arum, tante.
” Gakpapa kok mba…” jawab Arum cepat-cepat, khawatir lamunannya terbaca orang lain ”Sudah selesai to latihannya?” Katanya sambil membenahi peralatan taekwondo milik putrinya yang baru saja datang bersama Krisna dan Ratih.
Sekilas matanya memandang ke arah aula. Laki-laki itu juga sedang membenahi peralatan latihan yang dibawanya. Masih mengenakan dobok, baju taekwondonya. “Ach, gagah nian dia…” bisik hati Arum.
” Sudah nih, itu…papanya Dea juga sudah jemput!” Kata Ratih lagi sambil menunjuk ke arah jalan. Arum terkejut,” Ohya, pamit dulu ya..! See you.” katanya.
“ Ok, see you too…”balas Ratih.

Suaminya dari jauh melambaikan tangan.
”Lain kali papa aja deh yang antar Dea latihan….” katanya sambil cemberut.
” Lho, emang kenapa?” tanya suaminya
”Mama bosan!!” jawabnya asal-asalan. Menutupi hatinya yang serasa berat karena harus meninggalkan gelanggang mahasiswa dan berpisah dengan Andre. ”Kau mau istrimu selingkuh?” katanya berlanjut, tapi hanya di dalam hati.
Seperti anak kecil yang kehilangan balonnya, dia kecewa harus meninggalkan pandangan dan berpisah dengan pelatih anaknya itu. ”Mestinya aku tadi menghampirinya dulu, mengucapkan terimakasih telah melatih Dea dan berpamitan. Rugi aku jadinya, nggak melihat matanya yang indah dan senyumnya yang menawan”. Katanya dalam hati. Ingat istilah rugi yang dia gunakan untuk memaknai kekecewaan dia tertawa sendiri.
” Ada apa ma?” serentak suami dan putrinya bertanya.
”Tidak ada apa-apa” jawabnya asal-asalan ” Ingat lawakan di stand up comedy aja.”

***

Hari-hari berlalu, Arum gelisah menunggu hari Minggu. Jumat kemarin, kegelisahannya terbaca Retno. ”Bu Rini, saya curiga tuh sama Bu Arum…sepertinya dia aneh deh akhir-akhir ini.”
” Aneh gimana? ” Tanya Rini.
”Kayak orang sedang jatuh cinta gitu” Jawab Retno.
”Ha?!” Arum teriak ” Siapa yang jatuh cinta? Bu Retno ini ada-ada saja lho.” Kata Arum, sambil cepat-cepat menghindar., ke luar ruangan, menuju toilet. Takut rahasia hatinya terbongkar.

Ya, Arum memang gelisah. Ingin segera bertemu lelaki muda yang telah mencuri perhatiannya dengan matanya yang indah itu. Semalam dia sms lelaki itu..” Tolong…saya dipeluk ya!”
” Kenapa?” Tanya laki-laki itu
”Dingin,” jawab Arum.
”Boleh..” balasan sms pun begitu cepat datang.
Dan semalaman Arum tertidur nyenyak serasa dalam dekapan lelaki itu. Suami yang berada di sampingnya tidak tahu apa yang sedang dirasakan istrinya. Apa sih yang bisa memenjara pikiran dan rasa seseorang? Tidak ada, tidak lembaga negara, tidak pula lembaga perkawinan, ataupun keluarga. Hanya diri dan pikiran kita sendirilah yang bisa mengontrolnya.

Mereka punya kesepakatan untuk menjaga privacy masing-masing. Arum tidak pernah menyentuh dompet ataupun telepon seluler milik suaminya, begitupun sebaliknya Bram, tidak pernah membuka apalagi membaca telepon seluler milik istrinya. Mereka berfikir dengan demikian masing-masing tidak merasa terpenjara oleh status perkawinan. Cukup saling percaya bahwa masing-masing akan menjaga komitmen perkawinan untuk selalu bersama dalam suka dan duka, hingga kaki-nini dan maut memisahkan mereka berdua.

Hari ini hari Minggu, bangun tidur Arum mengalunkan lagu Hello nya Lionel Richie. Hatinya berbunga-bunga. Aura cantik dan harum menyebar dari tubuhnya yang kuning langsat. Semalam dia merasa tidur dalam pelukan laki-laki muda itu. Hari ini dia mau bertemu. Dikenakannya kostum kesayangan di luar tugas dia mengajar, t-shirt putih dan celana blue jeans. Dia tampak seperti gadis remaja. Rambut yang biasa disanggul rapi dia biarkan tergerai hingga di atas pinggang

Baca Juga:  Rembulan Di Mata Ibu

Pagi ini Arum harus mengantar Dea sendiri ke Gelanggang Mahasiswa,karena suaminya pagi-pagi sekali sudah harus berangkat ke bandara dan terbang ke Ibukota untuk menemui relasi dari luar negeri yang kebetulan mampir di Indonesia. Dari arah Monjali, tempat tinggal mereka, dia arahkan mobil merahnya pelan-pelan menuju ke timur. Hatinya gelisah. Berfikir apa yang harus dilakukannya ketika bertemu sang pelatih itu nanti, setelah semalam dia merasa tidur dalam pelukannya. Hah. Ada perasaan malu, menyelinap dalam hatinya. Kenapa dia harus sejauh itu.
”Ach, aku toh nggak benar-benar melakukan. Itu kan hanya imajinasi. Lagi pula apa salahnya dipeluk orang” bisiknya pada diri sendiri.
”Tapi, pelukan yang kamu rasakan beda, itu selingkuh,” bisik hatinya yang lain.
”Tapi kan nggak selingkuh fisik, hanya sedikit saja…selingkuh rasa ” belanya pula, menutupi perasaan bersalah.
” Mama dari tadi melamun, ngapain sih ma? Dah sampai tu!” seru Dea mengagetkan Arum.
” O yaya…” \jawabnya sambil terus memarkirkan mobil.
Hatinya gelisah. Keringat dingin keluar dari dahi dan telapak tangannya. ” Haduh, kayak menghadapi sidang munaqosah thesis saja,” keluhnya.

Keluar dari mobil, Dea segera menggandeng mamanya. Ya, seberani-beraninya anak itu, masih saja suka menggelendot ibunya bila berada pada tempat yang baru.Tetapi ketika kemudian dia lihat Krisna, segera saja dia berlari menghampiri dan meninggalkan ibunya.
Sendirian, Arum merasa limbung. Sekilas matanya bersitatap dengan lelaki yang dalam khayal semalam memeluknya. Hatinya bergetar. Dan Arum terkejut ketika pandangannya terantuk pada perempuan manis berambut sebahu yang duduk sangat lekat di samping Andre.
“Siapa dia?” tanyanya dalam hati, tiba-tiba hatinya berdegup kian kencang.
“Muridnyakah? Ach bukan…. dia tidak seperti anak SMA, tidak juga seperti mahasiswa. Aku juga belum pernah melihat gadis muda itu latihan taekwondo di sini. Lagi pula cara duduknya itu…tidak biasa, seperti ada hubungan khusus dan kemesraan yang keluar dari bahasa tubuhnya. Andre juga jadi salah tingkah begitu…” kata hati Arum, sekilas matanya menangkap kegelisahan dan kebingungan di raut muka laki-laki muda yang telah mencuri hatinya itu..
“Jadi, pacarnyakah? Haduh, bagaimana ini?!” keluhnya dalam hati. Tersembul rasa malu dan cemburu.
Untung Ratih, melambaikan tangannya. Merasa terselamatkan Arum menyegerakan langkah menuju ke tangga gedung, tempat orang-orang duduk, menunggu latihan dimulai, hanya dengan menebar senyum pada mereka yang dilalui, anak-anak yang mau latihan dan orang tua mereka, tanpa sapaan ” Selamat pagi” atau pertanyaan ”Apa kabar?” seperti biasa dia lakukan.

” Siapa itu mba?” tanya Arum pada Ratih, setelah duduk dan menenangkan hatinya yang gundah gulana.
” Istri sabeum Andre katanya… ” jawab Ratih datar-datar saja, tanggap siapa yang ditanyakan Arum, karena memang perempuan muda itulah satu-satunya orang asing yang juga tidak pernah dilihat sebelumnya.
“Ha?!” Arum terkejut. Serasa disambar petir, tubuhnya lunglai. Terbakar rasa malu, teringat yang dilakukannya semalam.
“ Kenapa terkejut?” tanya Ratih
“ Gakpapa? Gak tahu aja, anak semuda itu sudah menikah” jawab Arum,”Iya, kenapa sejauh ini dia tidak bercerita tentang istrinya dan kenapa pula aku tak pernah berfikir untuk bertanya tentang statusnya? Dasar stupid and crazy….sukanya ukur baju badan sendiri!,” sesalnya pada diri sendiri, di dalam hati.
Dengan mata panas dan tegang karena berusaha keras menahan air yang hendak tumpah, Arum memencet tuts telepon seluler dan terkirim ke Rini, teman mengajarnya, sebuah sms berbunyi,” Aduh Bu Rini…aku patah hati”
” Syukur…!hahaha…!!” jawaban sms pun dengan cepat muncul di telepon selulernya.

Tersenyum kecut.
Arum puh luruh.
Dunianya serasa runtuh.
Satu-satu daun-daun cemara di atasnya jatuh.
Yogyakarta, 12 Juni 2012