Opini

Jahiliyah Berbaju Syari’ah

Oleh Taufiq A*

Untuk menguasai orang-orang bodoh, gunakanlah agama (Ibn Rusyd).

Disebut suatu tragedi, ketika segerombolan manusia secara mantab memperjuangkan keyakinannya tentang pengentasan manusia dari keremang-remangan menuju suatu pencerahan, tapi ujungnya malah memerosokkan manusia dalam jurang kegelapan itu sendiri.

Dalam konstelasi sejarah keberagamaan, khususnya Islam, akhir-akhir ini kita mendapati suatu kenyataan sebagaimana hal di atas. Para pengusung syari’ah dan khilafah, yang melakukan suatu misi membersihkan unsur-unsur kejahiliyahan, malah nampak sebagai bagian integral dari kejahiliyahan itu sendiri.

Yang menjadi masalah adalah golongan tersebut semakin marak. Mulai yang paling ekstrim dan membenarkan cara-cara kekerasan seperti Al-Qaeda dan ISIS, sampai yang agak moderat seperti Hizbuttahrir, Ikhwanul Muslimun, AKP di Turki dan PKS di Indonesia. Apa pasal?

Jahiliyah dan Syari’ah

Jahiliyah, menurut logika umum orang Islam, dikatakan sebagai suatu era (khususnya bangsa Arab) sebelum hadirnya Islam. Dalam bahasa dakwah para ustadz, jahiliyah diartikan sebagai zaman yang jantungnya adalah kebodohan, dan suasananya adalah kegelapan. Sehingga ketika Nabi Muhammad membawa risalah Islam, yang diperangi adalah kebodohan dan kegelapan, lalu meneranginya dengan agama Islam.

Namun, kalau ditelisik dalam khazanah klasik, sebagaimana dijelaskan oleh Nasr Hamid, dalam kitab Mafhumun Nash, kata dasar dari jahiliyah adalah al-jahl, kebalikan dari al-hilm. Al-jahl bukan bodoh, tapi tercengkeram emosi, gegabah dalam menghukum, dan meminggirkan akal sehat. Sementara Al-hilm artinya menahan amarah. Masyarakat jahiliyah itu bentuk kongkritnya ditandai dengan kerusakan manusia, seperti peperangan antar kabilah tanpa henti, pembunuhan bayi-bayi perempuan, perampasan hak-hak dasar manusia, permintaan petunjuk hidup pada para ahli sihir yang dianggap punya koneksi dengan para jin yang mampu mencuri rahasia langit, dan sebagainya.

Sementara syari’ah, arti dasarnya adalah jalan menuju sumber air. Kita tahu, sumber air bagi masyarakat Arab yang bergurun pasir itu, adalah sumber kehidupan. Sumber air di tengah padang gurun membentuk oase. Oase membentuk jazirah. Di jazirah itulah ada kehidupan. Sebab itu, menjadi wajar jika syariah Islam adalah jalan keselamatan. Dan jalan keselamatan itu hanya bisa dilakukan dengan menghancurkan kejahiliyahan.

Imam Asy-Syatibi (wafat 790 H/1388 M), seorang ulama Malikiyah dari Granada, Andalusia, merumuskan tujuan syariat Islam (maqasidus syariah) yaitu demi kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Ia membagi maqasid tadi menjadi tiga tingkatan, yaitu Maqashid dharûriyât, Maqashid hâjiyat, dan Maqashid tahsînât. Adapun tujuan dharuriyat (primer) itu meliputi menjaga agama, akal, kehormatan, jiwa dan harta. Kelima hal itu ia sebut (maqasid al-khamsah).

Dalam tataran historis, risalah Islam yang dibawa Nabi bermaksud mengembalikan peran akal pada tempatnya, sekaligus menegakkan panji-panji keadilan dalam hubungan bermasyarakat, mencegah kerusakan alam yang ditimbulkan oleh manusia. Disitulah, manusia menjalankan perannya sebagai khalifah fil-ardl.

Dalam aspek hubungan dengan Tuhan, Islam mengajarkan Tauhid, yang praktiknya harus menyingkirkan segala yang dipertuhankan selain Allah, yang disebut berhala. Berhala itu bisa berupa patung-patung, harta kekayaan, atau jabatan politis. Semua itu harus diturunkan kedudukannya dari posisi yang tinggi, sebab yang diatas manusia hanya Allah, dan kita harus tunduk kepadanya. Peran tersebut, adalah peran manusia sebagai abdillah atau hamba Allah.

Tipuan itu Berlabel Syari’ah

Syari’ah diusung Nabi Muhammad dengan tujuan. Nampak jelas dalam sejarah Islam waktu Nabi memimpin. Dengan menghancurkan kejahiliyahan, Nabi membangun peradaban Islam. Namun, misi pembebasan yang dijalankan Nabi, tentu saja sangat bisa dimaknai berbeda oleh pengikutnya.

Dalam sejarah Islam, yang paling awal mempergunakan isu hukum Allah untuk tujuan duniawi, adalah waktu perang Shiffin. Yaitu saat pasukan Muawiyah terdesak oleh pasukan Sayyidina Ali, mereka mengangkat Qur’an di ujung tombak dengan teriak perundingan. Ali tahu itu tipuan, tapi pasukannya terprovokasi dan pecah. Akhirnya perundingan itu membuat Ali tergelincir dari khalifah.

Selanjutnya, politisasi agama Islam, muncul dengan berbagai bentuk. Dalam dinasti Muawiyah ada kelompok Murji’ah, dengan faham jabbariyah atau fatalisme. Bahwa apa yang terjadi, itu sudah takdir Tuhan. Hal itu dimaksudkan untuk mengamankan penguasa dari gugatan pemberontak. Tipikal yang seperti ini banyak bentuknya. Sampai sekarang kita dengan mudah menemui para pendakwah yang mengajak orang untuk selalu sabar dan syukur atas apa yang menimpa. Bahwa segalanya adalah takdir Tuhan, dan kita hanya perlu menjalaninya dengan ikhlas, meski sebenarnya kita dijajah dan ditindas. Di titik inilah perkataan Marx bahwa agama sebagai candu menemukan pembenaran historisnya.

Bentuk selanjutnya adalah sebagaimana kaum Khawarij, yang dengan memakai teks Alqur’an, malah membunuh Sayyidina Ali. Bagi mereka, Ali itu kafir, sebab mau menerima hasil keputusan perundingan. Padahal hukum yang dihasilkan perundingan, adalah hukum manusia, bukan hukum Allah. Hari ini, bentuk-bentuk ala Khawarij banyak sekali ragamnya. Hanya berlandaskan satu-dua ayat atau hadis, yang tidak dipahami konteks historisnya, kemudian dicomot begitu saja demi tujuan yang sangat duniawi. Kasus Pilkada DKI terakhir, adalah contohnya, dimana umat dimobilisasi dengan satu-dua ayat yang menyudutkan lawan.

Yang kita dapati saat ini seringkali adalah perpaduan dari kedua bentuk diatas, dengan suatu gradasi dan kecenderungan masing-masing. Ada yang menggunakan ayat untuk meredam dan mengamankan posisi penindas, ada yang menggunakan ayat untuk memobilisasi massa agar tujuan pribadinya tercapai.

Kedua bentuk diatas sama-sama menipu. Jika tipuan-tipuan itu tetap dilanjutkan, meski berlabel Syariah, berjubah Khilayah, pada intinya yang mereka usung adalah virus kejahiliyahan itu sendiri. Sesuatu, yang disadari atau tidak, bertentangan dengan semangat Islam itu sendiri.

Habis gelap, terbit kegelapan baru. Selamat datang kembali era jahiliyah!

 

Blandongan, 21 April 2017

*Penulis aktif di Epistemic Yogyakarta

Popular

SerikatNews.com adalah portal media Online, sebagai wadah media kritis anak bangsa yang menerjemahkan visi, mencerahkan itu sebagai keharusan, menyajikan tulisan-tulisan jernih dan transfomatif. SerikatNews.com merupakan media yang menyajikan berita-berita yang terpercaya sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Media SerikatNews.com bergerak diranah kampus bermaksud untuk membangun secara kolektif nalar kritis mahasiswa yang hari ini sudah banyak terkoptasi dengan dunia hedonisme. SerikatNews.com tidak memihak terhadap kepentingan satu golongan baik ras, suku, partai politik bahkan agama! Salam Tim Redaksi SerikatNews.com.

Copyright © 2017 Serikatnews.com - All Rights Recerved

To Top