Cerpen

GERHANA RINDU

Gerhana Rindu Fauziyah

Sumber : pixabay.com

Oleh Fauziyah Kurniawati Rahmasy*

Entah dari pintu dan jendela manakah aku memasuki ranah ini. Ranah yang tak kutemukan tanda-tanda kehidupan di setiap sudut ruangnya. Hanya angin dan daun-daun kering yang jatuh dari pucuknya eukaliptus senja. Terlalu besar untuk bisa dikatakan sebuah kota dan terlalu kecil untuk bisa dikatakan sebuah negeri, entah apa namanya. Aku pun mulai melangkahkan kaki, menegaskan segala tanya. Angin yang terus berayun mengantarkan sehelai daun tepat di depan pelupuk mataku. Kuamati lamat-lamat tiap ruas di daun itu. Rupanya tertulis satu kata di sana, “RINDU”. Kubaca daun-daun yang lain, masih sama dan selalu sama, “RINDU”. Dari situ, aku mulai paham ada sebuah kisah di ranah ini. Kisah yang menghabiskan segala rindu di setiap waktu penciptaannya. Rindu yang bersemayam dalam jiwa Pangeran Athan dan Putri Aisy, dialah rindu yang enggan menamai dirinya sebagai obituari. Dengarkanlah! Aku akan bercerita.

; Arsinta Keil.

***

Selasa, 01 Maret 1976

Kerajaan ini bernama Rindu. Dibangun oleh batu amanta dan tanah kesetiaan. Atapnya sajak-sajak renta, dindingnya huruf-huruf kekasih yang jarang bermesraan. Sederhana memang, namun di setiap bilik ruangnya adalah keamanan dari segala narasi usia. Setiap kerajaan memiliki seorang pangeran dan putri yang memegang kekuasaan tertinggi  tahta kerajaan. Namun sayang, di kerajaan Rindu inilah sebuah keharusan menjadi sebuah keterasingan. Ketika seorang putri harus dipisahkan dari pangerannya karena sebuah kewajiban. Ketika sebuah kerajaan harus harus dititahkan namanya sebagai “Kapilawastu” harus diganti cuma-cuma sebagai “Rindu” karena putrinya yang dibunuh rindu setiap waktunya.

Athan, seorang pangeran dari negeri Bulan yang ditugaskan Tuhan unjuk menjaga dan mengilhami malam. Aisy, seorang putri dari negeri Matahari yang ditugaskan Tuhan untuk mengasuh dan mengkhidmati pagi. Tuhna mempertemukan mereka sebagai sepasang kekasih dan mempercayakan mereka sebagai pimpinan tertinggi kerajaan. Dan di kerajaan Rindu inilah cerita dirampungkan senja.

***

Tebing waktu yang curam. Mestinya hidup dibaptiskan oleh jarum jam dan detik-detik. Di ruangan kecil ini, surat-surat kenangan berserakan di lantai. Putri Aisy tak henti-hentinya menuliskan setiap yang terdetak dalam hatinya perihal rindu yang usianya telah renta kepada kekasihnya ;Pangeran Athan.

Tuhan sengaja menciptakan jarak bagi mereka agar manusia bisa menikmati pagi dan malam dengan penerangan yang berbeda. Pangeran Athan dan Putri Aisy memang sudah dipisahkan sejak pertama kali Tuhan tuliskan di tangan mereka kata “kekasih” dengan tinta keabadian. Menghitung aksara yang disuratkan ke telapak tangan mereka. Menjumlah takdir yang tak kuasa dipilih. Maka jika berpisah adalah perintah, biarkan rindu yang tertatih melawan waktu sampai tiba saat di mana Tuhan berbaik hati mempertemukan kembali cinta Pangaeran Athan dan Putri Aisy.

Waktu semakin termakan usia. Musim-musim rentan oleh harapan. Hari-hari pun lumpuh menelan resah dan kelemahan. Haruskah luka bertamu setiap senja datang? Haruskah rindu menjelma urat nadi dalam tubuh? Semakin lama, rindu ini bermetamorfosis, beranak pinak sampai empat dasawarsa waktu terlindas diam dan airmata.

***

Di antara surat-surat yang berserakan, Putri Aisy mengirimkan frase demi frase kata pada sebuah surat untuk kekasihnya perihal anak-anak rindu yang ia lahirkan dan asuh sendiri di bilik rindu itu melalui hulubalang anginnya.

Anak-anak rindu itu dilahirkan berurutan tiap satu dasawarsa. Meraka adalah dua puluh enam abjad benih rindu dan kesetiaan. Sejak dilahirkan mereka tak mengenal sosok ayah sekalipun, mereka tak pernah tahu seerti apakah wajah seorang ayah. Ya, sebab ayah mereka, Pangeran Athan pun masih Tuhan enggankan untuk kembali meski sekadar melihat wajah anak-anak rindunya satu per satu.

Walau begitu, Pangeran Athan khidmat membaca surat kekasihnya perihal anak-anak rindunya bersama Putri Aisy sampai empat dasawarsa mereka dipisahkan.

                                                                                                          Teruntuk Athan, Kekasihku

Athan, ingin kuperlihatkan padamu dua puluh enam wajah anak-anak rindu kita selama empat dasawarsa kita asingkan pertemuan. Mereka sudah bisa merangkai kata dari wajah mereka sendiri untukmu.

Bacalah tenang-tenang, rasakan kehadiran mereka di dekatmu saat ini.

Dasawarsa Pertama…

Alikari jiwa yang cemas menunggu kedatanganmu serasa menyayat malam dan hari jadi lanskap.

Balada rindu adalah paviliun kerajaan yang dilukis oleh hati yang gersang sebab kepergian.

Cawan kenangan itu. Semisal ranah diri yang selalu sepi dari do’a-do’a.

Datanglah! meski sekadar menyambung bait do’a yang kami khususkan untukmu.

Epitaf waktu bukanlah alasan Tuhan membiarkan kerinduan semakin keriput seiring rapuhnya diri. Hanya saja belum sampai pada masa yang dijanjikan-Nya.

Fragmen sejarah dan masa lalu yang dibangun orang-orang adalah wajahmu yang kami rindukan.

Gelagarkan puisi dengan bibir yang gemetar menyebut namamu untuk yang kesekian, Ayah!.

Dasawarsa Kedua…

Hanacaraka hujan berbaris rapi di langit sana, sekan bersiap turun ke bumi mengguyur rindu yang bersemayam dalam jiwa kekasih.

Ilusi seraya berbisik pada sunyi, “biarkan saja! sebab musim mesti berganti.” Sedangkan dirimu enggan kembali.

Jemputlah! di ruang ini kami cemas menunggu senjamu.

Kita sama-sama tercabik oleh musim. Juga sama-sama pasrah pada rasi takdir Tuhan di langit sana.

Lantas menjeritkan lagu perkabungan bagi yang tak sanggup meratap kerinduan.

Maknailah diri dalam hidup yang dijanjikan, Ayah!.

Dasawarsa Ketiga…

Nalam cuaca pertama kali berkenalan dengan sajak salju sebab rindu yang resah kesekian.

Obituari hujan pun membaurkan pertemuan singkat dan perpisahan berkelanjutan seolah tak ada yang mesti diperbincangkan.

Padahal di ruang inilah, seorang putri menunggu kekasihnya.

Querido!” begitulah Ibu memanggilmu, Ayah.

Rectoverso usia yang kian rentan oleh klimaks rindu perlahan membunuh delusi terasingkan.

Serenade pun khidmat dilantunkan kunang-kunang untuk memulai dzikir panjang memintamu kembali pulang.

Tataplah bening matamu di depan cermin kejujuran, maka akan kau tatap mata kami yang memerah menunggumu, Ayah!.

Dasawarsa Keempat…

Usia serupa pohon yang daun-daunnya berguguran di atas tanah.

Virga seolah cuaca yang mengintip keadaan rindu dari balik hati yang dilanda gelisah.

Waktu pun meng-amsalkan sepasang bibir mengatup dari desah selamat tinggal bagi pertemuan.

Xiloid suara tiada jemu memanggil sukmamu. Namun kami hanya bisa terpana, selalu bertanya-tanya tentang suara yang seharusnya segera menyahut.

Yakinlah akan tiba saat yang telah dijanjikan Tuhan untuk sebuah pertemuan.

Zenit sunyi pun pecah di malam hari sebelum kami memanah langit untuk sekadar tahu dirimu baik-baik saja, Ayah.

Seperti itulah anak-anak rindu kita mencoba bercakap denganmu, Athan. Sama seperti diriku yang tak pernah lelah menyambungkan do’a kita untuk sekadar bertukar kabar.

Salam rinduku

Kekasihmu, Aisy

***

Tanpa terasa, Pangeran Athan telah dibanjiri airmatanya sendiri pada pipi tirusnya. Ia tak kuasa menahan rindu yang telah dikuadratkan musim dan waktu kepaa kekasih dan anak-anak rindunya. Ia tak sanggup menahan keresahan tahun demi tahun berlalu. Sebab jika berpisah bukanlah perintah, barangkali resah tak kan pernah tercipta.

Rupanya sedari tadi Tuhan memperhatikan Pangeran Athan membaca surat dari kekasih dan anak-anak rindunya sambil tersedu menghapus airmata yang terus berjatuhan dari mata elangnya. Sehingganya waktu diutus untuk segera mempertemukan Pangeran Athan dan keluarganya meski dua jam saja. Dan segalanya pun dipersiapkan.

Mendengar kabar itu, Pangeran Athan girang kesenangan, sambil berucap syukur hingga sekian kali sambil mempersiapkan do’a dan segala sisi terbaiknya untuk bertemu dengan kekasihnya, Putri Aisy dan anak-anak rindunya. Ya, inilah saatnya.

Maka tak perlu bertanya tentang keraguan. Nikmati saja segala kepastian yang dikhususkan. Agar tak ada yang perlu diperbincangkan kembali perihal rindu dan pertemuan.

***

Hari itu, Rabu, 09 Maret 2016

Pangeran Athan dan Putri Aisy kembali dipertemukan. Meski hanya sekitar dua jam, namun seakan seluruh semesta menyaksikan pertemuan ini. Memang bukanlah sebagai harapan manusia, namun inilah yang dinamakan kebesaran Tuhan dan kenikmatan yang tak biasa. Maka jangan heran jika segalanya perlu diabadikan.

Pagi itu, seakan malam tanpa bintang. Awan mengiring Putri Aisy ke dekapan Pangeran Athan. Seluruh semesta khidmat menyaksikan pertemuan ini sambil lalu memuji kekuasaan Tuhan dan mengiringinya dengan mazmur-mazmur hamdu. Angin pun tak ada yang bersuara. Pagi itu, terjadilah gerhana rindu.

“Aisy, kekasihku. Terimakasih telah menjaga dan membesarkan anak-anak rindu kita dengan kekuatanmu sendiri. Sungguh, rindu ini semakin kuat ketika kulihat dirimu masih secantik dulu sejak awal Tuhan mempertemukan kita berdua hingga detik ini.”

“Athan, kekasihku. Tak perlu kau berucap terimakasih, sebab bagiku kaulah yang telah menjaga dan membesarkan anak-anak rindu kita dengan kepatuhanmu terhadap Tuhan. Rindu yang kukirim sebagai do’a untukmu tak pernah Tuhan siakan. Dari situ, aku yakin bahwa dirimu akan selalu baik-baik saja.”

“Kalau begitu, baiklah Aisy, kekasihku. Setelah dua jam pertemuan kita ini, maka izinkan aku membawa anak-anak rindu kita ke ranah yang Tuhan sipirkan untukku darimu. Agar mereka bisa memahami apa itu arti pagi dan malam bagi manusia.”

“Baiklah Athan, kekasihku. Bawalah mereka, ajarkan pemahaman bagi mereka perihal semesta, pertemuan, dan perpisahan kita. Agar kelak ketika mereka beranjak dewasa, tak ada lagi yang perlu dijelaskan mengenai rindu dan kesetiaan.”

“Aisy, kekasihku. Kalau begitu, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik. Terangi kembali pagi bagi semesta dengan cahayamu. Salam.”

“Salam rinduku selalu untukmu, Athan. Selamat jalan, kekasihku!”

Dan pertemuan itupun berakhir. Semesta kembali pagi seperti sedia kala, angin pun berayun seiring cuaca yang mengkhidmati kepergian Pangeran Athan untuk kedua kalinya. Tuhan pun telah menuliskan nasib mereka berdua tanpa ketakutan pada masa lalu. Ya, sekitar tiga ratus lima puluh tahun lagi Pangeran Athan dan Putri Aisy akan dipertemukan kembali. Terlalu lama memang, namun jika begitulah kehendak-Nya, semesta, Pangeran Athan, Putri Aisy bahkan manusia sekalipun hanya bisa pasrah dan mematuhinya. Sebab tak ada yang akan mati, ketika hidup sudah terlanjur berarti.

***

Seperti itulah kujabarkan kisah Pangeran Athan dan Putri Aisy tentang rindu yang tak berkesudahan. Meski sejatinya rindu akan menemui ujungnya seperti halnya pertemuan dan perpisahan. Ketika di satu waktu Tuhan menghendaki sebuah pertemuan, maka di waktu yang lain Tuhan akan menghadirkan sebuah perpisahan. Ketika sebuah pertemuan yang dinanti, maka percayalah akan tiba saat di mana Tuhan menepati janji-janjiNya.

Dan sepertinya aku harus kembali pulang. Salam rindu. Arsinta Keil.

“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah,

maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang.

Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

(29 : 05)

Malang, 15 Maret 2016 | 01.15 pm

Fauziyah KFauziyah Kurniawati, akrab dipanggil Chicie, Efka Rahmasy adalah nama penanya. Lahir di Sumenep pada tanggal 22 Mei 1995. Do’i adalah Mahasiswi Semester II Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Hobinya adalah menulis, membaca dan merenung sendirian. Do’i pernah menjadi juara I Lomba Mengarang Spontan Se-Madura oleh Harian Pagi Jawa Pos Radar Madura. Puisi, essai, dan cerpennya sering dimuat di majalah-majalah dan buletin sekolah, Horison, dan Radar Madura. Bukunya yang sudah terbit diantaranya : Bintangku (Kumpulan Puisi 2011), Semesta Hujan (Kumpulan Puisi 2012),  Obituari Rindu (Kumpulan Puisi 2014), dan Surat Dari Kurcaci (Kumpulan Cerpen 2014). Saat ini aktif sebagai anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Ranting UIN Maliki Malang dan anggota El-Ma’rifah devisi sastra MSAA UIN Maliki Malang. Motto hidupnya adalah : “Hiduplah sebagai seorang penulis atau mati terkenang sepanjang sejarah!”. Email : reyfa_lazwardy@yahoo.co.id Contact Person : 085791839715

 

 

Popular

To Top