Ditolak Bukan Berarti Dunia Kiamat. Buntut Penolakan Revisi Visi Misi Prabowo-Sandi

517

Ditolak, Revisi Visi Misi Prabowo-Sandi Tak Lagi Muncul di Situs KPU Begitu judul yang saya baca di majalah berita mainstream. Sebelumnya, debat antara pendukung paslon petahana dan Prabowo-Sandi meramaikan jagad pemberitaan media daring tanah air. Saya pun sempat menanggapinya dengan menulis di Seword dengan judul Tudingan Revisi Visi Misi Prabowo-Sandi Menjiplak Punya Jokowi-Maruf, Cara Kerja Wartawan Dan Mahasiswa Mbeling.

Ditolak = Kiamat?
Bisa jadi bagi sebagian orang yang manja. Entah berapa banyak berita yang saya baca yang intinya ada orang yang alergi terhadap penolakan. Seorang anak tega membunuh neneknya sendiri karena tidak diberi uang untuk membeli hape. Anak durhaka lainnya menyembelih ibunya sendiri karena tidak dikabulkan permintaannya untuk membeli motor. Semua saya baca lewat koran. Suatu kali saya mendengarnya langsung. Ketika bertugas di negeri empat musim, saat musim dingin, saya mendengar begita yang begitu membekukan kalbu. Seorang gadis bunuh diri karena ditolak cintanya oleh seorang cowok pujaan hatinya. Saat saya telusuri lebih lanjut, ternyata seumur hidup, anak orang kaya ini tidak pernah mendengar kata, Tidak! dari kedua orang tuanya. Cara mendidik yang memanjakannya inilah yang justru membunuhnya.

Lagu Cengeng plus Gembeng
Ternyata fenomena alergi penolakan ini menular ke para pencipta lagu. Lagu-lagu sentimentil dibuat untuk mewadahi orang-orang yang gampang patah untuk sesuatu yang sepele. Coba perhatikan lirik di bawah ini:

Why does the sun go on shining.
Why does the sea rush to shore.
Dont they know its the end of the world
Cause you dont love me anymore.

Atau lagu terbaru yang baru memenangkan hadiah bergengsi yang berjudul “Ive Never Love Again” yang dinyanyikan dengan apik oleh Lady Gaga dan Bradley Cooper dalam film Star is Born.

Baca Juga:  Suhu Politik 2019 Mulai Terasa, Dimana Relawan Jokowi Berada?

Don’t wanna feel another touch
Don’t wanna start another fire
Don’t wanna know another kiss
No other name falling off my lips
Don’t wanna give my heart away
To another stranger
Or let another day begin
Won’t even let the sunlight in
No, I’ll never love again
I’ll never love again, oh, oh, oh, oh

Apa kesamaan dua laguyang satu jadul yang lain baruini? Bau pesimisme yang menguar dan menular. Dua-duanya merasa tidak bisa mencintai lagi karena ditinggalkan oleh pacarnya. Lagu pertama “The End of the World,” lebih parah, karena matahari pun dilarang bersinar, dan laut tidak boleh mencium pantai hanya karena kekasihnya tidak lagi mencintainya. Edan. Gila! Apa pun!

Bagaimana dengan Prabowo?
Saya percaya mantan danjen Kopasus ini tough! Beberapa kali dia kalah dalam kontestasi baik sebagai cawapres maupun capres. Toh tidak kapok juga? Artinya, semangat juangnya oke.

Saya tidak tahu apa yang timsesnya lakukan setelah revisi visi dan misi mereka ditolak. Kembali ke visi misi semula? Bisa jadi, tetapi kurang bertaji. Mengapa? Hanya 14 halaman. Sementara milik petahana lebih lengkap. Rakyat bahkan bisa melengkapinya dengan hasil nyata infrastruktur yang dibangunnya. Akhir Desember lalu, anak perempuan saya yang tinggal di Jakarta, bersama menantu saya, mencoba tol Jakarta-Surabaya. Enak dad, lancar, jawabnya sambil tersenyum sumringah.

Awal Januari ini saya dan keluarga giliran menjajal tol Surabaya-Solo. Hanya dua setengah jam. Anak sulung saya yang pulang malam pada hari itu juga malah bisa memangkas waktu lebih banyak lagi. Sepi sekali Pa, ujarnya.

Eya Catching Tidak Cukup
Salah satu alasan revisi visi misi Prabowo-Sandi adalah masalah tata bahasa dan agar lebih eye cathing. Saya setuju kemasan harus menarik. Sebagai penulis buku dan artikel, judul memang perlu. Namun, jauh lebih penting adalah isinya. Isi adalah panglima! begitu yang sering saya katakan kepada para peserta seminar atau workshop tulis-menulis yang saya pimpin. Dengan isi yang yahud, pembaca pasti hanyut.

Baca Juga:  Pulang Malu, Tidak Pulang Rindu

Saya berharap, direvisi atau tidak, visi misi terbaik adalah saat diterapkan menjadi aksi. Tanpa tindak lanjut secara tegas, jelas dan terukur, sebagus apa pun visi misi, hanya jadi hiasan di dokumen. Impementasi yang cepat dan menyeluruh sangat dinantikan oleh rakyat yang sudah bosan mendengar ancaman bubar dan punah.
Mari berbenah!