Doel dan Suara Gamang Perempuan

Siapa yang tidak mengenal sinema Si Doel Sekolahan, yang di era 90-an menjadi tayangan favorit di Indonesia. Karena kita akan tergelak tertawa dengan lepas menyimak banyolan obrolan Babe Sabeni, Mandra, Mas Karyo dan Atun yang mengocok perut. Dengan logat betawi yang khas, lugas dan menyegarkan diantara perbincangan serius dan kaku pemeran utama lainnya. Maka kemarin saya ikut menikmati suguhan film si Doel Anak Sekolahan, selain bernostalgia dengan hiburan itu di masa silam, juga ingin mengetahui bagaimana lanjutan kisah cinta segi tiga antara Doel, Sarah dan Zaenab.

Bicara cinta segi tiga, empat, lima dan seterusnya. Saya jadi membandingkan dengan kisah di film lain, sebut saja Ayat-ayat Cinta atau Surga yang tak dirindukan, tentang perebutan posisi perempuan di samping (baca : hati) lelaki. Seolah menjadi tradisi tentang perempuan yang mau diduakan, ditigakan dan seterusnya. Meski dalam film Doel tidak secara eksplisit bicara poligami, tetapi ketika status perkawinan Doel dan Sarah menggantung selama 15 tahun, hingga ketika menikahi Zaenab statusnya adalah nikah sirri. Saya tidak tahu ketika membuat skenario jalan kisah yang seperti itu, apakah tim kreatif sudah mempertimbangkan dengan matang bagaimana cerita dalam film ini bisa mempengaruhi penonton. Sebab, apapun alasannya nikah sirri jelas sangat merugikan perempuan. Memposisikan perempuan menjadi lemah dan tak punya daya tawar.

Meskipun di akhir cerita, Sarah memilih bercerai dari Doel dan menyerahkan semua dokumen yang dibutuhkan dalam proses perceraian, sehingga Doel bisa meresmikan perkawinannya dengan Zaenab dalam catatan negara. Ketika Sarah meninggalkan Doel, dia dalam kondisi hamil 3 bulan. Tetapi selama 15 tahun itu Doel belum pernah bertemu dengan anak yang dilahirkan Sarah. Rentang waktu 15 tahun rasanya tidak masuk akal, karena di era serba internet ini kita akan mudah melacak keberadaan orang lain melalui jaringan media sosial. Setidaknya bagi seorang lelaki ketika menyadari dia memiliki anak dari perempuan yang sudah dinikahinya. Terlebih jika lelaki itu dibentuk dengan karakter anak sholeh, yang kerjaannya sembahyang dan mengaji. Dia akan mencari, dengan jalan apapun agar bisa mengetahui bagaimana kabar dan perkembangan anaknya itu. Bahkan di dalam kisah film ini, Doel berkawan baik dengan Hans, yang diketahui pula bersaudara dengan Sarah.

Baca Juga:  Banjir Bulan Desember

Hal-hal demikian yang ketika menonton film ini mengusik pikiran. Meski dalam beberapa adegan, saya juga cukup merasa puas dengan aksi Mandra yang mampu mengundang gelak tawa dari awal hingga akhir. Ditambah dengan dialog dramatis saat Doel dan anaknya yang juga dinamakan Doel bertemu di Bandara. Saya ikut larut menangis, dan hampir seluruh orang dalam gedung theater menitiikan air mata. Merasakan keharuan karena dari hubungan awal yang alot dan kaku tanpa komunikasi sama sekali, hingga Doel junior mau menyapa, bicara dan memeluk ayahnya agar mau tinggal bersama dia di Belanda. Lalu menahan Doel agar tidak kembali Indonesia. Tetapi Doel harus kembali. Ada Enyak (Ibu) yang sudah lumpuh dan tak bisa melihat karena penyakit yang diderita dan harus dia rawat, ada Zaenab yang juga sudah menunggunya di rumah dengan harap cemas.

Dalam kisah film Doel Anak Sekolahan kali ini, saya menangkap suara gamang perempuan. Sarah yang memilih pergi dengan anaknya meninggalkan Doel, berusaha membenci tapi justru semakin mencintai. Kegamangan Sarah untuk melangkah meski akhirnya minta pada Doel agar diceraikan. Lalu ada Zaenab yang rela dinikahi sirri selama belasan tahun. Meski tahu Doel sudah beristrikan Sarah dan memiliki anak darinya, tapi ditinggalkan begitu saja. Penonton akan melihat Doel sebagai lelaki tak berdaya yang ditinggalkan perempuan, tetapi bagi saya Sarah dan Zaenab justru adalah jawaban atas kegamangan perempuan, yang tak punya pilihan lain selain mencintai lelaki yang sama. Dan langkah yang telah diambil Sarah dan Zaenab juga bagian dari realitas perempuan di negeri ini, yang menjalani takdirnya dengan suka rela tanpa perlawanan yang berarti. Bukan tak mampu, tetapi lebih memilih untuk diam, menyimpan semua kegetirah agar bisa memiliki rasa damai dalam hati.

Baca Juga:  Dukung Densus 88 Untuk Menumpas Habis Teroris
Penulis Adalah Aktivis Perempuan, Penggila Baca, Penyuka Sastra dan Hobi Menulis. Tinggal di Indramayu