Etika Perbedaan dalam Islam

Dewasa ini manusia di berbagai belahan dunia menghadapi berbagai masalah, dalam bidang sosial, politik, agama, budaya, ekonomi, dan lain sebagainya. Ragam masalah yang datang tersebut menjadi tantangan yang harus disikapi. Penyikapan atas beragam tantangan tersebut tentunya berbeda-beda.

Diantara perbedaan dalam menyikapi tantangan tersebut, ada yang berhasil hingga mencapai persatuan, keharmonisan, dan kemakmuran. Tidak sedikit juga yang gagal, malah perbedaan menjadi perpecahan, kesenjangan dan lebih parahnya menjadi krisis yang menyebabkan keterbelakangan. Sejarah dunia banyak menceritakan bagaimana sebuah negara-bangsa bahkan peradaban hancur karena kegagalan dalam menyikapi perbedaan.

Manusia memang ditakdirkan berbeda. Perbedaan merupakan fitrah atau kodrat penciptaan manusia. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.”

Ayat tersebut dengan tegas menyatakan bahwa perbedaan adalah sebuah kodrat penciptaan manusia. Perbedaan jenis kelamin, ras, etnis, bahasa, budaya merupakan anugerah yang terberi begitu saja dari Allah swt supaya kita saling mengenal diantara manusia satu sama lain. Supaya kita saling merekognisi, memahami satu sama lain. Kiranya inilah suatu kodrat akan intelektualisme yang disandang manusia. Perbedaan demi merekognisi.

Ayat tersebut juga memberi pernyataan bahwa, sesama manusia adalah setara (equal). Hanya ukuran ketaqwaan seseorang yang menjadikannya lebih mulia di hadapan Allah. Maka, tidak boleh seseorang atau sekelompok manusia diperlakukan tidak setara, didiskriminasi hanya karena berbeda kelamin, etnis, ras, bahasa, kebudayaan dan segala faktor yang terberi begitu saja dari Allah SWT. Kesetaraan dan tanpa diskriminasi inilah pokok nilai universal Islam dalam menyikapi perbedaan.

Baca Juga:  Jokowi dan Ma'ruf Amin Vs Prabowo dan Sandiaga Uno Mana yang Paling Banyak Saat Kita Mengklik Di Google?

Selain sebagai fitrah manusia, perbedaan merupakan sebuah keniscayaan. Hal itu disebabkan banyak konteks, baik waktu, tempat, maupun keadaan yang melatari manusia. Terlebih, manusia dibanding mahluk lainnya ciptaan Allah SWT dianugerahi sebuah potensi yaitu akal pikiran. Potensi yang menjadi distingsi, pembeda antara seseorang dengan lainnya. Lain hidung, lain kepala. Lain kepala lain pikiran. Sebuah potensi yang dapat menyebabkan kita lebih maju atau lebih terpuruk.

Potensi akal pikiran manusia mendorong terciptanya perubahan. Suatu hukum alamiah bahwa segala sesuatu mengalami perubahan. Meminjam sebuah kutipan dari Presiden Amerika Serikat ke-35, John Fitzgerald Kennedy, “Change is the law of life. And those who look only to the past or present are certain to miss the future”. Perubahan merupakan hukum kehidupan. Barangsiapa yang hanya melihat ke masa lalu atau ke masa kini belaka, maka ia akan kehilangan masa depan.

Jelas sekali bahwa, perbedaan yang berasal juga dari perubahan mengantarkan kita menuju masa depan. Kita tentunya memilih masa depan yang lebih baik. Perubahan yang lebih baik sesuai dengan prinsip moderasi yang telah kita kenal, “al-mufadzoh ‘ala al-qadim al-sholih wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah”.

Namun masa depan lebih baik yang kita pilih itu, tentunya hanya akan terwujud bergantung pada bagaimana cara kita menyikapi perbedaan pendapat tentang mana yang lebih baik?

Para ulama terdahulu banyak memberi teladan dalam menyikapi perbedaan yang seiring dengan perubahan, perkembangan jaman. Mereka memandang perbedaan pendapat sebagai sebagai sebuah anugerah.“Rahmah al-Ummah fi ikhtilaf al-`Aimmah”, anugerah umat Muslim terletak pada perbedaan pendapat para ulama.

Perbedaan pendapat ini oleh para ulama sering diistilahkan dengan tanawwu’ wa itsra’, perbedaan dengan sifat keberagaman dan variatif, yang menawarkan banyak solusi untuk setiap masalah. Zonder perbedaan yang menggiring umat kepada tanazu’ wa tudhad, perbedaan yang mengarah pada perpecahan dan konflik.

Baca Juga:  Fenomena Deparpolisasi dalam Rekrutmen Pemimpin

Maka demi menuju masa depan yang lebih baik itu kita perlu merumuskan etika, ditengah perbedaan. Pertama, penghargaan dan penghormatan atas pendapat orang lain. Bahwa seseorang memiliki akal pikiran yang perlu untuk kita hargai, zonder penghinaan terhadap pendapatnya. Ada sebuah riwayat bahwa Imam Syafi’i ketika berziarah ke makam Imam Abu Hanifah di Kuffah, beliau melakukan shalat shubuh tanpa qunut yang dipandang berseberangan dengan pendapatnya sendiri. Selesai shalat para jamaah yang berada bersamanya saat itu bertanya kenapa beliau meninggalkan qunut sementara menurut mazhabnya qunut shubuh adalah sunnah muakkadah. Dengan penuh rasa kedewasaan beliau menjawab: “Saya sengaja meninggalkan qunut sebagai penghormatan dan penghargaan kepada pemilik kuburan ini yang berpendapat bahwa qunut shubuh tidak disunatkan”.

Kedua, meniadakan klaim kebenaran sepihak. Kebenaran sebagai sesuatu yang dicari bersama-sama, bukan telah dimiliki oleh diri sendiri sehingga menegasikan kebenaran pendapat orang lain. Imam Syafi’I dalam hal ini juga memberi teladan, ia tidak mau mengklaim bahwa hanya pendapatnya yang paling benar dan tidak pernah salah seraya berkata: “Pendapatku adalah benar tapi masih ada kemungkinan salah, sementara pendapat orang lain adalah salah tapi masih ada kemungkinan benar”.

Ketiga, menghilangkan sifat sombong, dengki, dan kultus kebenaran. Kesombongan dan kedengkian semata dapat menutup hati untuk menerima kebenaran dari orang lain. Sementara itu pengkultusan terhadap diri sendiri atau seorang individu tertentu dapat melahirkan fanatisme, sehingga menganggap segala hal yang berasal dari seseorang merupakan kebenaran dengan harga mati. Kultus semacam itu tentunya mematikan nalar untuk menciptakan perubahan yang lebih baik, bukan?