Jokowi Adalah Kita

60

Kalau kita cermati dalam setiap kesempatan bertemu dengan berbagai kalangan JOKOWI selalu memompa optimisme kita untuk tetap tegar menghadapi berbagai tantangan yang menghadang. Tidak pernah sekalipun beliau mengajak kita untuk putus harapan atau memprovokasi kita untuk menghujat sesama saudara sebangsa. JOKOWI selalu memancarkan energi positif untuk kita dan Indonesia.

Dalam setiap penampilan di berbagai event selalu terpancar aura ketulusan dan kesederhanaan dari wajah JOKOWI. Senyum yang ikhlas selalu dibuarkan kepada siapa saja. Tidak ada cerminan keletihan di wajah beliau meskipun kita tahu agenda kegiatan beliau sangat padat merayap dan melelahkan.

JOKOWI mengajarkan kepada kita untuk selalu amanah dan bertanggungjawab. Tidak pernah ada keluhan keluar dari bibirnya atas beban kerja yang luar biasa berat. JOKOWI telah MEWAKAFKAN seluruh hidupnya untuk Indonesia. Dan itu semua tugas dijalankan dengan penuh kegembiraan dan keikhlasan sehingga tidak pernah terlihat pancaran kelelahan atau keterpaksaan dari wajahnya.

JOKOWI mengajarkan kepada kita untuk selalu tawadhu atau rendah hati. Belum pernah keluar dari bibirnya hujatan atau cercaan kepada orang lain kecuali kepada para pembuat fitnah dan ujaran kebohongan. JOKOWI menampilkan sisi yang berlawanan 180° dari pesaingnya. Dimana pesaingnya selalu rajin memproduksi kebohongan, menyebarkan pesimisme dan menghujat dengan data-data palsu. Namun JOKOWI tampil sebagai PARADOKS. JOKOWI telah dengan sukses menegaskan perbedaan warna putih dalam dirinya dan hitam pekat dari sisi pesaingnya.

Pesaingnya menggunakan senjata hitam untuk menghantam. JOKOWI menggunakan bekal kebersihan hati untuk tampil diri. Semua mengalir apa adanya, tanpa rekayasa. Pesaingnya pun juga mengalir tampil apa adanya karena memang faktanya sifat aslinya seperti itu yaitu temperamental, mudah marah dan empati sosial yang rendah. Rekam jejak tidak terbantahkan, meskipun dengan polesan bedak penuh pencitraan.

Baca Juga:  Relevansi Pemikiran Tan Malaka di Era Milenial

JOKOWI memberikan kepada kita kepastian masa depan yang penuh harapan tapi pesaingnya menyebarkan ketakutan dan mimpi buruk penuh keputusasaan. Dan pada akhirnya realita yang terjadi pada kontestasi Pilpres 2019 adalah KEBAIKAN versus KEJAHATAN.

Kita akan ikut arus yang mana ? Sudah pasti semua manusia normal akan mengikuti arus KEBAIKAN. Karena pada dasarnya kehidupan sosial kita adalah rangkaian kebaikan yang diwariskan oleh orangtua dan leluhur kita. Dan JOKOWI dengan rendah hati telah berhasil merepresentasikan diri KITA yang sebenarnya.

Jadi apabila di hati kita tumbuh subur ladang KEBAIKAN, sudah pasti frekuensi kita akan bertaut dengan energi KEBAIKAN yang sedang JOKOWI pancarkan. Namun sebaliknya, apabila di hati kita begitu merimbun kebencian sudah pasti kita tidak akan bisa bertaut dengan energi KEBAIKAN yang dipancarkan oleh JOKOWI. Ini untuk menjelaskan mengapa begitu banyak orang yang mendukung JOKOWI namun ada sebagian yang begitu membenci JOKOWI. Kuncinya ada pada pertautan energi dan frekuensi KEBAIKAN yang ada pada diri kita masing-masing.

Selanjutnya apabila kita menjadi pendukung JOKOWI, sudah pasti kita akan melakukan seperti apa yang JOKOWI lakukan yaitu setiap saat menyebarkan kebaikan dan setiap saat membangun optimisme diri dan kepada orang-orang di sekitar kita. Semua kita lakukan dengan penuh kegembiraan, kehangatan dan ketulusan. Karena JOKOWI mengajarkan kita seperti itu.

Satu hal lagi, kita tidak perlu terlalu risau dengan sebaran kebohongan, kebencian dan kekasaran yang dilakukan oleh kubu pesaing JOKOWI. Karena sejatinya mereka sedang memancarkan energi negatif yang akan menerkam diri mereka sendiri. Tetaplah kita pada jalur kebaikan, karena sudah menjadi suratan hukum alam dan kehendak Tuhan, bahwa KEBAIKAN pada akhirnya yang akan menjadi JUARA.

Baca Juga:  SKTM dan Susu Kental yang Tidak Manis

So, JOKOWI adalah kita dan kita adalah JOKOWI. Dan kita bersama JOKOWI adalah semaian kebaikan untuk Indonesia. Sebarkan dan suburkanlah !!!