JERITAN RAKYAT

329

Masih perlukah aku menulisnya
Tentang jeritan seorang ibu dan anaknya yang kelaparan
Dengan wajah yang lusuh
Menahan sakit perut di jalan-jalan
Sedangkan puisi telah terkubur oleh kekuasaan
Yanag tak berkeadilan

Mahasiswa-mahasiswa berdemo menyuarakan keadilan
Untuk mereka yang tidak punya penghasilan
Bantuan tidak tepat sasaran
Rumahnya beratap dedauan
Bila hujan, banjir menggenang
Berdoa supaya tidak ada angin kencang
Punguasa acuh
Demo dianggap penghibur bangun tidur
Dianggap penghibur di hari libur

Tidak jarang para akademisi berdikusi dengan wacananya yang berbeda-beda
Saling beradu argumen hanya tidak saling tikang menikam
Mencari kebenaran tentang sebuah keadilan
Untuk mereka yang tak bernasib baik
Pagi tanpa sarapan
Sarapan siang digabung kemalam hari
Esok harinya kebingungan tak punya nasi

Baca Juga: Puisi-Puisi Rudi Santoso

Para aktivis mulai gelisah
Seakan sudah tak mempunyai cara lagi
Untuk memohon pertolongan
Tentang anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah
Tentang sekolah yang setengah roboh
Tentang seorang guru yang menempuh perjalan jauh
Dari rumahnya ke sekolah
Uang sakunya habis di perjalan
Tidak cukup untuk membeli sepatu
Itu pun kalau cukup untuk biaya transportasi dari waktu ke waktu

Lewat tulisan, penulis-penulis menyuarakan ketimpangan sosial
Tulisannya hanya menjadi bungkus nasi
Janji-janji hanyalah ilusi

Suara perlawan menggema
Hanya menjadi pelengkap musik di handponnya

Derita rakyat hanyalah bau kentut
Yang menyeruap lalu hilang terbawa oleh angin

Inilah negeriku, Indonesia
Penuh lelucon dan menggelikan
Jogja, 2018

 

Baca Juga:  Aku dan Tuhan