News

IKHLAS

Foto: Dokumen Pribadi

Oleh: Dewinta

Filosofi tentang ” IKHLAS” yg selama ini mungkin dari kita semua blm dpt memahami sesungguhnya , nilai diri tentang IKHLAS hidup didunia ini.

Mengapa kita sll marah, selalu kesal dan selalu menggerutu, ketika harapan yg tengah kita nantikan berujung tdk sesuai kenyataan. Ibarat  seorang anak yang masih kecil di padang pasir tak bertuan. Seperti jamaknya dia hanya bisa menduga bahwa ini akibat orangtua nya  yg tidak pernah ada dlm kehidupannya.

Sang anak hendak mengejar Ibrahim, bapaknya. dan berteriak: “Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini? Bagaimana kami bisa bertahan hidup?”

Ibrahim terus melangkah meninggalkan nya tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh.

Remuk redam perasaannya si anak” terjepit antara pengabdian dan pembiaran.

Dan masih terus mengejar bapaknya, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit, “Apakah ini perintah Tuhanmu?”

Kali ini Ibrahim, sang khalilullah, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim.

Butir pasir seolah terpaku kaku.

Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan, atau lebih tepatnya gugatan sang anak yg bernm Ismail membuat semua terkesiap.

Ibrahim membalik tubuhnya, dan berkata tegas, “Iya!”.  Ismail kecil pun”… berhenti mengejar. Lalu..dia terdiam. Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang memgagetkan semuanya: malaikat, butir pasir dan angin.  “Jikalau ini perintah dari Tuhanmu, pergilah, tinggalkan aku di sini. Jangan khawatir. Tuhan akan menjaga ku”

Ibrahim pun beranjak pergi. Dilema itu punah sudah. Ini sebuah pengabdian, atas nama perintah, bukan sebuah pembiaran. Peristiwa Ismail dan Ibrahim ini adalah romantisme keberkahan.

Itulah ikhlas.

Ikhlas adalah wujud sebuah keyakinan mutlak pada Sang Maha Mutlak.

Ikhlas adalah kepasrahan bukan  mengalah apalagi menyerah kalah. Ikhlas itu adalah engkau sanggup berlari melawan dan mengejar, namun engkau memilh patuh dan tunduk.

Ikhlas adalah sebuah kekuatan menundukkan diri sendiri dan semua yang engkau cintai. Ikhlas adalah memilih jalanNya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain.

Ikhlas bukan lari dari kenyataan. Ikhlas bukan karena terpaksa. Ikhlas bukan merasionalisasi tindakan, bukan mengalkulasi hasil akhir, Ikhlas tak pernah berhitung.

Ikhlas tak pernah pula menepuk dada. Ikhlas itu tangga menujuNya. Ikhlas itu mendengar perintahNya dan menaatiNya.

Ikhlas adalah ikhlas. Titik.

“Belum cukupkah engkau memahami apa itu ikhlas dari diamnya Ismail  dan perginya Ibrahim?” Dan aku, kamu, serta kita, semuanya tertunduk pasrah bersama Malaikat, butir pasir dan angin.

Popular

To Top