Humor Serius, Selesaikan Masalah dengan Jenius

269

Salah-satu ciri orang jenius itu, mereka punya selera humor tinggi, sama seperti Gus-Dur” sepenggal kalimat yang pernah saya dengar dari Kiai Staquf.

Kiai Yahya Cholil Staquf atau biasa disapa Kiai Staquf merupakan Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kiai Tsaquf pernah menjabat sebagai Juru Bicara Presiden RI pada priode kepemimpinan Kh. Abdurrahman Wachid (Gus Dur).

Kedekatannya dengan Gus-dur kemudian menularkan sifat humoris tinggi yang jenius kepada Kiai Staquf. Beliau merupakan Presiden sebuah komunitas bernama ‘Republik Terong Gosong’ yang mengusung slogan, “Tertawa secara serius”.

Kini Kiai Staquf kembali ditunjuk menjadi ‘orang penting’ di Istana Kepresidenan RI. Beberapa waktu yang lalu, Presiden Joko Widodo melantik Kiai Staquf sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (31/5). Pelantikan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 84 P 2018 tentang Pengangkatan Anggota Wantimpres.

Kiai Staquf dan Humor Jenius

“Orang jenius punya selera humor yang tinggi,” Tidak semua orang memiliki selera humor. Hanya orang-orang tertentu yang menganggap humor merupakan sebuah kebutuhan dalam menyelesaikan beberapa permasalahan yang bersifat serius dan kaku. Kecairan suasana dalam suatu ruangan atau dalam suatu acara dapat diciptakan melalui humor.

Sering kita dengar, humor yang dicetuskan Gus-dur selalu mengedukasi dan berdasarkan fakta, walaupun dalam memahaminya, kita perlu benar-benar menyelisik secara mendalam dengan akal yang sehat.

Baca Juga: Presiden Lantik Yahya Staquf Jadi Anggota Wantimpres

Pada zaman kekhalifahan Islam dinasti bani Abbasiyah, di era kepemimpinan Khalifah Harun Ar-rasyid, Abu Nawas atau Abu-Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami merupakan tokoh penyair terbesar sastra Arab klasik yang bijaksana dan memiliki selera humor tinggi. Di beberapa permasalahan serius sekalipun, Abu nawas mampu menyelesaikan dan memberi solusi dengan humor-humornya yang jenius.

Baca Juga:  Ratifikasi Pelarangan Senjata Nuklir

Ulama dan Kiai Nusantara juga memiliki selera humor. Seperti beberapa cerita humor yang disampaikan Kiai Staquf, menandakan bahwa para Kiai dan Ulama Nusantara dalam berdakwah tidak lepas dari humor-humor yang mendidik. Humor bak sudah menjadi ciri khas Ulama dan Kiai Nusantara dalam mencari jalan keluar permasalahan-permasalahan umat dengan jenius.

Kiai-kiai zaman dahulu, gasak-gasakan (saling mengejek/bercanda) itu hal biasa, sudah lumrah,” kata Kiai Staquf.

Humor dibutuhkan dalam menyelesaikan beberapa permasalahan yang kaku dan serius. Kebanyakan orang yang tidak menyukai humor, hidupnya cenderung keras dan kaku. Tidak ada suasana cair dalam hatinya. Beberapa dari mereka bahkan cenderung keras kepala dan besar hati.

Para tokoh Ulama Ahli Fikih pun memiliki selera humor tersendiri. Bahkan Rasulullah SAW pun pernah bergurau dalam beberapa situasi, tentunya gurau berdasarkan kebenaran.

Dengan suasana riuh hiruk pikuk dunia perpolitikan dan kebangsaan yang ada di Indonesia saat ini, sesekali kita membutuhkan peran humor dalam menyelesaikan permasalahan yang ada supaya tidak berkesan kaku dan terlalu serius dalam menanggapinya.

Teladan Gus-Dur dan Kiai Staquf dalam berhumor dengan jenius perlu kita contoh dan kita amalkan.

Sekali lagi saya mengutip penggalan kalimat yang pernah disampaikan Kiai Staquf, “Orang Jenius memiliki selera humor yang tinggi,”.

Orang yang menyukai suasana cair (tidak keras dan kaku), pasti menyukai humor. Humor merupakan salah satu cerminan diri seseorang, bahwasanya orang yang memiliki selera humor cenderung jenius, humanis dan memiliki berjuta cara untuk menyelesaikan permasalahan dengan serius namun tetap santai, seperti Gusdur.

MA Ma’arif Borobudur, dan
Anggota Jamaah Kopdariyah Magelang