Mari Meriseit Ungkapan Oleh Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto

261
Foto Dokumen Pribadi
Foto Dokumen Pribadi

Oleh: Ari Suwari

Mari kita bertamasya sejarah apa yang sesungguhnya terjadi pada Era Sukarno (1960-1965) khususnya pada masa pasca pembubaran PSI dan Masjumi yang dianggap sempurnanya politik Demokrasi Terpimpin dan apa yang terjadi pada era Suharto (1966-1998).

Demokrasi Terpimpin (1959-1965)

Lahirnya demokrasi terpimpin tak pelak dituding sebagai awal masa diktatornya kekuasaan Sukarno (harus diperhatikan masa demokrasi terpimpin bukanlah masa kediktatoran Sukarno tapi sebuah masa krisis revolusi yang memerlukan kepemimpinan yang kuat). Menurut pendapat saya masa demokrasi terpimpin adalah bertemunya kelanjutan logis dari ketidakpuasan Angkatan Darat tahun 1952, membludaknya massa akar rumput kekuatan kiri di bawah jaringan PKI dimana ini mendorong kesadaran atas pilihan ideologi sosialis bagi bangsa Indonesia, todongan negara maju terhadap kekayaan bangsa Indonesia dan kesadaran Sukarno bahwa masa depan dunia masih dalam cengkeraman kolonialisme yang melalui kompleksitasnya menciptakan Neo Imperialisme dan Kolonialisme dimana dua kutub kekuatan Soviet dan Amerika sama-sama memberlakukan sistem politik Nekolim ini. Faktor-faktor inilah yang kemudian menciptakan sebuah gerakan politik konsolidasi dibawah figur Sukarno dengan panji Nasakomnya dimana semua elemen-elemen pada waktu itu memang sedang bertarung di arus bawah politik, sementara di arus atas semua kekuatan terpusat pada Sukarno.

Dari tiga kepentingan ini mari coba kita anatomi satu persatu :

Setelah kemenangan Angkatan Darat jalur Nasution-Simatupang dalam konflik internal Angkatan Bersenjata dimana sempat melibatkan kekuatan politik lokal garis kiri-radikal pada tahun 1947 (usaha Kup Jenderal Mayor Sudharsono terhadap Sjahrir), 1948 (peristiwa Madiun) dan 1949 (Terbunuhnya Tan Malaka oleh Pasukan Jenderal Sungkono sekaligus membulatkan dukungan terhadap KMB) menjadikan kekuatan Angkatan Darat sepenuhnya dibawah kendali Nasution-Simatupang yang moderat.

Kemenangan Nasution membuat Angkatan Darat merasa memiliki saham politik terbesar atas kemenangan daulat Indonesia yang secara bulat diakui dunia internasional pada Desember 1949. Namun setelah dibubarkannya RIS dan kembali dalam bentuk NKRI, Angkatan Darat tersingkirkan dari kancah politik sehari-hari. Kekuatan politik berada di tangan partai-partai politik terutama Masjumi, Partai Sosialis Indonesia dan Partai Nasional Indonesia. Beberapa kekuatan politik ada yang sengaja menarik Nasution cs ke dalam dunia politik sipil untuk menambah mesiu melawan lawan-lawan politiknya, di garis inilah kemudian Nasution bertanggung jawab menggiring militer untuk melibatkan dirinya ke dalam daulat politik sipil dan menjadi benih awal masuknya kekuatan militer sebagai bagian variabel politik sipil yang seharusnya diharamkan dalam negara modern menurut ukuran-ukuran barat.

Peristiwa Oktober 1952 sendiri memang merupakan gerakan Nasution yang gagal namun gerakan ini merupakan pintu pembuka untuk lebih berkuasanya para perwira tinggi Angkatan Darat dalam sektor-sektor sipil terutama di bidang ekonomi dan politik. Hal ini sesungguhnya sudah tidak disukai oleh kalangan PSI yang terkenal anti fasis dan militerisme namun PNI banyak mengambil manfaat dari masuknya militer ke sektor sipil dimana kekuatan militer kerap menjadi kekuatan yang saling bersinergi dengan kelompok nasionalis-birokrat dari sinilah kemudian tercipta papan atas politik Indonesia dari struktur priyayi-militer dimana struktur ini menjadi elite yang secara riil berkuasa di Indonesia.

Tumbuhnya papan atas elite pemerintahan yang didukung militer berbarengan dengan tumbuhnya kekuatan massif rakyat kecil yang didorong oleh para pemimpin komunis yang masih muda-muda dan lolos dari peristiwa Madiun 1948. Kemampuan para pemimpin Komunis muda di bawah empat serangkai : DN Aidit, Njoto, MH Lukman dan Sudisman membuat gemas beberapa elite pemimpin partai politik dan kekuatan militer yang takut akan bangkitnya komunis karena mereka sendiri pernah membantai kekuatan komunis dalam peristiwa 1948. Bangkitnya kaum komunis ini bukannya tidak diantisipasi oleh kekuatan kanan, Razia Agustus 1951 menunjukkan bahwa kekuatan kanan menolak akan bangkitnya komunis (Razia Agustus ini menangkap orang secara serampangan jadi asal dicurigai kiri harus ditangkap). Namun razia agustus 1951 lebih cenderung pada memenuhi keinginan Amerika Serikat yang saat itu sedang dibayang-bayangi ketakutan imajiner senator Joseph MacCarthy. Lewat proyek MSA-nya beberapa orang pemimpin teras partai politik terlibat dan kemudian MSA proyek dibongkar oleh kelompok Masyumi sendiri dibawah pimpinan Natsir dimana tujuannya adalah menyingkirkan pemimpin Masyumi yang berkuasa di pemerintahan Soekiman Wirjosandjojo. Terhentinya razia agustus yang lebih dikenal sebagai razia Soekiman membuat PKI bisa leluasa terus bergerak dan akhirnya DN Aidit memboyong papan nama ukiran Jepara dari Kampung Kranggan, Yogyakarta ke Jakarta untuk dipampang di Markas Besar PKI sekaligus menasbihkan PKI sebagai kekuatan politik legal.

PKI yang berhasil menyelenggarakan kongresnya dan menyingkirkan kekuatan Tan Ling Djie, jago tua PKI yang tidak menghendaki PKI bergerak secara legal sebelum memiliki kekuatan jelas. Tersingkirnya Tan Ling Djie ini sekaligus menandai era pertentangan PKI dengan Sukarno. Di jaman revolusi 1945-1949 para pemimpin PKI menganggap remeh kekuatan Bung Karno dan menjuluki Bung Karno adalah tipe pemimpin Nasionalis Borjuis yang juga kerap dianggap tidak mengerti jalannya revolusi kiri. Pandangan itu masih lekat pada para pemimpin tua yang telah bergerak melawan Belanda sejak tahun 1920-an. Namun pemimpin-pemimpin baru PKI adalah anak-anak muda yang lahir di tahun 1920-an. Semua pemimpin PKI muda mengawali perjuangannya dalam pergerakan anti politik Jepang. Mereka dekat sekali dengan Bung Karno dan Bung Hatta. Bahkan DN Aidit adalah anak didik kesayangan Hatta karena pintarnya dan MH Lukman diberikan nama oleh Bapaknya dengan nama awal Mohammad Hatta. Njoto adalah orang yang mengerti benar jalan pikiran Sukarno sehingga kerap menuliskan pidato untuk Bung Karno untuk dibacakan pada upacara 17 Agustus. Sudisman lebih merupakan seorang Sukarnois ketimbang Marxist hal ini bisa dibaca dari pledoinya menjelang kematiannya di tahun 1968 yang membuat heboh para intelektual Indonesia.

Sukarno sedari awal sudah memahami dua kekuatan yang tumbuh akibat revolusi kemerdekaan Indonesia. Kekuatan elite yang banyak digawangi secara intelektual oleh PSI, Birokrasi oleh PNI serta perusahaan-perusahaan negara yang banyak diisi oleh perwira militer Angkatan Darat. Serta kekuatan bawah yang dipimpin oleh PKI dan sesungguhnya kekuatan bawah ini adalah massa pendukung setia Sukarno yang masih melihat negara daulat Indonesia belum tercapai sepenuhnya. Sukarno harus bisa mengendalikan ini semua agar Indonesia jangan terpecah seperti India Pakistan, Korea atau Vietnam. Sukarno paham bahwa persatuan Indonesia adalah syarat mutlak sementara di timur Indonesia kekuatan Belanda masih bercokol di Irian Barat.

Banyak para intelektual Komunis terutama dari garis anti Stalinis menuding bahwa DN Aidit terlalu mempermainkan nama komunis dalam pergolakan politik di Indonesia. Menurut mereka PKI dibawah pimpinan DN Aidit hanyalah pendukung Sukarno. Dan bila Sukarno mati maka PKI-pun akan mati. Hal ini kelak memang terbukti pada saat Suharto melakukan tawar menawar politik dimana Suharto menggunakan media massa sebagai pembangkit opini dan menggerakkan secara psikologis histeria massa lalu membantai 500 ribu sampai 3 juta nyawa dimana pembantaian itu dipelintir sebagai bagian dari kekejaman PKI. Suharto menaruh pembunuhan PKI sebagai daya tawar terhadap Sukarno, jelas ini merupakan Skak Mat terhadap Sukarno, karena Sukarno tahu bahwa kekuatan riilnya justru ada di PKI. Bung Karno sendiri tidak mempercayai lagi PNI yang sudah redup seiring dengan pemborjuisan para pemimpinnya sejak kepemimpinan Hardi di tahun 1950-an.

Independensi Indonesia

Dari seluruh kerja politik Sukarno di tahun 1960-1965 adalah sebuah usaha sungguh-sungguh untuk melepaskan ketergantungan Indonesia pada negara maju dan pembersihan unsur-unsur kolonialisme yang masih tersisa. Untuk itulah kerja politik Bung Karno ini disebut sebagai ‘Revolusi’ dan merupakan kelanjutan revolusi kemerdekaan 1945-1949. Orang yang tidak memahami maksud Sukarno dan gagal melihat visi Sukarno tentunya menggambarkan revolusi Sukarno sebagai halusinasi. Dan teori halusinasi Sukarno inilah yang kemudian dilihat sebagai gambaran kegagalan Bung Karno dalam mengelola negara karena menuduh Sukarno abai terhadap persoalan-persoalan ekonomi. Padahal apa yang dilakukan Bung Karno tidak sekedar mengelola negara tapi membawa negara pada kemakmuran dan syarat penting kemakmuran bagi Bung Karno adalah jelas : Independensi total Indonesia terhadap asing. Dengan kata lain independensi itu membuka ruang Kepemilikan Kapital yang sah atas nama Bangsa Indonesia.

Tatanan dunia pasca kekalahan Jerman di Eropa dan Jepang di Asia sudah berubah total. Amerika Serikat dan Inggris sadar bahwa bentuk-bentuk kolonialisme dan Imperialisme yang selama ini dipratekkan sejak abad 16 sudah harus ditinggalkan. Mereka sadar bahwa penguasaan ruang penaklukan dengan memasukkan unsur-unsur administrasi dalam pemerintahan negara jajahan sudah tidak efektif lagi karena bangkitnya nasionalisme di kalangan negara-negara jajahan. Karena sejak terjadinya revolusi industri dan membludaknya barang-barang produksi maka yang dibutuhkan bukan hanya hasil mentah dari negara jajahan tapi juga adalah pasaran terhadap pembelian barang-barang produksi itu. Dan pembeli itu adalah rakyat yang sangat besar jumlahnya di negara-negara bekas jajahan. Dengan menguasai ruang pemerintahan jajahan secara langsung efektifitas imperialisme tidak lagi efektif karena diperlukan biaya-biaya jajahan dan biaya sosial yang cenderung tinggi. Maka untuk melanjutkan kelangsungan ekonomi negara-negara maju, pemerintahan negara jajahan bisa saja diberikan kepada pemerintahan pribumi asalkan kepentingan ekonomi mereka secara esensial tidak terganggu. Dan untuk tidak terganggu kepentingannya maka negara maju harus menciptakan :

1. Ketergantungan negara-negara baru eks jajahan terhadap ekonomi negara maju
2. Mengendalikan pemerintahan negara eks jajahan dimana pemimpin pribumi mereka menjadi boneka asing yang bisa dikendalikan sepenuhnya oleh negara maju.
3. Memberikan ruang kenyamanan yang besar pada tingkat elite juga lapisan menengah dimana mereka adalah pengendali kekuasaan negara. Akses modal, pendidikan, gaya hidup lintas negara, pikiran terbuka, tingkat penghasilan yang memadai jauh diatas mayoritas rakyat, dan sebagai agen-agen pembentuk susunan masyarakat yang tergantung pada asing. Di pundak merekalah negara-negara eks jajahan dikendalikan agar tercipta hubungan yang saling memanfaatkan antara kelas elite dengan negara maju.
4. Nilai tambah paling besar dari sebuah rangkaian proses produksi diberikan pada negara maju kemudian setelahnya diberikan pada lapisan elite negara eks jajahan. Jadi disini berkembang bukan hubungan G to G (Government to Government) tapi Government to Elite. Kesejahteraan rakyat kecil tidak lagi menjadi objek paling penting.
5. Mendorong agar kaum elite negara berkembang terbiasa dengan sikap korupsi, kolusi dan nepotisme karena perilaku inilah yang dijadikan benteng paling kuat menghadapi gelombang dinamika kelas dan sosial di kalangan masyarakat negara eks jajahan. Kaum elite dengan senjata KKN menjadikan mereka sebagai tuan-tuan baru dari sistem neo feodalisme dimana ketergantungan kaum bawah terhadap kelas diatasnya sangat tinggi sehingga kaum bawah sulit bersatu untuk mengadakan gerakan-gerakan rakyat.

Sukarno yang sudah terlatih dalam memahami gelombang sejarah tentunya sudah menebak ke arah mana dunia bergerak. Hal ini bisa kita lihat kemampuan Sukarno dalam melakukan taktik-taktik politiknya yang cenderung memanfaatkan kekuatan lawan untuk kepentingan politiknya tanpa harus mengeluarkan tenaga atau bertarung frontal. Melihat realitas dunia yang sudah berubah serta perkembangan politik Indonesia yang nyaris mengalami perpecahan maka jalan satu-satunya adalah menyatukan kekuatan politik inti dan membubarkan kekuatan-kekuatan politik yang cenderung menjadi mesin perpecahan persatuan Indonesia.

Tahun 1960 muncullah gagasan yang dianggap aneh oleh barat (dunia kapitalis) dalam tatanan politik Indonesia yang kerap disebut sebagai sebuah gaya sinkretisme Indonesia, NASAKOM. Nasionalisme (dalam hal ini Sukarnois), Agama (mewakili kekuatan NU dan Muhammadiyah serta beberapa organisasi keagamaan non Islam) dan Komunis (dalam hal ini lebih pada PKI). Nasakom adalah bahasa Sukarno untuk menyebut persatuan. Sedari muda Sukarno sudah sadar bahwa tiga aliran besar ini yang menjadi inti dari dinamika pergerakan politik Indonesia. Bila dulu Belanda berhasil mengamputasi Komunis maka pada era kemerdekaan Indonesia, Komunis harus dimasukkan kembali ke dalam struktur kekuatan politik Indonesia agar jangan terjadi gelombang perpecahan baru. Dan bersama-sama menghadapi kekuatan Neo Kolonialisme yang sudah terang-terangan berdiri di Malaysia dan Singapura. Melalui persatuan politik Nasakom-lah Indonesia mampu mewujudkan cita-cita besar Indonesia yang independen sebagai jalan untuk menuju kemakmuran sesungguhnya.

Baca Juga:  Mengenang Sang Penyair Chairil Anwar

Jadi Nasakom bukanlah sebuah proyek Megalomania Sukarno yang kerap banyak dituduhkan oleh barat. Nasakom adalah syarat persatuan dan kesatuan. Tanpa itu kita kalah terhadap hegemoni negara-negara maju. Kita harus bersatu, karena dengan persatuan sebagai syarat mutlak alat perjuangan kita bisa mengalahkan majikan kapitalis yang setelah sekian ratus tahun merongrong bumi Indonesia.

Banyak orang menuduh Sukarno nggak ngerti pembangunan ekonomi. Padahal jarang orang yang ingat Sukarno telah menyusun Dekon, sebuah konsep terukur pembangunan fisik Indonesia pada tahun 1963. Walaupun dalam pelaksanaannya sering disabot dan dimanfaatkan oleh kelompok militer namun program itu berjalan dengan baik sampai pada kudeta Suharto tahun 1965-1967.

Hanya satu kesalahan besar Sukarno dimata barat yang kemudian banyak melahirkan tulisan-tulisan ilmiah barat termasuk berita-berita dari majalah TIME bahwa Sukarno membawa kebangkrutan bagi bangsa Indonesia. Dan tulisan itu sedikit banyak memberikan gambaran yang keblinger terhadap Sukarno. Kesalahan Sukarno itu adalah : Beliau tidak mau menjual Indonesia ke tangan Kapitalis. Sesungguhnya mudah bagi Sukarno bila ingin menjadikan Indonesia sebagai negara industri yang maju, karena kepemimpinannya sudah kuat. Tapi Sukarno mempunyai wawasan jangka panjang. Jangan sampai negeri ini jatuh ke tangan kaum kapitalis lewat utang atau ketergantungan ekonomi. Kemajuan harus diperoleh dengan sikap Berdikari. Inilah yang kemudian menjadi pangkal awal dari tuduhan Sukarno adalah anti barat dan anti modernisasi. Padahal apa yang dimaui Sukarno adalah sikap independen bangsa Indonesia agar kekayaan bangsa ini tidak dijual ke tangan kapitalis.

Jagoan yang dielus-elus barat dan secara serampangan disebut sebagai pemimpin yang memodernisasi Indonesia adalah Suharto. Suharto dianggap ‘sukses’ membangun perekonomian Indonesia. Jakarta menjadi kota metropolitan dunia dan seluruh sarana infrastruktur dibangun dengan tekun. Namun apa yang dimaui barat adalah agar Indonesia mau berhutang dengan mereka dan menjadikan Indonesia memiliki ketergantungan ekonomi yang tinggi terhadap negara maju agar negara maju bisa mendikte Indonesia dan menguras kekayaan alam Indonesia dengan harga murah. Suharto melakukan pembangunannya dengan dimulai membunuhi jutaan nyawa, membentuk rezim teror dan membangun susunan masyarakat yang konsumtif, tidak produktif, serta lembek. Dan hasilnya kita bisa lihat. Suharto turun dengan meninggalkan utang sebesar 140 milyar dollar AS. Ini artinya seluruh rakyat Indonesia termasuk bayi-bayi yang baru lahir harus membayar sekitar 3.500 dollar AS untuk utang-utang yang dipergunakan memperkaya keluarga Cendana dan kroni-kroninya.

Melihat kenyataan yang dialami Indonesia saat ini, maka kita harus ingat ucapan paling terkenal oleh Bung Karno : GO TO HELL WITH YOUR AID!!!! Bagi kapitalis barat ucapan ini adalah sebuah benteng besar yang menghalangi Indonesia pada konsepsi negara modern. Namun Sukarno tahu bahwa iming-iming modernisasi dipastikan menyertai utang yang ujung-ujungnya adalah ketergantungan bangsa ini kepada negara maju dan ini sama saja mengantarkan Indonesia ke dalam bentuk jajahan baru. Sukarno jelas tidak mau menjual bangsa ini. Dan bisa kita saksikan sekarang dampak globalisasi dan kapitalisme di negara dunia ketiga dimana mereka terus menerus dihisap dan dipermainkan kekuatan negara maju. Jadi pernyataan Sukarno dalam pidatonya bukan pernyataan bermakna politik tapi lebih jauh lagi yaitu : Pernyataan Kebudayaan!….Sukarno ingin membentuk budaya bangsa yang berdikari, karena dengan berdikarinya sebuah bangsa maka kemakmuran tidak akan sukar diraih. Tapi sayangnya cap ini itu terhadap Sukarno yang dimotori negara-negara barat kemudian malah mengaburkan apa keinginan Sukarno untuk bangsa Indonesia. Yaitu menciptakan susunan masyarakat yang merdeka sebenar-benarnya….

Pergolakan politik Asia Tenggara

Pergolakan politik Asia Tenggara pasca 1945 tak terlepas dari pengaruh dua wilayah yaitu : Indonesia dan Vietnam. Dua negara ini mengalami sejarah yang hampir serupa yaitu merebut kembali hak berkuasa rakyat pribumi terhadap penjajahan asing. Hanya bedanya di Indonesia pengendali revolusi lebih plural sementara di Vietnam pemegang rol revolusi adalah kekuatan homogen yaitu orang-orang komunis yang soliditasnya sangat tinggi ini terbukti mereka berhasil mengusir Perancis dan Amerika Serikat. Di Indonesia hanya berhasil -mengusir Belanda tapi gagal mengusir kekuatan Amerika Serikat-Jepang-Inggris dimana tiga kekuatan ini kemudian menjadi penting setelah berdirinya pemerintahan Junta Militer Orde Baru.

Pergolakan politik di Asia Tenggara menjadi sangat kritis ketika Amerika Serikat secara sepihak mendukung perpecahan Vietnam dengan mendukung pemerintahan Saigon di Vietnam Selatan setelah sebelumnya mengalami kegagalan total dalam usahanya mendirikan negara boneka PRRI di Sumatera.

Setelah kegagalan PRRI maka Amerika Serikat memutuskan menggunakan cara lain dalam berhadapan dengan Indonesia. Kekuatan bersenjata terfokus di Vietnam Selatan karena bagaimanapun pemerintahan Komunis sudah berdiri di Hanoi sementara Jakarta masih dinilai berwarna merah jambu karena ada faktor Nasution yang sangat anti PKI. Keengganan Amerika Serikat untuk masuk ke dalam peperangan melawan Sukarno juga merupakan keputusan strategis karena Sukarno dinilai masih sangat kuat wibawanya di mata bangsa Indonesia, melawan Sukarno berarti melawan bangsa Indonesia dan ini bisa meruntuhkan nama Amerika Serikat sebagai negeri yang menjaga imej sebagai negeri kebebasan menjadi negeri tukang jajah. Untuk menghadapi keras kepalanya Sukarno akhirnya diputuskan dengan mengadakan operasi intelijen secara terus menerus. Dan melakukan penyusupan yang intensif ke tubuh Angkatan Darat. AD dinilai AS masih bisa dikendalikan karena kekuatan Sukarno tidak begitu mengakar kuat disana.

Sukarno yang sudah mendeklarasikan politik Nasakom serta dibayangi keberhasilannya mengadakan Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung melangkah lebih jauh lagi. Yaitu memberi penyadaran terus menerus akan bahaya imperialisme jenis baru. Sayangnya penyadaran Sukarno justru diserang oleh sekelompok intelektual yang tidak begitu mengerti jalannya gelombang sejarah masa depan. Intelektual jenis ini berhaluan moderat, cinta kebebasan bersuara, pro demokrasi gaya barat dan realistis. Kelompok ini banyak berdiam di PSI, partai sosialis kanan yang dibubarkan Sukarno tahun 1960. Kelak eks anggota PSI banyak berperan dalam proses penjungkalan Sukarno namun segera juga berseberangan dengan Orde Baru pada era tahun 1970-an.

Seperti hal-nya seorang Nabi yang selalu gagal memberikan pencerahan pada bangsanya sendiri, begitulah nasib Sukarno. Sebagai pemimpin ia memang berhasil memerdekakan bangsa Indonesia, memimpin Indonesia melewati masa-masa sulit saat perang Kemerdekaan 1945-1949, berhasil membawa Indonesia mendapatkan posisi terhormat di dunia Internasional dalam peranannya untuk mengkampanyekan kemerdekaan negara-negara yang masih terjajah dan membangun rasa kebanggaan bangsa Indonesia. Namun gagal dalam memberikan pencerahan terhadap antisipasi bangsa penguasaan kembali bangsa asing lewat Imperialisme gaya baru yang menurut bahasa Jenderal Yani disebut sebagai Nekolim : Neo Kolonialisme Imperialisme.

Sukarno sendiri dihadapkan pada belum siapnya bangsa Indonesia dalam melakukan konsolidasi kekuatan ekonomi. Itu memang kelambanan Sukarno. Lambatnya Indonesia memasuki era industri adalah karena antisipasi Sukarno untuk tidak menjebak Indonesia ke dalam permainan bangsa asing. Satu hal yang jarang diperhatikan oleh pengamat sejarah Indonesia tentang masa Sukarno adalah kehati-hatian Sukarno dalam melakukan kontrak-kontrak investasi dengan bangsa asing. Sukarno sangat keras kepala bila dihadapkan pada posisi Indonesia yang merugikan. Ini terlihat pada proses-proses kontrak investasi di pertambangan dan perkebunan peninggalan Belanda. Perlu diperhatikan juga gerakan Sukarno dalam menentang hegemoni asing yang masih tersisa dengan melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda adalah sebuah keuntungan yang besar bagi perwira Angkatan Darat yang banyak masuk ke dalam sektor ekonomi setelah perginya para investor asing. Kelak di kemudian hari perwira-perwira bisnis inilah yang banyak berperanan di masa Suharto.

Sukarno menginginkan bahwa semua pengerjaan industri dan ekonomi Indonesia sepenuhnya dilakukan oleh bangsa Indonesia. Namun sebelumnya Indonesia harus aman dulu dari gangguan Nekolim. Jelas bahwa proyek Nekolim berdiri di depan mata bangsa Indonesia seperti berdirinya Federasi Negara Malaysia disertai dengan berdirinya Singapura sebagai negara sendiri yang menurut Sukarno adalah pangkalan dari Nekolim untuk mengepung Indonesia. Memang waktu itu banyak kaum intelektual yang mentertawakan Sukarno dengan gagasan yang dianggap halusinasi. Sukarno sendiri secara sadar untuk menanggulangi bahaya Nekolim maka Indonesia harus mempunyai kekuatan internal yang kemudian ditemukan pada jargon Sukarno, Trisakti :

Berdikari dalam ekonomi
Berdikari dalam politik
Berkepribadian Indonesia

Coba anda perhatikan sekarang apa yang diramalkan Sukarno tentang bahaya Nekolim. Singapura telah menjadi kekuatan keuangan terbesar di Asia Tenggara. Bahkan dalam prosesnya Singapura telah membeli sumber-sumber ekonomi bangsa Indonesia dengan cara yang legal seperti Indosat dan banyak perusahaan keuangan di Indonesia. Hampir seluruh proses investasi modal melalui Singapura baik itu hot money ataupun Foreign Direct Investments. Dana milik pengusaha Indonesia keluar masuk lewat Singapura baik itu dana legal maupun dana illegal, bahkan sampai sekarang Singapura menolak melakukan ratifikasi perjanjian ekstradisi untuk para maling dari Indonesia. Sementara Malaysia sendiri menjadi proyek kapitalisme yang sampai sejauh ini paling berhasil di Asia Tenggara. Namun perlu diperhatikan apa yang dilakukan Malaysia adalah mengambili kekayaan bangsa Indonesia yang sangat besar, bukan itu saja pembangunan infrastruktur Malaysia tergantung sekali dengan tenaga Indonesia yang diperkuli oleh mereka. Indonesia sendiri kelak di akhir era Suharto menjadi negara paling gagal menerapkan kapitalisme modern. Terbukti modernisasi yang dibawa Suharto tidak membawa kesejahteraan bagi bagian besar bangsa Indonesia dan Indonesia menjadi ‘bangsa yang sakit’ di Asia Tenggara. Ini adalah tragedi Indonesia yang tadinya merupakan bangsa terbesar, dihormati dan sumber inspirasi bukan saja bagi bangsa-bangsa Asia Tenggara tapi juga bangsa lain di dunia kini menjadi bangsa yang separuh gagal. Masih beruntung gagasan Nasionalisme Sukarno masih teramat kuat di Indonesia bila tidak kita akan menyaksikan perpecahan di Indonesia pasca lengsernya Suharto. Mengapa bisa begitu?

Kapitalisme Yang Mengabaikan Hak Milik Bangsa

Dari semua kerja politik Sukarno dimasa Nasakom yang paling penting adalah sebuah gagasan inti namun jarang diperhatikan orang yaitu : Berdaulat penuh terhadap kekayaan bangsa Indonesia. Indonesia merdeka adalah Indonesia yang memiliki daulat ekonomi dimana kepentingan rakyatnya menjadi sasaran utama perhatian. Namun untuk menuju ke arah kedaulatan ekonomi Sukarno harus memberantas dulu penyakit-penyakit feodalisme dan kolonialisme yang rupanya banyak bersarang di kalangan elite politik dan militer. Secara sadar Sukarno menggunakan PKI untuk bertarung dengan mesin elite ini sekaligus menjaga keseimbangan agar pertarungan itu tidak melibatkan pihak asing.

Memang terkadang perlawanan PKI terhadap kelompok elite ini dirasakan terlalu keras. Namun PKI sama sekali tidak pernah melakukan perlawanan dengan melewati batas kekuasaan Sukarno. Hanya sekali saja PKI mengumbar orasi politiknya yang melewati batas Sukarno yaitu saat kampanye pembubaran HMI dimana di depan Sukarno, DN Aidit menyebut bahwa pejabat tinggi menghinakan kaum wanita, berfoya-foya tapi tidak memperhatikan rakyat disamping menyuruh pemuda PKI memakai sarung saja kalau tidak bisa membubarkan HMI.

Baca Juga:  Pahlawan Devisa (1)

Perekonomian di masa Sukarno memang cenderung tidak mendapatkan perhatian. Hatta sendiri kerap menyatakan kepada kawan-kawan dekatnya bahwa Indonesia akan segera runtuh bila Sukarno tidak memperbaiki kondisi perekonomian dengan segera. Namun bertahun-tahun Hatta mengucapkan itu, toch Indonesia dimasa Sukarno tetap kuat bahkan mampu menyelenggarakan dua kali proyek perang besar yaitu dengan Belanda pada masa perebutan Irian Barat dan proyek perang di perbatasan Malaysia dengan Inggris sebagai lawan utama. Namun ternyata Sukarno akhirnya dikalahkan oleh sebuah peristiwa aneh yang digerakkan oleh Letkol Untung, komandan pasukan pengawal pribadi Sukarno, Tjakrabirawa dimana enam Jenderal terbunuh pada peristiwa itu. Sukarno tidak runtuh oleh kegagalan ekonomi tapi dibunuh karier politiknya oleh konspirasi paling misterius abad 20. Gerakan 30 September 1965.

Selama dua tahun lebih sejak peristiwa Gerakan Tiga Puluh September kekuasaan Sukarno dipreteli pelan-pelan. PKI jelas sudah habis bahkan satu hari setelah terjadinya gerakan Untung. Dan dua bulan setelah gerakan Untung para anggota PKI nyaris habis dibunuhi oleh massa yang marah karena membaca opini media massa yang digerakkan oleh Angkatan Darat pro Suharto dimana dalam berita-berita itu Suharto menyebarkan berita bohong tentang kekejaman gerakan Untung dan dikatakan ditunggangi oleh PKI. Sukarno tidak mau membubarkan PKI dan mahasiswa-mahasiswa yang dipersiapkan oleh militer bergerak menantang kekuasaan Sukarno. Di tangan para intelektual muda yang terpengaruh paham kebebasan barat keangkeran Sukarno dibongkar habis-habisan bahkan sampai tahun 1970-an nama Sukarno terus dihina sebagai bagian hitam sejarah Indonesia, terutama sekali jurnalis Mochtar Lubis sampai pada peristiwa Malari 1974 selalu memburuk-burukkan Sukarno.

Hilang Sukarno datanglah Suharto. Munculnya Suharto sebagai kekuatan tandingan Sukarno sama sekali diluar prediksi ahli politik manapun. Bahkan CIA menggembar-gemborkan bahwa mereka sama sekali tidak mengerti siapa Suharto. Namun hal ini patut diragukan karena bagaimanapun Suharto sejak awal tahun 1960-an dekat dengan Jenderal Suwarto yang kerap dituding sebagai otak intelektual pembaratan di Indonesia yang anti terhadap Sukarno. Suwarto oleh banyak kalangan Sejarawan disebut-sebut sebagai otak dari berdirinya Orde Baru dimana militer ambil peranan.

Pada awalnya gerakan kudeta Suharto yang diselubungi surat Sukarno yang dipelintir dan penuh aroma konspirasi ‘Supersemar’ didukung oleh kelompok modernis Indonesia yang banyak bercokol di kalangan PSI dan secara lokasi berpusat di Bandung. Gagasan Orde Baru adalah gagasan modernisasi Indonesia. Suharto pada awalnya masih meraba-raba dukungan yang akan diperolehnya. Ini merupakan karakter politiknya. Ia menyimpan dulu anak buahnya yang asli di dalam kotak dan menggunakan kekuatan radikal anti Sukarno yang militan –kelak pendukung Suharto yang militan ini berakhir menyedihkan seperti HR Dharsono yang dipenjara pada tahun 1980-an – . Mereka ini adalah orang-orang PSI, para mahasiswa yang terpengaruh ideologi modernisasi barat/Amerika dan perwira tinggi Siliwangi, sebuah kekuatan militer di Jawa yang tidak terpengaruh oleh emosi Sukarnois. Ketiga kekuatan ini dimainkan Suharto dan dijadikan lansekap politik Orde Baru untuk berhadapan langsung dengan kekuatan Sukarno. Untuk berhadapan dengan Sukarno, Harto tidak menggunakan kekuatan militernya karena ia yakin bahwa Brawijaya dan Diponegoro masih berada di belakang Bung Karno. Namun Bung Karno juga sudah terkena Skak Mat karena sikapnya yang tidak jelas terhadap G 30 S pada awal mulanya walaupun kelak Bung Karno mengeluarkan kesimpulan dalam pidato pertanggung jawaban Nawaksara yang sampai saat ini adalah paling lengkap dari teori-teori konspirasi G 30 S. Namun Suharto dengan kelihaiannya sudah menguasai media massa, histeria massa sudah digiring sementara kaum intelektual yang berorientasi barat-liberal dan sosialis kanan sepenuhnya berada di belakang Suharto karena berharap Indonesia akan di modernisir setelah kejatuhan Sukarno.

Kaum Modernis Yang Tidak Sabaran

Sepanjang sejarahnya Sukarno selalu ditentang tiga unsur kekuatan : Islam dari jalur modern (baik pendukung Pan Islamisme ataupun Negara Islam), Sosialisme Kanan yang pro barat, dan Komunisme (Komunis-Nasionalis,Trotskys dan Komintern). Dari ketiga unsur inilah Sosialis Kanan yang paling militan menentang Sukarno. Kekuatan Islam walaupun menentang Sukarno namun bagian besar dari mereka mendukung. Bagaimanapun Sukarno adalah anak didik Tjokroaminoto ‘Raja Jawa tanpa mahkota’ dari Sarekat Islam, pernah menjadi guru Muhammadiyah di Bengkulu dan menjadi pendukung Muhammadiyah yang utama serta tidak boleh lupa Sukarno adalah anak Jawa Timur basis dari pendukung NU. Otomatis kekuatan penentang Sukarno dari kalangan Islam biasanya tidak berbasis kebudayaan Jawa, terpengaruh konsepsi negara Islam dan Pan Islamisme atau menjadi kekuatan Islam tarekat yang memiliki pengaruh mistis dan kuat seperti kelompok DI/TII. Boleh dikatakan untuk kalangan Islam Sukarno masih menguasai 80% dukungan. Faktor PKI-lah yang menjauhkan Bung Karno dari kalangan Islam. Namun sepanjang sejarah kepemimpinan Islam di Indonesia, Bung Karno tetap merupakan pemimpin yang paling menonjol dan dijagokan umat Islam Indonesia. Sementara untuk Komunisme, Sukarno ditentang karena masalah yunioritas dia dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Bagaimanapun ketokohan Sukarno datang belakangan sesudah gerakan Komunis yang berani melawan koloni Belanda di Jawa dan Sumatera. Nama Sukarno muncul justru setelah kegagalan pemberontakan Komunis 1926/1927 dimana akibatnya pembuangan besar-besaran ke Digoel. Sukarno mengisi kekosongan kekuatan PKI dan membangun jalur politik garis tengah dengan jualan utamanya yaitu : Nasionalisme. Sukarno memang agak diremehkan oleh jago-jago tua komunis tapi anehnya para jago tua itu selalu menggunakan nama Sukarno untuk meraih tujuan-tujuan politiknya. Puncaknya adalah ketika Wikana yang memang seorang kader muda Komunis mendesak Sukarno dan Hatta memerdekakan Indonesia ini tidak lepas dari desakan jago-jago tua komunis untuk mendesak Wikana agar Sukarno diusulkan menjadi pemimpin. Begitu juga ketika Tan Malaka kembali lagi ke kancah politik Indonesia. Tan Malaka pada awalnya langsung ingin menggoyang kedudukan Bung Karno dengan menggunakan Sjahrir namun Sjahrir menolak karena ia tahu yang dipilih rakyat adalah Bung Karno bukan siapa-siapa. Setelah hancurnya Muso, yang juga mentor Sukarno di era ngekost di rumah Pak Tjokro dan terbunuhnya Tan Malaka. Kekuatan kiri garis keras sepenuhnya dibelakang Bung Karno seperti yang dikatakan di muka tulisan ini bahwa DN Aidit cs adalah pengekor Sukarno sejak jaman Jepang. Begitu juga dengan anak didik Tan Malaka yang langsung berada dibawah Sukarno seperti Chaerul Saleh dan Adam Malik. Jadi secara mutlak golongan garis keras Kiri yang tidak terpengaruh ajaran Sosialis Kanan alias Sosialis moderat bernadi Owenisme sepenuhnya berada dibelakang Bung Karno.

Satu golongan yang tidak mau dekat dengan kelompok Bung Karno dan memiliki jaringan pengaruh paling kuat bahkan sampai detik ini (tahun 2008) memiliki pengaruh besar atas gagasan modernisasi Indonesia dan berperanan dalam penjungkalan Sukarno serta memberikan api perlawanan terhadap Suharto sejak peristiwa Malari 1974 sampai pada gerakan Reformasi 1998 adalah Lingkaran Sjahririan yang biasa disebut orang-orang PSI dengan haluan ideologi Sosialis Kanan. Walaupun saya tidak akan menyebut hanya kelompok PSI saja yang militan terhadap kerja politik anti Sukarno tidak diragukan namun yang paling menonjol dalam proses penjungkalan sampai pemberian label buruk terhadap Bung Karno sampai pada peristiwa Malari 1974 adalah orang-orang PSI. Perlu diketahui setelah peristiwa Malari 1974 banyak dari golongan PSI dan juga orang-orang intelektual non partisan yang dulunya anti Sukarno menjadi sadar bahwa apa yang dilakukan Sukarno dalam menghadapi kekuatan asing ada maknanya. Baru setelah mereka melihat penyelundupan-penyelundupan yang dilakukan kroni Suharto, korupsi besar-besaran seperti kasus Pertamina dan Coopa juga penempatan pejabat korup yang tidak populer di kalangan masyarakat membuat kesadaran baru bahwa rezim Orde Baru merupakan rezim sinting. Namun pada saat itu Orde Baru tetaplah menjadi lambang dari modernisme yang pro barat. Ada kemungkinan bila Suharto jatuh maka yang berkuasa adalah kelompok yang dekat dengan komunis atau juga ketakutan akan berdirinya negara Islam. Jadi faktor Suharto juga merupakan fait accompli yang bisa disebut kuldesak/jalan buntu bagi kekuatan modernis Indonesia. Perlu diingat pada tahun 1970-an kekuatan Uni Soviet masih sangat raksasa sementara di Iran pada tahun 1979 terjadi Revolusi Islam Khomeini yang menjungkalkan pemerintahan Syah Reza Pahlevi yang pro Amerika Serikat. Disinilah kemudian kaum modernis tidak berani melakukan terobosan politik karena Suharto adalah satu-satunya alternatif agar Indonesia tidak jatuh ke tangan Komunis atau juga tidak menjadi negara Islam. Namun akhirnya terobosan itu menemukan efektivitasnya dengan menekankan kekuatan nasionalis yang membangkitkan aroma Sukarno, Dititik inilah kelak pada tahun 1970-an kekuatan Modernis Sjahririan dan Visi Sukarnoisme mendapatkan masa-masa bulan madunya setelah selama satu dekade penuh menghujat Sukarno. Kelompok Sjahrir ini terlepas dari anggapan sebagian orang mengatakan bahwa Sjahrir adalah sebuah ‘history of bubble’ gelembung sejarah. Namun diakui atau tidak diakui 70% jalannya sejarah Indonesia tergantung pada otak kelompok Sjahrir ini. Jadi bagi saya sendiri memulai merenungi jalannya Orde Baru haruslah lebih dulu membedah bagaimana kelompok Sjahrir bekerja dan apa maunya lalu kita korelasikan dengan Orde Baru-nya Suharto. Deviasi antara pemikiran Sjahririan dengan Orde Baru Suharto inilah yang merupakan penyimpangan dari maksud Orde Baru. Karena bagi saya Orde Baru adalah proyek modernisme PSI yang kemudian diselingkuhi oleh gagasan Nasionalisme Tangsi Suhartorian dan membawa Indonesia ke dalam lembah kebangkrutan. Dan harus diakui digiringnya konsepsi Nasionalisme Sukarno yang berdikari ke arah penyatuan Indonesia dalam kebudayaan barat merupakan antaran dari kalangan modernisme yang tidak sabaran.

Gagasan Indonesia Modern Dari Perspektif Intelektual Orde Baru

Banyak orang mengatakan bila menganatomi Orde Baru bacalah pikiran-pikiran Ali Moertopo namun saya katakan adalah kurang tepat membaca pemikiran Ali Moertopo. Justru bagi saya pemikiran Ali Moertopo baik yang tertuang dalam buku Akselerasi Pembangunan 25 tahun ataupun tindakan politiknya adalah sebuah langkah awal pengkhianatan dari modernisasi Orde Baru yang dicita-citakan kelompok modernis. Itulah makanya puncak dari perceraian Suharto dengan gagasan modernisasi Indonesia adalah pada peristiwa Malari 1974.

Hanya dua orang yang menurut saya paling tepat dalam mengarahkan cita-cita modernisme pasca Sukarno yang sempat disematkan pada pundak Orde Baru mereka berdua adalah : Soedjatmoko dan Soemitro Djojohadikoesoemo. Di alam pemikiran Soedjatmoko (Koko) faktor pembangunan manusia menjadi pilihan utama. Dimensi manusia yang terbebaskan dan merupakan tujuan utama dari pembangunan sendiri merupakan pengejawantahan Marxisme dari jalur pelan. Koko tidak mengenalkan konsep revolusi yang mendahului sejarah seperti halnya konsepsi Leninis atau Maois tapi mengenalkan pada proses alami perkembangan kebudayaan manusia yang menghargai kemanusiaan dan tidak mencekal kemanusiaan ke dalam lembah penindasan. Watak utama pemikiran Koko adalah Sosialisme. Sementara Soemitro Djojohadikusomo (Cum) memiliki arti penting membentuk lingkaran yang kemudian sangat berpengaruh terhadap initial capital Orde Baru dibawah Suharto. Lingkaran itu sudah dipersiapkan Cum sejak tahun 1950-an dan menjadi sebuah arus besar ekonomi politik paling berpengaruh sampai detik ini bagi mentalitas pemikiran akademik ekonomi di Indonesia. Ekonomi Amerika. Sayangnya Koko gagal total dalam mengkampanyekan dimensi kemanusiaan dalam pembangunan dimana sesungguhnya Koko sudah tepat dalam membidik faktor manusia sebagai hal yang paling utama dalam kerangka pembebasan kemanusiaan dengan menggunakan kebudayaan modern barat yang liberal. Sementara Cum hanya berhasil dalam membentuk pengaruh wacana akademis karena akhirnya pekerjaan-pekerjaan ekonomi dengan basis maling menjadi pilihan Suharto untuk melanjutkan kekuasaannya. Disinilah yang akan menjadi pusat perhatian kita. Bagaimana Suharto menghancurkan gerak sejarah Sukarno yang bertujuan merebut secara mutlak sumber-sumber kekayaan ekonomi Indonesia sehingga tidak menjadi permainan asing, kemudian dengan menggunakan tangan kaum modernis Suharto membohongi bangsa Indonesia lewat program-program ekonomi modern yang kemudian mengamputasi kaum modernis dan membangun jaringan kekuasaan yang jahat dengan landasan sistem mafioso Italia. Dimana hasilnya sudah kita lihat dalam sejarah : Penghinaan kemanusiaan, Pembantaian manusia Indonesia berskala raksasa (kekejaman Suharto dalam membunuhi orang pada peristiwa 1965-1966 hanya bisa ditandingi oleh kekejaman pasukan SS Hitler dalam membunuhi orang Yahudi), membangun sistem nasionalisme palsu yang digunakan untuk kepentingan kekayaan segelintir elite dan yang paling fatal adalah menyusun masyarakat dengan berbasis korupsi dimana hasilnya bisa kita lihat adalah kehancuran dimana-mana. Selain ketokohan Soedjatmoko dan Soemitro Djojohadikoesoemo ada nama lain yang tak kalah hebatnya, seorang ‘Harvard Man’ berhaluan sosialis, Sarbini Soemawinata. Namun pikiran-pikiran Sarbini tidak begitu mengena dalam kultur Suhartorian, Akademik maupun wacana intelektualis kecuali memang ada pengaruhnya bagi gerakan mahasiswa tapi itu tidak seluas pikiran Koko dan Cum. Pengaruh Sarbini mungkin yang paling tinggi adalah pada awal berdirinya Orde Baru dimana modernisasi yang digadang-gadang kelompok PSI juga menyertakan wacana Sosialisme dititik inilah Sarbini memiliki arti pentingnya.

Baca Juga:  Pengajaran Pancasila untuk Pencegahan Terorisme UU

Suharto Dan Penipuan Terhadap Orde Baru

Sesungguhnya adalah salah bila mengatakan Suharto adalah tokoh yang paling berjasa terhadap Orde Baru. Justru yang paling tepat bagi saya adalah Suharto pengkhianat Orde Baru. Suharto bukan saja telah mengkhianati revolusi Sukarno (maka ia sering dijuluki celeng kontrarevolusioner dan ini adalah tafsiran saya dalam lukisan Djoko Pekik), Suharto juga berkhianat terhadap tujuan-tujuan modernisme Orde Baru dan yang paling parah dari semuanya Suharto sudah membawa jauh sekali Indonesia menyimpang dari arah tujuan Indonesia merdeka. Di tangan Suharto Indonesia saat ini sedang mengalami kebingungan terbesar, ke arah mana harus bergerak.

Suharto adalah penipu terbesar sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Pertama-tama ia menggunakan surat perintah pengamanan a-politis yang dipelintir menjadi kekuatan politik sebagai modal melawan Sukarno, kemudian menggunakan histeria massa untuk membubarkan PKI dimana alasan pembubaran itu sebelumnya didahului dengan membunuhi jutaan nyawa orang. Sungai-sungai banjir darah dan jutaan orang kehilangan nyawa, ratusan ribu dipenjara lalu belakangan ia menciptakan Gulag di Pulau Buru. Setelah melumpuhkan Sukarno, Suharto menggunakan kelompok modernis untuk bekerja mempercantik tindakan politik Orde Baru lalu kemudian menipu mereka dengan memasukkan unsur-unsur kekuasaan dalam tindakan memperkaya diri dan kroninya untuk mempermulus jalannya kekuasaan. Modal pertama yang dilakukan untuk melakukan itu adalah hasil boom minyak setelah Suharto tidak melakukan tindakan solider terhadap negara-negara Arab dalam krisis Palestina tahun 1973 yang menghasilkan forum OPEC. Setelah menipu kelompok modernis dan membungkam mereka di tahun 1974, Suharto mengkhianati mahasiswa yang dulu mendukungnya dan menjadi barometer kebebasan intelektual dengan menyuruh Menteri Pendidikan mengumumkan NKK/BKK, lalu pada tahun 1980-an Suharto menggenjot utang, melakukan reformasi Perbankan yang menghasilkan penyerapan dana masyarakat besar-besaran dan menjadi sumber utang terbesar Indonesia dimana pada akhirnya kita menyaksikan Bank-Bank yang didirikan di Indonesia dalam jumlah massif menjadi sarang-sarang penggelapan uang negara dan masyarakat yang pada tahun 1998 sesudahnya utang itu harus dibayar oleh rakyat. Suharto juga membangun Pasar Modal Indonesia namun masyarakat yang diciptakan Suharto rupanya juga membawa Pasar Modal Indonesia ke dalam kondisi nyaris bangkrut serta kerap menjadi sarana pencucian seperti misalnya dana-dana gelap reboisasi yang sering diputar di Pasar Modal Indonesia. Dari semua kegiatan bejatnya Suharto memberikan seluruh akses modal kepada kroni-kroninya yang bertujuan sebagai benteng kekuasaan Suharto. Serta dengan lucunya Harto memberikan modal kepada anak-anaknya untuk menjadi konglomerat dengan dana pinjaman yang tidak menyertakan faktor resiko. Apa yang dilakukan Harto ini kemudian menjadi sebuah gejala besar dalam pengerukan dana masyarakat dan negara dimana Manajemen Resiko tidak pernah menjadi titik perhatian, banyak kemudian anak-anak pejabat dari kelas menteri sampai lurah menggunakan sistem fasilitas model Suharto ini pada anak-anaknya. Jadi di bawah Suharto Indonesia bukan dibawa ke dalam negara modern tetapi sebagai negara primitif berlandaskan sistem maling. Jelas ini bukan sebuah negara modern, tapi negara kanibal yang primitif. Merupakan kesalahan fatal bila Suharto diunduh namanya menjadi Bapak Modernisasi Indonesia.

Suharto, Suhartorian dan Kapitalisme Semu

Pada awal-awal setelah peristiwa Gerakan Untung. Suharto jelas telah melakukan tindakan subversif pada Bung Karno. Bahkan tindakannya itu bisa disamakan dengan tindakan Letkol Untung yang tidak mencantumkan nama Bung Karno dalam susunan Dewan Revolusi (Susunan ini biarpun ngawur tapi juga memiliki makna serius terhadap kekuasaan Sukarno). Pada siang harinya Suharto menahan Umar dan Pranoto untuk bertemu dengan Bung Karno yang alasannya “Angkatan Darat tidak mau kehilangan Jenderalnya lagi” Namun dengan cepat Suharto mengangkat dirinya sendiri sebagai Menpangad tanpa sepengetahuan dan ijin Sukarno sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata. Dari sini saja Suharto bisa terkena tuduhan serius yaitu : membangkang terhadap kekuasaan yang sah. Tapi Suharto tahu segalanya, ia punya kartu truf yaitu hilangnya kelompok Yani yang diculik pasukan Untung. Ada missing link yang paling membingungkan ahli sejarawan tentang teori konspirasi 1965. Yaitu : Dimana Suharto pada malam 30 September 1965 setelah pertemuannya dengan Kolonel Latief, Wakil Komandan Gerakan Untung. Seperti yang telah diketahui oleh umum lewat pledoi Latief yang dirilis pada tahun 1978. Ternyata Suharto dilapori oleh Latief bahwa pasukan Untung akan menangkapi para Jenderal dan menurut pengakuan Latief, Suharto hanya mengangguk. Dianggap sudah mengerti Latief pamit pulang dan meneruskan pekerjaannya dalam pasukan Untung. Tapi hal itu dibantah oleh Suharto, katanya Latief mencari-cari Suharto di Rumah Sakit Gatot Soebroto untuk dibunuh. Pengakuan ini ada dua versi. Versi dari majalah Der Spiegel dan Versi dari Otobiografi Suharto G. Dwipayana.

Setelah subuh (menurut pengakuan Suharto) ada orang yang menyaksikan Suharto yaitu : Mashuri yang kelak menjadi Menteri Penerangan di Jaman Orde Baru. Mashuri menyaksikan sebelum jam 6 pagi Suharto sudah mengenakan pakaian tempur. Ini menunjukkan bahwa Suharto kemungkinan sudah tahu akan adanya gerakan. Dan orang yang mengetahui adanya gerakan ini diluar sistem gerakan Untung adalah : Suharto. Ia sendiri dengan menggunakan kendaraan dinasnya pergi ke Markas Kostrad dan tidak dikawal. Dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan banyak pasukan dari luar daerah (Diponegoro) berkeliaran di sekitar Monas dan Istana Negara.

Puncak dari kehebatan Suharto dalam menguasai informasi Gerakan Untung adalah ketika ia mengucapkan kepada anak buahnya setelah hampir seluruh markas Kostrad sudah mendapat info bahwa Yani cs diculik adalah ucapan : “Itu Gerakan Untung, dan Untung sudah lama menjadi binaan PKI”. Ucapan inilah yang kemudian menjadi dasar paling kuat bukan saja menghantam gerakan Untung, menjungkalkan Sukarno dari kekuasaannya bahkan lebih jauh lagi menciptakan rezim teror selama 32 tahun.

Tidak ada yang Paling baik dalam menjelaskan pondasi struktur kekuasaan yang dibangun Suharto selain ucapan singkatnya : PKI berada dibalik Gerakan Untung. Ucapan inilah yang kemudian menjadi sebuah landasan filosofis paling penting dari semua struktur kekuasaan Suharto. Tidak mungkin menjelaskan kekuasaan Suharto tanpa melibatkan alasan utama berdirinya rezim teror ini, PKI. Pelaburan nama sehitam-hitamnya bagi Partai Komunis itu dijadikan alat paling penting dalam menciptakan rezim teror. Seperti yang telah tercatat dalam sejarah bahwa ketika Suharto sudah semakin mendekat dengan Sukarno dalam pertarungan politiknya. Suharto menggunakan kekuatan media massa untuk menciptakan histeria massa dimana kemudian teror paling kelam dalam sejarah Indonesia terjadi. Uniknya peran media massa ini kemudian sangat penting juga dalam menciptakan pemulihan nama baik Suharto di tahun 2008 saat ia sudah sakit-sakitan dan kemudian meninggal dunia pada 27 Januari 2008. (Bila tahun 1965-1966 panglima media massa adalah Angkatan Darat melalui corongnya yang utama Berita Yudha dan Harian Angkatan Bersenjata, maka pada tahun 2008 Panglima Media Massa adalah : Pemilik modal media massa yang notabene besar karena fasilitas Orde Baru dan kucuran dana Cendana. ( – catatan : Perlu diketahui pada tanggal 2 Oktober 1965 hanya ada tiga koran yang dibolehkan terbit oleh Angkatan Bersenjata, dua koran dari Angkatan Darat : Berita Yudha dan Harian Angkatan Bersendjata lalu yang lain adalah : Harian Rakjat. Harian Rakyat ini adalah koran corongnya PKI. Mungkin saja intel Angkatan Darat sudah tahu bahwa Harian Rakyat akan mengeluarkan tajuk rencana atau suara resmi koran itu mendukung Gerakan Untung. Sementara Berita Yudha dan Harian Angkatan Bersendjata menentang dan mengutuk Gerakan Untung. Kenapa koran lain yang netral seperti Kompas misalnya dibredel saat mau turun cetak untuk edisi 2 Oktober 1965. Hal itu lebih dimungkinkan karena memang pihak Suharto sudah merencanakan untuk menjebak Harian Rakyat. Jadi dikotomi salah-benar dalam kasus G30S tidak digiring ke wilayah abu-abu. Jelas dua Koran Angkatan Bersenjata di pihak yang benar dan Harian Rakyat sebagai corongnya PKI terjebak sebagai satu-satunya pendukung G30S yang musti dikutuki tanpa melibatkan unsur lain. Hal ini dilakukan agar lawan Suharto di fase awal cukup hanya pada pendukung PKI saja, bukan termasuk pendukung Sukarno dan menggiring pada bukti bahwa PKI memang ada dibelakang G30S – ).

Melalui alat tawar PKI yang anehnya Sukarno juga terjebak dalam tawaran itu dan bukannya menangkap Jenderal Suharto. Suharto bergerak lebih agresif lagi. Ia langsung mengisi stafnya dengan orang-orang Diponegoro yang pro dengan Suharto sejak tahun 1950-an (Tahun 1950-an jaman Harto masih di Diponegoro, ia membangun klik-nya sendiri dan melakukan perbuatan melawan hukum sampai Yani marah lalu menempeleng Suharto, Yani melaporkan pada Nasution yang kemudian direspon untuk memecat Harto namun berhasil dihalangi oleh Gatot Subroto, sebelum menjabat sebagai Panglima Diponegoro Harto juga bersama kliknya menyingkirkan Kol. Bambang Soepeno sebagai kandidat Panglima Diponegoro). Perlu diingat Jenderal Yani sendiri agak kurang disukai oleh orang-orang Diponegoro karena sikapnya yang sudah ke Jakarta-Jakartaan. Namun di sisi lain Jenderal Yani juga berhadapan dengan Jenderal Nasution. Konflik Yani–Nasution reda karena adanya faktor DN Aidit. Aidit-lah orang yang menganggap Yani merupakan saingan seriusnya. Jadi Yani disisi lain sangat populer di lingkungan Internasional dan favoritnya Bung Karno namun ia juga musti berhadapan dengan Nasution, Kelompok Semarang dan Aidit. Nama Suharto jarang disebut-sebut sebagai rivaal Yani, bahkan Harto termasuk Jenderal paling tidak dikenal di mata publik. Orang mengenal Yani dengan Banteng Raiders-nya di titik inilah keuntungan Harto, ia tidak menjadi sasaran persaingan kaum politisi sipil. Setelah penculikan Yani, tiba-tiba nama Harto muncul dan bukan main-main Harto langsung head to head berhadapan dengan Bung Karno.

Saya perlu menekankan masa-masa genting 1965-1966 sebagai masa konsolidasi Suhartorian pada fase paling awalnya. Pada masa ini orang-orang Suharto lebih dikenal sebagai bagian dari orang radikal bukan orang yang berada di dalam lingkaran Harto sperti di masanya  eranya dulu suka  barulah seperti kehilangan induk semangnya.

*Penulis adalah pendampingan hak hak masyarakat dan, Wakil Ketua Gerakan Masyarakat Dukungan terhadap Konstitusi dan Kadilan Jatim.