ISRI: Memori Kolektif Kebangsaan, Persatuan, Rela Berkorban Harus Digaungkan Kembali

544

SERIKATNEWS.COM- Dalam Rangka Syukuran Peresmian Sekretariat bersama DPN ISRI & KBM dan Refleksi Akhir Tahun 2017 dengan acara potong tumpeng oleh Ketua Umum Keluarga Besar Marhaenis Prof. DR.dr Sudigdo Adi dan Diskusi dengan Narasumber Prof. Hariyono, MPd Wakil Ketua Umum Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI), Eros Djarot Sekretaris Dewan Ideologi Keluarga Besar Marhaenis (KBM) dan DR. Revrisond Bawsir (Ketua Bidang Ekonomi Kerakyatan KBM).

Adapun Prof. Hariyono, Waketum ISRI menyampaikan bahwa Memori kolektif kebangsaan, persatuan, rela berkorban harus digaungkan kembali, bila tidak fundamentalisme agama dan pasar akan mengisi ruang publik kita.

Tantangan kita agar sarjana Indonesia tidak hanya mengedepankan teori-teori yang ada, ilmu positivistik masih mendominasi dalam pembacaan di bangku-bangku sekolah kita.
Sarjana Indonesia harus sadar bahwa sebuah teori/ilmu lahir dalam realitas. Kita harus berani menggali teori-teori yang berbasis realitas masyarakat dan bangsa kita.

Ilmu bukan sekedar diambil mentah-mentah, ditransfer dari Barat tapi sarjana kita perlu sadar membumikan ilmu yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia. Seperti Pancasila misalnya, bagaimana agar menjadi paradigma ilmu pengetahuan, Sehingga menjadi sumber inspirasi maju bagi pembangunan bangsa Indonesia.

Sebagai sarjana rakyat Indonesia kita harus mau berpikir dan berjuang untuk membangun teori-teori yang berbasis alam dan kultur bangsa Indonesia.
Memberi solusi-solusi dalam persoalan rakyat. Regenerasi menjadi tantangan saat ini, terlebih generasi milenial membutuhkan metode yang berbeda dengan generasi sebelumnya ujarnya.

Sedangkan DR. Revrisond Bawsir menyampaikan bahwa Negara ini didirikan oleh pemuda-pemudi yang berperspektif sosialis yang pangkalnya ada 3 (tiga) yaitu Muhammad, Marx, dan Marhaen. Keistimewaan Sukarno adalah memudahkan rakyat mencerna pada ajaran Marhaenisme.

Efek dari perang dingin misalnya teori pertumbuhan ekonomi yang dibangun Rostow awal tahun 1960an dan buku tersebut diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pada tahun 1965. Judul asli buku Rostow adalah THE STAGES OF ECONOMIC GROWTH A Non – Communist Manifesto Indonesia terjemahannya dihilangkan sebagian.

Baca Juga:  Bertemu Penggiat Medsos, Presiden Jokowi: Gaungkan Semangat Optimisme

Sedangkan piramida kekayaan keuangan dalam paparan DR. Revrisond antara lain :
– 0,7 persen penduduk dunia menguasai 45,9 persen kekayaan dunia dengan nilai rata-rata perorang berjumlah kurang dari US$ 1juta (Rp.13,5 miliar)

– 7,9 persen penduduk dunia menguasai 39,7 persen kekayaan dunia dengan nilai rata – rata perorang berkisar antara US$100 ribu hingga US$1 juta (1,35 miliar – 13,5 miliar )

– 21,3 persen penduduk dunia menguasai 11,6 persen kekayaan dunia dengan nilai rata -rata perorang berkisar antara US $10ribu hingga US$100ribu (135juta-1,35 miliar)

– 70,1 persen penduduk dunia hanya menguasai 2,7 persen kekayaan dunia dengan nilai rata – rata perorang berjumlah kurang dari US$10ribu (Rp 135 juta)

Lain halnya Eros Djarot yang lebih mengupas persoalan kebangsaan dari perpektif budaya mengatakan bahwa yang kita hadapi adalah realita hari ini yang mana suara kapitalisme lebih kuat daripada suara nasionalis yang masih sayup-sayup. Marhaenisme adalah teori perjuangan yang perlu dirawat dan disuarakan.

Pentingnya organ-organ Nasionalis-Marhaenis seperti KBM, ISRI untuk terus mengkaji dan membumikan pemikiran, ajaran Bung Karno, yang menarik yang perlu dicermati sebagaimana Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 yang mana memeras Pancasila menjadi Ekasila, gotong-royong, yang mana itu adalah kekuatan mendasar bangsa Indonesia yang perlu diuraikan.

Selain itu pentingnya Budaya sebagai benteng nasionalisme dari situasi kondisi kekinian yang sedang terjadi.(SMH)