Opini

Grand Master dari Solo

Presiden Joko Widodo Foto: Dikhy Sasra/detikcom

Solo adalah kota kecil sebagai penyangga dua kota besar yg berada di tengah pulau Jawa, Semarang & Jogjakarta. Sebagian orang lantas menyebutkan segitiga emas barometer perkembangan Jateng.
Awalnya kota ini kalah pamor dengan Jogjakarta sebagai tempat tujuan wisata.
Seiring berjalannya waktu Solo lebih moncer dan identik karena disana telah berhasil melahirkan putra terbaik di negeri ini “Joko Widodo”.

Sepertinya sudah menjadi takdir dan penjabaran dari ramalan JAYABAYA bahwa pria yang lebih akrab dipanggil Jokowi ini muncul untuk membawa perubahan bagi Indonesia.

Jokowi adalah bak pion yang berjajar disisi paling pinggir pada papan permainan catur.

Dia tahu persis apa peran yg sesungguhnya dalam sebuah permainan. Dia menyadari betul konsep permainan catur sehingga bisa menyatukan pikiran sebuah pion dengan pemain caturnya.

Pion yang awalnya sangat terpinggirkan oleh sang master bisa tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang sangat berharga dan harus selalu dilindungi karena bisa jadi dialah satu-satunya yang dapat diharapkan untuk menyelamatkan sebuah kemenangan dalam permainan catur.

Jokowi telah menjelma menjadi sosok pemimpin yangg disegani.
Pemimpin yang tdk ambisius, sederhana dan bekerja tanpa pamrih demi kemajuan bangsa dan negara.

Dia sudah merasa cukup dan bangga melihat anaknya yang sukses jualan martabak.

Dia sudah merasa cukup dengan bisnis mebelnya yang menghasilkan pundi-pundi uang.

Dia merasa hal yang biasa saat anak perempuannya Kahiyang tidak lolos tes sebagai pegawai negeri sipil di kota Surakarta….

Dengan kekayaan yang hanya 30 Milyard, adalah jumlah yang sangat kecil untuk ukuran seorang presiden, tapi itu sudah membuatnya merasa cukup.

Itulah yang tidak bisa dilawan oleh siapapun, saat seseorang yang punya kekuasaan yang begitu besar tapi dia sudah merasa cukup dengan apa yang dia miliki saat ini.

Satu keinginannya hanya ingin bekerja yang terbaik untuk bangsa dan negara.

Dia tidak punya beban masa lalu, beban dari partai manapun termasuk PDIP sendiri, karena dia bukanlah seorang pengurus inti di partai tersebut

Tidak ada beban untuk balas budi ke partai manapun karna memang dia terlahir dari rakyat.

Itulah seorang Jokowi yg membuat karya dan sepak terjangnya tidak bisa dipecundangi lawan-lawan politiknya

PDI-P seharusnya bersyukur menemukan bidak pinggiran yang akhirnya dapat menyelamatkan partai ini dan keluar sebagai pemenang di percaturan politik nasional.

Jokowi tidak hanya sekedar kader & bukan lagi seorang petugas partai. Dia sudah berubah menjadi seorang Grand master dalam permainan ini. Dia tidak lagi bisa diatur karena dialah yang sebenarnya menjadi pemain, pelatih dan sekaligus pemilik permainan ini.

Untuk menjadi Jokowi yang seperti sekarang ini tidaklah mudah. Diperlukan kecerdasan, kejujuran, keikhlasan yg tanpa pamrih dalam setiap langkah.

Baginya tidak ada lawan politik, yang ada adalah perbedaan pendapat dan tidak menutup kemungkinan perbedaan itu suatu saat bisa disatukan.
Mengalah bukan berarti kalah, tetapi harus pandai membaca situasi dimana saatnya harus meraih kemenangan.

Langkah awal dengan memilih orang-orang yang ahli dalam bidangnya untuk duduk di dalam jajaran kabinet adalah langkah yang brilian, dengan langkah ini Jokowi akan mendapatkan pembantu yang betul-betul siap bekerja untuk mensukseskan program kerjanya.

Mengurangi jumlah jatah menteri dari partai koalisi juga dalam rangka menghindari terjadinya gesekan kepentingan selain memperhitungkan nilai tawar untuk memperkuat dukungan pada pemerintah di legislatif.

Itulah kegeniusan seorang Jokowi. Bukan berarti ibarat seorang Grand master terus ada ide bagaimana kalau diadu sama Utut Adianto??
Itu adalah ide murahan seperti idenya bagaimana pakdhe kalau diadu tinju dengan mantan danjen kopassus.

Kita harus lebih cerdas walau hanya sebatas memberikan ide dan bersikap kritis pada pemerintah demi kebaikan bersama.

Selamatkan NKRI..

Pemerhati Politik, Aktivis Relawan Jokowi.

Popular

To Top