Ferry Juliantono; Harapan Baru Untuk Masyarakat Jateng

Oleh: Syaifuddin Anwar Setep

Gagasan Ferry Juliantono untuk terus merawat Tradisi serta Kearifan lokal sebagai basis pembangunan di jawa tengah perlu mendapat dukungan banyak pihak khususnya warga jawa tengah sendiri. Bahwa budaya sebagai hasil dari proses cipta, karya dan karsa telah melahirkan sebuah sistem tatanan kehidupan yang sangat arif.

Budaya jawa tengah telah memberikan sumbangsih terhadapa kemajuan jawa tengah. Terbukti provinsi dengan 34 Kabupaten/kota ini menjadi daerah penyangga Ibu kota negara. Kekayaan alam serta SDM nya yang kuat, Jateng di sebut sebagai central of java.

Namun, keadaan saat ini tak semanis catatan sejarah, di bawah Kepimpinan saat ini, Jawa tengah mengalami kemunduran yang signifikan, Khususnya dalam hal kesejahteraan masyarkatnya. Beberapa survey mengatakan, Jawa tengah termasuk dalam 12 daerah termiskin di indonesia. Hasil kajian BPS tahun 2016, Pada tahun 2014  kemampuan Jateng menurunkan kemiskinan hingga 13,58 % namun pada tahun 2016 kemampuanya berada pada level yang lemah yaitu pada 13,19%.

Melimpahnya kemampuan menurunkan angka kemiskinan semakin di perparah dengan meningkatya ketimpang antar masyakarat. Jarak antara si kaya dan si miskin makin menjadi lebar. Mengapa? Sistem Pemerintah Saat ini lebih cendrung mengakomodir kelompok kaya kaya, jadi sangat wajar jika Segregasi yang kaya dan miksin semakin tak terbendung.

Dari segi APBD tahun ini, di bawah Kepemimpinan sekarang, hanya berhasil terkumpul pada Angka 23,4 T jauh di bawah APBD tetangganya jawa timur sebesar 32 T dan Jawa barat sebesar 28 T. Kondisi pahit ini semakin menjadi runyam akibat hubungan patronasi antara Konstiuen dengan parpol sehingga alokasi Anggaran untuk Belanja tidak langsung (dana hibah dan Bansos) sangat tinggi.

Fakta kesejahteraan bagi petani tak kalah ruwet dengan yang di atas, Penurunan Nilai tukar petani berdampak pada kesejahteraan petani juga ikut menurun. Kegagalan mengelola petani sama halnya gagal mengelola warga jateng. Kenapa? Sebagai daerah Agraris, sudah pasti warga jateng bergantung hidup pada alam. Hal ini di perkuat dengan Sumber BPS menunjukan 30% warga Jateng berprofesi sebagai Petani.  Pada bidang tenaga kerja, Prioritas pembangunan industri masih bertumpu di kawasan panturas saja, sehingga hal ini mengakibatkan kesenjangan terjadi di bagian selatan. Parahnya, Kesenjangan berujung pada kesempatan kerja warga tidak terjadi pemerataan.

Baca Juga:  The Equalitarian Style, Komunikasi Politik Ala Jokowi

Poros Ekonomi Baru Jawa Tengah 2022

“Sebagai daerah agraris, Ketergantungan masyarakat jawa tengah pada alam sangat kuat sekali. Sumber daya alam sebagai sumber pendapatan atau faktor penunjang penghidupan warganya. Kegagalan mengelola sumber daya alam sama halnya gagal mengelola jawa tengah”

Refleksi menjelang 5 tahun kepemimpinan sekarang menunjukan sebuah hasil yang kurang menyenangkan masyarakat kecil, khususnya petani dan buruh. Sistem pemerintahan menjadi keruh akibat hubungan patronasi klien yang begitu akut mengintervensi kebijakan. Fakta ini dapat kita lihat pada pembangunan semen di rembang yang menuai protes ribuan masyarkat kendeng. Wajar apabila masyarakat hari ini telah mengingikan wajah baru bagi kepemimpinan jateng

Pembangunan ekonomi di jawa tengah harus segera di lakukan agar kemiskinan di jawa tengah dapat teratasi dengan baik. Sektor pertanian sepatutnya menjadi skala  prioritas. Pembangunan infrastrukur pertanian dan  industri pasca panen menjadi langkah cerdas dalam membenahi pertanian. Kedua faktor tersebut akan mengangkat kekuatan pertanian, termasuk di dalamya petani.

Pembangunan kawasan selatan juga satu hal yang harus di kedepankan. kawasan selatan  seperti cilacap  purwokerto, banjarnegara juga tak kalah dalam hal potensi alamnya. Mendorong pembangunan di kawasan ini diharapkan akan mengurangi kesejangan dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.

Wajah Baru Untuk Jawa Tengah.

Harapan baru, dan pemimpin baru tentu ini sangat di butuhkan untuk sebuah  keberlangsungan regenerasi, dan pencarian bentuk ideal, kasih kesempatan terhadap yang lain untuk memimpin, tentu angin segar untuk masyarakat, karena rakyat butuh inovasi-inovasi terhadap kemajuan di Jateng. Kita butuh pemimpin-bicaranya dalam konteks ruang lingkup visi pandangan kedepan, dengan tujuan-tujuan visi-misi yang besar dan jauh kedepan, pengelolaan akan melaksanakan program-program berbasis kerakyatan yang ditunjukkan oleh pemimpin daerah.

Baca Juga:  Kasus Bhante ke Gereja Lidwina, dan Racun Figur Publik

Pemilihan Gubernur jawa tengah tinggal hitungan bulan akan di laksanakan. Warga Jateng, sekali lagi akan di minta untuk menggunakan hak politiknya dalam menentukan kepemimpinan lima tahun kedepan. Beberapa wajah baru telah bermunculan dan siap menantang wajah lama yang merasa belum puas duduk di kursi jateng 1.

Jawa tengah dengan kemiskinanya, Sepantasnya perlu wajah baru sebagai nahkodanya. Jawa tengah merupakan perahu mewah, menjadi mubaazir apabila di pimpin nahkoda seperti saat ini.  Bila terjadi lagi, Perahu ini di pastikan tidak mampu bergerak, parahnya bisa tenggelam.

Terbiasa dalam dunia pergerakan dan terlibat aktif dalam perjuangan Bersama petani dan nelayan. Ferry Juliantono menjadi figur yang perlu di menangkan dalam pemilihan gubernur mendatang. Kemampuanya dalam melakukan pembelaan masyarakat kecil terus di buktikanya dengan aktif dalam organisasi petani dan buruh.

Sebagai aktifis, Sudah pasti kang ferry memiliki bekal yang cukup untuk membangunan jawa tengah. Pengalamanya dalam memperjuangan ketidakadilan menjadi modal pemerataan pembangunan di jawa tengah.

*Penulis Adalah Mahasiswa Jawa Tengah