Gempa Lombok Karena Sikap Politik atau Faktor Bencana?

79

Lombok sekarang tengah berduka pasca gempa 7 skala richter yang mengguncangnya beberapa waktu lalu. Sudah sepatutnya panjatan doa terbaik juga dukungan moral dan material kita alirkan pada masyarakat Lombok saat ini. Namun ironis, di tengah suasana duka begini, masih ada kelompok-kelompok tertentu yang justru menjadikannya sebagai landasan pijak untuk melontarkan hinaan dan cacian. Pasca gempa Lombok, beberapa orang kemudian mengaitkan peristiwa ini dengan dukungan TGB terhadap Jokowi belum lama ini. Ditakan bahwa gempa Lombok tidak lain adalah adzab Allah karena dukungan gubernur NTB tersebut pada “musuh” Allah, dst.

Mengapa demikian? Mengapa masyarakat kita yang “religius” itu menjadi sangat tidak manusiawi? Mengapa mereka seolah lupa bahwa agama (terutama Islam sebagai agama mayoritas) itu merupakan agama yg mengajarkan kasih sayang?

Perlu pengamatan yang cukup dalam untuk menjawab pertanyaan tersebut. Menjawab bahwa itu adalah efek dari jagad politik yang sudah terlanjur terpolarisasi sedemikian rupa di negeri ini, tentu tidak salah, tapi masih terlalu dangkal. Hal ini karena ada yang lebih fundamental dari alasan itu, yaitu gaya pengajaran agama (Islam) di Indonesia.

Kalau kita amati secara seksama, model pengajaran keagamaan (Islam) di negeri ini telah dan sedang memelihara paradigma bahwa bencana itu tidak lain adalah adzab Allah. Betapa tidak? Kita bisa simak betapa banyak kisah para nabi di Al-Qur’an yang mengisahkan tentang adzab Allah kepada umat-umat para nabi sebelum Nabi Muhammad karena mereka bermaksiat, seperti Kisah Nabi Nuh. Dalam kisahnya, diceritakan bahwa Nabi Nuh berdakwah sangat lama bahkan hingga ratusan tahun tahun, tapi hanya sedikit orang yang mau beriman. Kaumnya mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh. Kemudian, Allah mendatangkan banjir yang besar dan menenggelamkan mereka yang ingkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh.

Baca Juga:  Ahoker dan Kecintaannya Pada Jokowi

Kisah-kisah para nabi dalam al-Quran itu senantisa diceritakan baik pada kalangan anak-anak maupun yang sudah dewasa. Mimbar-mimbar masjid sering mengutip kisah-kisah tersebut. Sekolah-sekolah, baik sekolah formal maupun non formal seperti TPA, mengisahkan dengan heroik kisah adzab-adzab Allah kepada umat-umat sebelum nabi Muhammad yg maksiat. Dan semua kisah itu tidak diceritakan dengan memberikan semacam tafsir kontekstual atasnya.

Kisah yang diajarkan terus menerus ini pada gilirannya membentuk alam bawah sadar para pemeluk agama (Islam) di Indonesia bahwa bencana itu identik dengan adzab Allah. Betapapun sebenarnya dalam Islam dikenal istilah cobaan dan adzab, publik Muslim Indonesia masih lebih memilih untuk cenderung hanya mengenal istilah bencana=adzab Allah, saking terlalu seringnya kisah demikian diajarkan tanpa kontekstualisasi (kalaupun ada kontekstualisasi paling banter akan mengaitkan adzab-adzab itu dengan bencana-bencana yang terjadi di era kekinian dan tentunya tetap menganggap adzab sebagai bencana).

Dalam benak kebanyakan orang Islam di Indonesia, ketika melihat atau mendengar fenomena bencana alam, maka segera pikirannya akan tergiring untuk lebih dulu bertanya, “Dosa apa yang mereka perbuat hingga dapat bencana?” daripada berdoa, “Semoga allah segera menghentikan bencana itu dan menyelamatkan banyak orang”. Fakta inilah yang terjadi setiap terjadi bencana.

Miris melihat kenyataan ini. Saat ada bencana melanda, tampaknya yang mencercanya sebagai adzab atau mencari-cari kemaksiatan orang yang tertimpa bencana menjadi lebih “religius” daripada segera memberikan bantuan atau setidaknya doa terbaik.

Realitas ini jelas perlu disikapi jika tidak ingin melanggengkan paradigma religius itu sama dengan tidak manusiawi. Salah satu hal yang bisa ditempuh untuk menyikapi hal ini misalnya dengan cara semakin mempersering mengenalkan atau mengajarkan kisah-kisah cobaan terhadap para nabi. Berbagai kisah tragis atas para nabi itu perlu ditegaskan dalam pengajaran keagamaan kita sebagai sebentuk cobaan, karena sejatinya beliau-beliau itu maksum. Semakin sering kita mengisahkan ini dalam pengajaran keagamaan kita, maka yang akan terbentuk rapi dalam ingatan masyarakat adalah bencana sama dengan cobaan, sehingga menolong adalah tindakan yang mesti segera diambil daripada mencari kesalahannya.

Baca Juga:  Land Reform Jaman Now

Selain itu, hal lain yang bisa ditempuh adalah dengan mengkontekstualisasikan kisah-kisah tersebut pada era kekinian atau setidaknya pada era Nabi Muhammad. Tidak seperti umat-umat sebelum Nabi Muhammad, umat Nabi Muhammad itu tidak pernah diadzab secara langsung oleh Allah. Pernah suatu ketika Rasulullah ditawari oleh malaikat akan membantu beliau saat kalah di Perang Uhud. Kala itu malaikat dikisahkan akan meratakan musuh-musuh Rasulullah dengan gunung Uhud, tapi Rasulullah menolak tawaran sang malaikat dengan alasan mereka itu orang-orang yang tidak tahu. Kalau mereka tidak bisa disadarkan, barangkali anak cucunya bisa disadarkan.

Begitu kira-kira Rasulullah Muhammad, yang tingkat kesabarannya di atas nabi-nabi sebelumnya. Kalau umat nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad itu biasanya begitu salah salah langsung tertimpa adzab di Dunia sekaligus akhirat, maka khusus Nabi Muhammad adzab-adzab itu ditangguhkan hingga di akhirat nanti. Mestinya kisah-kisah para nabi di al-Quran itu diceritakan dengan kontekstualisasi era kenabian Muhammad Saw. seperti itu, agar masyarakat kita tidak langsung serta-merta menyamakan bencana dengan adzab.

Terakhir, semoga duka di Lombok segera berakhir dan keadaan semakin membaik, serta cibiran atas bencana lombok sebagai adzab segera berhenti.

Dosen LB Prodi Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan pembina The al-Falah Institute Yogyakarta.