Indonesia Tanpa Tan Malaka

311

Oleh: Ruli Harmadi

Apa jadinya Indonesia tanpa Tan Malaka? Seragam Sekolah Dasar boleh jadi bukan berwarna putih merah seperti hari ini yang dipelopori oleh seragam murid-murid Sekolah Tan Malaka di Semarang dahulu. Lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya akan berbeda kalau saja WR Supratman tidak membaca buku Massa Aksi yang ditulis Tan Malaka. Negara Indonesia mungkin saja tidak berbentuk Republik seperti yang dicita-citakan Tan Malaka dalam bukunya “Naar de Republik”. Buku Madilog tidak akan ditulis. Proklamasi 17 Agustus tidak akan terjadi kalau Sukarni tidak bergerak mendesak Sukarno Hatta, setelah berdiskusi dengan Tan Malaka. Tan Malaka menulis dalam memoarnya “Rupanya sejarah Proklamasi 17 Agustus tiada mengizinkan saya campur tangan, hanya menginzinkan campur jiwa. Ini sangat saya sesalkan!”

Rapat Raksasa 19 September 1945 tidak akan terlaksana tanpa usulan dari Tan Malaka. Gagasan Tan Malaka itu sesuai dengan strategi politik yang sudah selama dua puluh tahun dianutnya, yaitu ‘massa aksi’, dalam bentuk demonstrasi dan pemogokan. Tan Malaka menulis “Saya rasa tibalah waktunya untuk mengusulkan apa yang saya sebutkan satu ujian kekuatan (krachtproef). Saya maksudkan, ialah mengadakan satu demonstrasi, yang dapat memisahkan yang kawan daripada yang lawan, dan dapat menentukan berapa kuatnya kawan dan berapa pula kuatnya lawan ketika itu.”

Presiden Soekarno tidak akan mengeluarkan Testamen Politiknya pada 1 Oktober 1945 setelah pertemuannya dengan Tan Malaka “Kalau saya tiada berdaya lagi, maka kelak pimpinan revolusi akan saya serahkan kepada saudara.” Sukarno-Hatta menandatangani testamen ini. “Maka kami putuskanlah, bahwa pimpinan perjuangan kemerdekaan kita diteruskan oleh saudara-saudara: Tan Malaka, Iwa Kusuma Sumantri, Sjahrir, Wongsonegoro.”

Tidak akan ada Persatuan Perjuangan yang mendesak Merdeka 100%. “Dasarnya persatuan dalam menyelesaikan revolusi ini ialah perjuangan untuk menghadapi musuh bersama, sampai tercapai Kemerdekaan 100%, yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 itu, jadi bukannya persatuan untuk berkompromis, yang berarti berkhianat kepada Kemerdekaan 100% menurut Proklamasi 17 Agustus 1945… maka Persatuan Perjuangan itulah nama yang saya anggap paling tepat.”

Baca Juga:  KORELASI ANTARA POLITIK DAN PEMUDA

Panglima Besar Jenderal Sudirman dalam pidatonya di Sidang Purwokerto mengatakan “ Saudara-saudara yang siap sedia membela kemerdekaan 100%! Saya sangat gembira akan dibentuknya Volksfront yang berani bertanggung jawab itu. Kedudukan dan kewajiban tentara yang saya pimpin ialah mempertahankan kemerdekaan 100%. Tentara timbul tenggelam dengan negara. Pemimpin-pemimpin negara boleh berganti, kabinet boleh berganti 3 kali sebulan, tetapi tentara tetap berjuang terus sampai 100% kemerdekaan tercapai. Tentara berjuang terus dengan rakyat membela tanah air. Lebih baik diatoom sama sekali daripada merdeka tidak 100%”.

Bahkan setelah kematiannya, suara Tan Malaka masih terdengar keras dari dalam kubur. Melalui Muhammad Yamin, Chaerul Saleh, Adam Malik, ide dan gagasan Tan Malaka diperjuangkan melalui Presiden Sukarno “To Build the World A New” seperti Deklarasi Juanda tentang batas Maritim Indonesia yang secara teknis dibuat oleh Mochtar Kusumaatmadja lewat desakan Chaerul Saleh. Perjuangan merebut Irian Barat dari tangan Belanda tidak lepas dari gagwaasan Geopolitik Aslia. Gagasan Aslia yang diwujudkan Menteri Luar Negeri Adam Malik menjadi ASEAN pada masa Presiden Soeharto. Bahkan Revolusi Mental yang digaungkan Presiden Jokowi dicomot dari gagasan Tan Malaka di buku Madilog.

Mengingat besarnya kontribusi Tan Malaka untuk Indonesia hari ini sudah sepatutnya makam beliau di Selo Panggung dipugar selayaknya sebagai makam Pahlawan Nasional agar cita-cita mencapai Merdeka 100% tetap akan diingat dan diperjuangkan terus oleh generasi selanjutnya.

*Penulis Adalah Anggota Tan Malaka Institute (TMI)