Dewi Sartika: Keluarga Outlaws yang Terlupakan

171

Oleh : Isfandiari Mahbub Djunaidi

Tanggal 21 April kemarin di pagi yang hangat pukul 08.00 WIB. Saya mengantarkan Jasmine ponakan tercinta ke Taman Kanak-Kanak Lalu Lintas Bandung. Ia dan sobatsobat kecilnya bergabung pakai kebaya berbagai daerah. Ibu guru memimpin menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini. Suasana lumayan gaduh, beberapa anak punya jiwa pemberontak dan ogah mengikuti seremonial ini. Habis nyanyi mereka girang diajak naik andong keliling Kota.

Entah kenapa tiap kelahiran R. A. Kartini saya teringat R. A. Dewi Sartika. Secara geografis ia bukan orang Jepara tapi dekat-dekat di Bandung. Ia juga juga bukan mojang sembarangan dan punya andil besar sepertihalnya Kartini. Mereka berdua sama-sama geram melihat wanita hanya sebatas patih goah semata. Menurut ibu Dewi, atas dasar egoisme dan superior lelaki, para mojang cuma jadi patih di goah atau belakang rumah tempat menyimpan makanan. Satu hal lagi yang membuat saya terkenang beliau, ia berontak dengan kondisi yang lebih sulit ketimbang yang dialami Kartini.

Ayahnya R. Rangga Somanagara, patih Bandung tergolong outlaws dan dibuang Belanda ke Ternate atas tuduhan percobaan pembunuhan Bupati Bandung R. A. A Martanagara dan pejabat kota tahun 1883. Bu Dewi yang sedang asyik sekolah di kelas III ELS (Europesche Lagere School), harus berhenti dan mengungsi di rumah pamannya, Patih Cicalengka. Dari sisi ini saja, penderitaan Dewi yang diasingkan kerabatnya jauh melebihi Kartini yang ‘cuma’ kena pingitan dari keluarganya.

Biar begitu ia tetap tegar. Tabu buat perempuan Sunda yang baru menikah di usia 25 tahun tak dihiraukan. Ia keukeuh melobi Bupati Martanagara dan inspektur sekolah C. Den Hammer mendirikan Sakola Istri pada 16 Januari 1904. Ia merasa akan menghadapi hambatan jika tak disokong pak Bupati. “Sayang masih banyak diantara orang-orang setanah air saya yang rupanya selalu berusaha untuk lebih dahulu menentang segala yang baru”, katanya.

Baca Juga:  Kuda Troya dan Runtuhnya Benteng Kita

Ceritanya sungguh unik, bupati inilah yang membuang ayahnya hingga wafat di Ternate. Di sisi lain, ia butuh pak Bupati untuk melicinkan jalannya mendirikan sekolah. Dalam beberapa literatur disebutkan, Martanagara cukup terkejut menghadapi putri orang yang dibuangnya. Saat Dewi membeberkan rencananya, timbul rasa haru dan kagum. Iapun merestui gagasan ini seraya berkata, “Nya atuh Uwi (pangilan Dewi sartika), ari Uwi panting jeung kekeuh hayang mah, mugi-mugi bae dimakbul ku Allah nu ngawasa sekuliah alam, urang nyoba-nyoba nyien sakola sakumaha kahayang Uwi. Pikeun nyegah bisi aya ka teu ngeunah di akhir, sekolah the hade lamun di pendopo wae heula. Lamun katanyaan henteu aya naon-naon, pek bae pindah ka tempat sejen”. Begitulah jalannya sejarah.

Para mojang yang baru mekar itu dibimbingnya dengan pengetahuan umum juga keterampilan putri untuk modalnya kelak. Sekolah tadi berganti nama jadi Sakola Kautaman Istri tahun 1910 dan ganti nama lagi jadi Sakola Raden Dewi (1914). Perkembangannya sangat pesat. Selain di berbagai daerah di Jawa Barat sekolah ini juga berdiri di Sumatera Barat. Atas jasanya ini ia diberi bintang penghargaan dari Hindia Belanda, bintang mas (gouden Ster) juga anugrah pahlawan nasional tahun 1966. Saat itu ia berkata, “Menurut pendapat saya, barangkali dalam hal ini bagi wanita tidak akan sangat banyak berbeda dengan pria. Disamping pendidikan yang baik, ia harus dibekali pelajaran dengan sekolah yang bermutu. Perluasan pengetahuan akan berpengaruh kepada moral wanita pribumi. Pengetahuan tersebut hanya diperolehnya dari sekolah”, kata Bu Dewi yang konon tomboy ini.

Dewi tak setenar Kartini. Juga oleh orang Jawa Barat sendiri. Perayaan kemenangan wanita Indonesia diperingati pada 21 April, hari lahir Kartini. Momen kelahiran ibu Dewi yang 4 Desember 1884 tak banyak diingat. Tak ada kejadian berarti di hari-hari itu, tak ada arak-arakan andong apalagi lagu khusus mengenang mojang pemberani ini.

Baca Juga:  Sisi Lain yang Perlu Kita Ketahui Tentang Peristiwa 10 November

Kondisi ini memang sudah diciptakan sejak jaman Belanda. Latar keluarga Dewi Sartika yang pembangkang tentulah nggak lolos litsus dan menganggap ibu Dewi bukanlah apa-apa. Lha, masalahya apakah predikat bukan apa-apa, atau setidaknya tidak terlalu apa-apa dilestarikan hingga kini?

Ini pekerjaan moral warga Jawa Barat sampai saat ini. Don’t fades away Bu Dewi

*Direktur Umum Motorplus