Embah Hardijono Peringati Hari Kemerdekaan di Usia 92 Tahun

19
Embah Hardijono Peringati Hari Kemerdekaan di Usia 92 Tahun
Ilustrasi (detik.com)

SERIKATNEWS.COM – Sosok embah Hardijono berdiri memberikan sikap hormat di depan bendera Merah Putih yang menancap di halaman rumahnya. Mayor Purnawirawan TNI-AD itu tetap berusaha merayakan kemerdekaan Indonesia walau usia sudah 92 tahun.

Beberapa tahun terakhir ini, Hardijono memang sudah tidak sanggup beraktivitas banyak sehingga upacara yang dulu sering dihadiri harus dilewatkan. Akan tetapi, hal itu tidak mengurangi keinginannya memperingati hari kemerdekaan.

Di depan halaman rumahnya, di Jalan Tentara Pelajar nomor 23 Semarang, tertancap tiang bambu untuk mengibarkan bendera Merah Putih. Hardijono pun berdiri di depannya dan memasang sikap hormat tepat di jam detik-detik proklamasi.

Tidak sampai dua menit, Hardijono masuk tertatih ke ruang tamu dan duduk beristirahat. Buyut dengan 12 cicit itu mulai bercerita penggalan kisah hidupnya pada masa penjajahan.

“Ikut perang itu sejak umur 19 tahun, di Badan Keamanan Rakyat,” kata Hardijono mengawali ceritanya, Jumat (17/8/2018).

Kala itu, anak- anak muda memang dikumpulkan untuk berjuang dan bertempur melawan pasukan Belanda. Embah kelahiran 28 April 1926 itu masih ingat betul strategi membuat Belanda bingung, kemudian merebut persenjataan mereka.

“Jadi waktu itu patroli bersama dengan tentara pelajar. Tapi kalau siang kami (menyamar) jadi petani, jual es degan (kelapa muda) sambil memantau Belanda, berapa pasukannya, senjatanya di mana. Jadi Belanda bingung, pas siang tidak ada musuh kok kalau malam ada,” ujar Hardijono.

Dari strategi patroli itu, pejuang Indonesia bisa bergerak bebas dan langsung menyerang pasukan Belanda pada malam hari. Setelah itu, senjata Belanda dilucuti dan direbut.

“Kita menyerangnya bukan menembak tapi dipiting, terus tikam. Ya pakai pisau atau bambu runcing,” ujarnya.

Baca Juga:  Kesederhanaan Seorang Aktivis

Itu hanya sepenggal kisah Hardijono menghadapi Belanda. Saat itu ia dan teman-temannya berkali-kali harus menghindari serangan senjata bahkan mortir yang ditembakkan dari pantai.

“Pernah di Brumbung (Demak), ada tembakan, bom dari laut. Kita langsung pindah,” ujarnya.

Pertempuran demi pertempuran dilewati Hardijono hingga akhirnya Presiden Soekarno membaca Proklamasi. Namun kala itu Hardijono dan kawan-kawan tidak bereuforia karena bersiap kembali menghadapi Belanda setelah Jepang mundur.

“Setelah proklamasi kita tetap berjuang karena Belanda datang lagi. Malah gabungan, ada Belanda ada Jepang,” ujarnya.

Melihat rekannya ditembak atau gugur dalam pertempuran bukan hal asing bagi Hardijono. Namun ia bertekad merebut Indonesia dari para penjajah dengan penuh keberanian.

“Dulu berjuang itu tidak mikir gaji, ya berjuang. Ayo maju usir penjajah!” tegasnya.

Hardijono pada masa mudanya pernah bergabung dengan Angkatan Muda Kereta Api, Tentara Kemanan Rakyat dan sekarang TNI. Ia juga pernah memimpin pasukan dalam operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat.

Pada saat ini, Hardijono menghabiskan masa tua di tempat tinggalnya bersama anak dan cucu. Ia pun punya pesan kepada anak muda agar mempertahankan kemerdekaan serta berjuang untuk masa depan bangsa.

“Anak muda bersatulah, raih pendidikan. Kita harus lihat masa depan bangsa, harus ditingkatkan, jangan mau kalah dengan luar negeri. Jangan sebar fitnah lewat hp (handphone), jangan sembarangan anak diberi hp, belajar yang betul, harus awas dan waspada. Dan jangan narkoba,” kata Hardijono.

Ia pun bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamar untuk beristirahat. Sebelum berjalan, Hardijono mengepalkan tangan dan memekikkan sebuah kata, “Merdeka!”