Filosofi Dakwah Cinta, Sosial, dan Romantika

309

Judul Buku : Ayat-Ayat Cinta 2
Penulis : Habiburrahman El-Shirazy
Penerbit : Republika
Cetakan : XV, Desember 2017
Tebal : vi + 698 Halaman
ISBN : 978-602-0822-15-0

Kisah ini bermula saat suatu malam, Fahri teringat kembali bayang-bayang istrinya, Aisha, yang hilang di Palestina dan istrinya yang telah lama meninggal, Maria. Fahri yang kini tinggal di Edinburgh bersama Paman Hulusi, asisten rumah tangganya yang berdarah turki, masih sedih bahkan terkadan ia menangis saat mengingat dan menyesali kebodohannya membiarkan Aisha pergi bersama teman wartawannya ke Palestina.

Aisha dan teman wartawannya menghilang berkunjung ke Palestina. Teman wartawan Aisha ditemukan di pinggir jalan beberapa bulan setelah Aisha tak lagi dapat dihubungi. Berbagai upaya telah dilakukan Fahri agar dapat menemukan kembali Aisha, tapi tetap saja ia tidak dapat menemukan istrinya.

Kini, dua tahun sudah Aisha menghilang. Untuk menghilangkan kesedihannya. Ia mulai mengisi hari-harinya dengan menyibukkan diri sebagai dosen, menyibukkan dirinya untuk semakin dekat lagi dengan Pencipta-Nya dan sebagai pemilik minimarket dan butik yang dulu ia dirikan bersama dengan Aisha sekaligus memperbaiki citra Islam dan muslim di negeri pertama itu. Ia berbuat baik kepada masyarakat di sekitarnya tanpa memandang bulu. Termasuk membantu tetangga Yahudi-nya yang diusir oleh anak tirinya dari rumahnya, membantu tetangganya yang dengan terang-terangan membenci Islam untuk bisa menggapai cita-citanya menjadi pemain Biola terkenal dan pemain sepak bola terkenal dan mengizinkan seorang pengemis muslimah untuk tinggal di rumahnya yang kemudian diketahui bahwa pengemis itu bernama Sabina.

Hingga pada suatu hari, Keluarga Aisha datang berkunjung ke Edinburgh dan menyarankan kepada Fahri untuk menikah lagi dengan Hulya sepupu Aisha. Perang barunya apablia ia menikah karena ia takut tidak dapat mencintai istri barunya seperti ia mencintai Aisha. Berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan jawaban atas kegundahan hatinya, termasuk shalat Istikharah.

Baca Juga:  Cara Efektif Membatasi Makanan Karbohidrat

hingga Fahri memutuskan untuk menikah dengan Hulya. Dari pernikahannya dengna Hulya, Fahri memiliki anak laki-laki yang bernama Umar Al-Faruq. Hubungan Fahri dan Hulya pun semakin erat dengan adanya Umat. Sejak lahir, Hulya meminta kepada Sabina untuk menjadi ibu angkatnya Umar.

Selang beberapa tahun sejak kelahiran Umar, Hulya meninggal. Dan agar Umar dapat terus melihat wajah Ibunya, Hulya berwasiat kepada Fahri agar wajah Sabina dioperasi menjadi wajah Hulya. Hulya juga berwasiat kepada Fahri untuk menikah lagi dan menjual semua barang Hulya yang masih bisa digunakan lalu uang hasil jualannya digunakan untuk membangun masjid dan tempat untuk belajar membaca Alquran dan apablila ada barang Hulya yang tidak layak dijual, maka barangnya diberikan saja kepada orang yang lebih membutuhkan.

Dalam kesedihan Fahri ditinggal Hulya, ia bertanya kepada semua gurunya besarnya di pesantren dan di Universitas Al-Azhar tentang wasiat Hulya yang ingin wajahnya dan Sabina untuk dioperasi. Ada berbagai maxqam pendapat yang diterima Fahri, ada yang mengatakan itu haram karena sama saja dengan menyakiti mayat, tetapi ada juga yang mengatakan itu bisa saja karena itu adalah wasiat dari Hulya sehingga harus dilaksanakan. Hingga akhirnya Sabina untuk melakukan operasi untuk memperbaiki wajahnya dan agar Umar dapat terus melihat wajah Ibunya.

Sampai pada suatu ketika kehadiran Hulya berhasil mencairkan hati Fahri. Di sini kesetiaan Fahri diuji. Antara tetap setiap menunggu Aisha yang tidak berkabar atau melupakan Aisha dan membuka lembaran baru.

Namun lepas dari kekurangnya, buku ini memiliki sisi lain yang pastinya sangat direkomendasikan kepada pembaca. Penulis pandai mengirin pembaca untuk menyelesaikan buku hingga tamat untuk mengungkapkan kebenaran yang tersamarkan. Kita tetangga, harus saling membantu. (hal 38). Selain itu anjuran untuk mengemban dakwah menegakkan agama Allah.