Cerpen

“Jam 2.45”

Sumber: (Lukisan milik penulis )

Oleh : N.S Lestari

Jam 2.45
Penghuni apartemen tengah terlelap. Security di lantai lobby asyik menyaksikan Intercontinental Cup, antara India melawan Kenya. Di lantai 6, unit 621, tinggal seorang perempuan cantik, usia 30an akhir yang memilih melajang dengan alasan agar selalu tampak sempurna. Klise? Alasan ini bagi masyarakat urban seperti Jakarta bukan lagi sebagai bentuk fanatisme tapi sudah menjadi bagian dari ideology. Tak hanya sempurna fisik, tapi juga cara berfikir. Karena dengan melajang mereka merasa dapat fokus bekerja, meraih cita-cita, tak terdistorsi dengan kehidupan berkeluarga.

Pemilik unit tipe 2BR itu bernama Arimbi. Pekerjaan sebagai penyiar radio dan MC cukup menyita waktunya. Ditambah setahun ini ia dan beberapa kolega mendirikan perusahaan agency iklan yang mengharuskannya travelling hingga ke pelosok daerah demi mendapatkan feel dan ambience dalam pengerjaan iklan yang diproduksi.

Seperti hari-hari biasa, Arimbi tidur seorang diri setelah pulang larut malam itu. Ditengah pulas tidurnya, lagi-lagi muncul suara mengganggu. Kali ini asalnya dari ruang makan. Kesal, ia keluar kamar dan menggedor lemari buku. Ia tak lagi peduli dengan pajangan medali triathlon koleksinya yang digantung dalam rak kaca. Ia hanya ingin tidur karena jam 6 pagi harus sudah on air di radio. Ini artinya jam 4.30 harus sudah meninggalkan apartemen.

Tak sedikitpun suara-suara yang entah dari mana asalnya itu membuat ia bergidik. Mengganggu, iya. Tapi takut? Tidak. Apalagi jika kemungkinan asalnya dari hantu seperti yang disampaikan security building yang mengaku pernah melihat sosok perempuan dari jendela kamar di unitnya. Sambil terus menggedor lemari buku ia memaki sumber suara itu “Heh. Kampret! Jangan ganggu. Gue musti bangun jam 4 pagi. Pergi lo!”. Teriaknya dengan suara parau. Ngantuk.

Kembali ia ke kamarnya. Kali ini pasang headset dan setel lagu di Spotify. Setengah terlelap, ada suara gedebum, kencang, seperti mimpi, seorang perempuan membanting baki didepan kasurnya. Kaget. Deg-degan dan keringat dingin. Ia pun akhirnya mengalah, terjaga ….

Sudah 2 bulan gangguan ini terus muncul. Setiap jam 2.45 ada saja suara seperti orang buka tutup pintu, menyalakan kompor gas, menarik-narik perabot bahkan sampai masuk ke mimpinya. Dan selalu sama, perempuan bergaun merah.

Arimbi tak kuasa untuk terus memendam. Ia ingin mendengar tanggapan kekasihnya, Yudis. Sejak punya agency merangkap rumah produksi, hubungan Arimbi dan Yudis memang merenggang. Yudis yang biasanya menginap setidaknya sekali seminggu kini tak pernah lagi. Bercinta sebulan sekali saja sudah bagus.

“Please, malam ini aku pengen ketemu”, rayu Arimbi
“Kangen?”, goda Yudis
“Sedikit”, timpal Arimbi
“Bilang dulu klo kamu kangen baru aku datang, nginap”, jawab Yudis meneruskan isengnya.
“Iya deh, kangen”, jawab Arimbi meladeni.
“Mau diapain nanti klo aku datang?”, Yudis mulai memancing fantasi.
“Sayang… udah deh, nanti klo kamu minta aku ga kasih, tau rasa!”, Arimbi sedang tak ingin digodain.
“Hahaaa jangan Sayang, ampuuun …”, Yudis tertawa puas.

Telepon singkat dua sejoli yang saling menggoda itu selesai. Malam itu Yudis beneran datang. Wangi aftershave membuat Arimbi kelabakan tak kuasa menahan rindunya yang memuncak. Desahan demi desahan, erangan demi erangan membuat keduanya tak sadar ada makhluk lain yang ikut merasakan panasnya.

Gubrakkkk…..!
Tiba-tiba lukisan yang dipasang di ruang makan lepas.
“Damn..”, teriak Yudis. Kaget setengah mati. “I’ll get it. Stay. Don’t move a muscle…!”, perintahnya kepada sang kekasih.
“Huh. Bossy…”, mencoba bercanda. Tapi dalam hati Arimbi mulai tak tenang.
Yudis yang keluar kamar dengan kimono satin warna pink kembang-kembang kepunyaan Arimbi pun tak membuat lucu.

Semenit kemudian, Yudis kembali dengan membawa lukisan yang jatuh tadi.
“Ini lukisan baru? Untung ga rusak”, Yudis memeriksa frame lukisan dari kayu warna coklat tua.
“Lumayan. Aku beli di Seminyak”. Jawab Arimbi sambil mengernyit memikirkan bagaimana lukisan itu bisa jatuh.
“Besok kita pasang di kamar saja yah, aku suka warnanya. Lembut, cocok sama kamu” Lanjut Yudis tak menangkap tanda tanya di kepala Arimbi.

Malam itu mereka langsung tidur, berpelukan, setengah telanjang, sama-sama tak ingin melanjutkan pergumulan yang sempat terganggu sebelumnya. Keesokan harinya, Yudis menceritakan mimpi anehnya.

“Perempuan dalam mimpiku seperti lukisan itu. Ia suruh aku pergi”, suara Yudis datar, penuh tanya.
“Dalam mimpiku dia juga sering marah”, jawab Arimbi sambil memeluk kekasihnya tak ingin ditinggal sendiri. Baru kali ini ia merasa rapuh. Butuh laki-laki. Tak ingin sendiri.
“Kalau memang mengganggu, harus cari pakar yang bisa mengusirnya”, timpal Yudis sambil melepaskan pelukan Arimbi. Siap pergi.
“Iyaa.. nanti aku atur”, jawab Arimbi dengan sedikit gerutu. Masih ingin berduaan.

Entah kebetulan atau bukan, semenjak lukisan itu dipindah ke kamar Arimbi, suara-suara yang mengganggu kini lebih keras terdengar. Lembayung, adiknya yang menginap untuk liburan di Jakarta juga mendengar yang sama. Akhirnya mereka menemui ustadz Amin, seorang medium yang berpengalaman mengusir roh-roh jahat. Jangan sebut hantu, karena Arimbi dan Lembayung sama-sama tak (mau) percaya hantu.

Diantara wangi kepulan asap kemenyan dan bunga setaman, dengan mata terpejam, ustadz Amin bertanya,
“Mbak mau tinggal sama roh ini? Yang satu perempuan, seumuran sama mbak. Satunya lagi anak kecil, tapi bukan anaknya. Anak kecil ini yang sering bikin suara. Gimana?”, pertanyaan yang mengejutkan.
“Lebih baik tidak pak ustadz. Saya jadi ga bisa tidur”, tangkis Arimbi.
“Lho, mereka mau diam kok klo dibolehin tinggal disini. Gimana?”, Tanya ustadz Amin lagi. “Kemarin dia ga suka saja karena lukisan itu, yang notabene rumahnya dipasang di dekat kompor, panas katanya”. Lanjut pak Ustadz sambil menujuk double stove di pantry. Padahal kompor itu jarang dipakai sama tuan rumah.
“Tapi setelah saya pindah ke kamar, suaranya semakin mengganggu pak ustadz. Kenapa?” tanya Arimbi.
“Itu yang perempuan, dia ga suka sama laki-laki yang suka kesini”, jawaban yang tak kalah mengejutkan.
“Yudistira? Kenapa dia tidak suka?”, Arimbi dan Lembayung saling tatap.
“Dia ga suka saja sama laki-laki”, kali ini suara ustadz Amin setengah mengambang, tak yakin.
“Apakah mereka berdua duduk disini bersama kita pak ustadz?”, kali ini Lembayung yang bertanya, penasaran.
“Yang anak kecil diatas lemari. Daritadi dia menghindari kontak dengan saya. Yang perempuan disamping saya, minta saya bilang kepada mbak agar dibolehin tinggal disini. Mereka janji ga akan ganggu. Tapi yang anak kecil itu ga ngomong apa-apa”, lanjut ustadz Amin sambil melihat ke atas lemari dan sesekali melirik ke samping kanannya.

Arimbi berfikir keras sambil melihat lukisan yang telah ia turunkan dari kamarnya. Ia terlanjur suka dengan lukisan gadis Bali mengenakan gaun merah dengan bunga kenanga yang disematkan di telinga. Rambutnya yang hitam panjang lurus terurai disamping gitar yang ia mainkan. Mata gadis itu menatap dalam kedepan. Ia senyum. Bukan marah. Arimbi mencoba mengartikan tatapan gadis dalam lukisan itu. Lukisan yang ia beli di sebuah galeri seni yang sering ia kunjungi bersama mantan kekasihnya, Banda, setiap kali mereka ke Bali. Satu hal yang membuat Arimbi teramat suka dengan lukisan itu karena Banda juga mempunyai lukisan gadis yang sama.

“Jadi gimana mbak? Mau diusir atau dibiarkan saja?”, pertanyaan ustadz Amin memudarkan lamunannya.
“Dibiarkan saja pak”, keberanian macam apa ini? Lembayung hanya bisa melotot mendengar jawaban kakaknya.
“Yakin?!”, ustadz Amin memastikan jawaban Arimbi.
“Iya, mereka boleh disini. Asal tak bikin-bikin suara”, lanjut Arimbi. Tegas.

Sejak saat itu, setiap jam 2.45 ada saja benda yang bergeser. Tempelan kulkas, dokumen di meja kerja, pensil alis, sisir, rol rambut, apapun bergeser. Tanpa suara. Tanpa ada yang melihat.

Cerita tentang lukisan ini membuat Arimbi ingin menghubungi Banda. Ia ingin tahu apakah lukisan yang dimiliki Banda juga bercerita hal yang sama. Bertahun-tahun sudah mereka putus kontak. Menghubungi orang tua Banda di Padang, kabar yang tak kalah mengejutkan diterima Arimbi. Banda, aktivis hak asasi manusia yang pernah menghiasi hidupnya selama 7 tahun ternyata telah meninggal karena kecelakaan ketika mengikuti touring motor gede melintasi area pegunungan yang licin di daerah Bedugul menuju Danau Berata, Bali. Ia meninggal tepat sebelum Arimbi membeli lukisan itu. Apakah ini cara Banda berkomunikasi dari seberang sana?

Selesai

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top