Opini

Filex Siauw Marah, Gara-gara tidak dikasih Kesempatan Orasi

Sumber Foto eramuslim.com

Siapa yang tidak kenal Filex Siauw? Ustadz yang suka dipanggung, dan suka cari panggung. Felix adalah seorang mualaf yang ngelunjak, kenapa begitu? Seakan akan dia yg paham, merasa memiliki umat yang boleh ku sebut “ke-kanan kananan, semoga tidak ke-kanak-kanakan, ia punya konsep strategi dakwah, cukup massif kampanye di media sosial, menjadi “darling” sudah coba cek di Facebook, Twitter, dan Instagram, selain itu termasuk menjadi aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang jelas anti nasionalisme.

Kenapa Filex menjadi daun? Ini jelas karna filex, suka mengiringi opini publik dan pinter cari popularitas, bahasane koncoku “pinter ngipas” filex orang yang ingkar terhadap NKRI, tidak sesuai dengan NKRI.

Filex selalu membenturkan Nasionalisme dangan islam, bagi Filex pembelaan terhadap nasionalisme tidak ada dalilnya. Filex tidak mengerti tentang kajian masyarakat multikulturalisme, tentang kebanggaan.

Mengutip Respon Adinda Safa dari Blora

Kemarahan Filex

Pasca Aksi Bela Palestina di Monas, Felix merasa marah, kesal, kecewa, gundah, campur aduk jadi satu.

Apa pasal? Tak lain dan tak bukan, lantaran ia gagal menyampaikan orasi di hadapan para penggemarnya yg sejak awal sdh berada di barisan paling depan.

Bagi orang yg merasa telah “menjadi besar“, tak mendapatkan panggung bisa bermakna “tak dihargai“, dan itu jelas mimpi buruk bagi seorang Felix.

Dalam akun FB-nya, Felix curhat. “Tiba-tiba Kyai Cholil Nafis, MC aksi maju dan minta panggung disterilkan, semua mundur kecuali pembaca ikrar dan pemuda, termasuk saya tetap di tempat awal“, tulis Felix.

Lalu datanglah Kyai Marsudi Suhud, meminta saya mundur disertai isyarat tangan sambil mendorong.. Saya heran“, tulis Felix berikutnya.

Para asatidz lain yg melihat, sambil marah menghampiri saya. Mereka tak tega saya diminta mundur dg cara seperti itu.”, tegas Felix.

Dari paragraf demi paragraf, Felix sebenarnya bermaksud merangkai sebuah kronologi, di mana telah terjadi “pendholiman” atas dirinya.

Felix, tampaknya sedang melakukan konstruksi sosial, yakni membentuk opini publik sesuai citra yg ia inginkan.

Disadari atau tidak, tatkala Felix menyebut bahwa  para asatidz marah atas perlakuan yg ia terima, maka Felix secara implisit ingin mengatakan, betapa tidak manusiawinya perlakuan yg ia terima.

Maka dengan begitu, kemarahan dia, secara apik disembunyikan, dan meski ia sendiri yang sebenarnya marah, namun seolah-olah  dia menerima dengan lapang dada, dan justru org lain yg marah dan tidak terima atas apa yg menimpa dirinya.

Pertiyiinnyi: Seberapa kasarkah dorongan Kyai Marsudi Suhud terhadap felix, shg para ustadz yg ada di situ merasa perlu utk marah? Apakah posisi Felix sdh pada level “dijengkak-kan” oleh Kyai Marsudi?

Terus terang, saya meragukan itu. Boleh jadi, Felix saja yg terlalu lebay dan cemen.

Pertanyaan besarnya adalah: Dalam kapasitas apa Felix naik dan berada di atas panggung? Bukankah ia tahu bhw Aksi Bela Palestina (ABP) adalah aksi yg disponsori oleh MUI bersama ormas Islam?

Mestinya Felix sadar bahwa ia bukan representasi dari ormas manapun, karena HTI bukan lagi bagian dari ormas Islam yg diakui di bumi Nusantara.

Sebagai propagandis HTI, Felix juga harus tahu diri, dan tidak memaksakan untuk naik ke atas mimbar. Cukuplah dia berada di bawah saja bersama kerumunan massa. Itu lebih baik. Bukankah begitu kawan..

Terlebih lagi, sdh jadi rahasia umum bahwa Felix adalah anti nasionalisme, pernah menyatakan talak tiga terhadap nasionalisme, termasuk juga  nasionalisme Palestina.

Tahun 2015 Felix pernah menulis. “Berhati-hatilah dalam perjuangan, jangan sampai niat kita membantu saudara kita yg tertindas di Palestina justru menjadi sesuatu yang buruk karna kita tidak mengerti duduk permasalahan dan akhirnya malah mendukung nasionalisme Palestina“.

Jadi jelas dan tegas, bahwa Felix tidak pernah mendukung kemerdekaan Palestina yg didasarkan pada ikatan nasionalisme, atau negara kebangsaan.

Jika Felix mendapatkan panggung, bisa jadi akan terjadi pembelokan materi aksi dari apa yang telah disepakati antara ormas Islam dan MUI.

Kekhawatiran ini cukup beralasan, sebab saat Ustadz Bahtiar Nasir melakukan orasi, tiba- tiba saja ia menuntut pembubaran MK. Ini jelas sudah keluar dari kesepakatan.

Tampaknya, Felix dan gerombolan HTI akan terus berusaha mencari panggung untuk bermain “Kuda Lumping“.

Ayo kang mas…Seruput kopinya, hisap dalam-dalam kreteknya, dan nikmati sensasinya.

#Semar Bodronoyo

Popular

To Top