Jokowi Sang Super Manajer

714

Saya begitu tergelitik dengan pernyataan Mardani Ali Sera dari PKS si pencetus hastag 2019 GANTI PRESIDEN di acara ILC tanggal 10 April beberapa waktu yang lalu.

Berulang kali dia menyebut bahwa presiden Jokowi tak ubahnya sebagai seorang manajer bukan Leader dan menurutnya Indonesia tidak butuh seorang manajer tetapi yang dibutuhkan adalah seorang Leader.

Saya akan coba meluruskan pernyataan Mardani yang merasa sok jago ini. Indonesia sudah berapa tahun dipimpin oleh seorang Leader mulai jaman Sukarno sampai Yudhoyono. Hasil yang dicapai sungguh sangat memprihatinkan, Indonesia tidak lebih dari sebuah negara miskin dan terpuruk secara ekonomi bahkan tertinggal jauh disegala bidang dengan negara- negara lain di Asia Tenggara, contoh yang nyata adalah masalah pembangunan infrastruktur.

Kita tahu bahwa para Leader yang terpilih di negeri ini tidak mempunyai kemampuan sebagai seorang manajer. Mereka terpilih hanya karena kharisma, wibawa dan pandai beretorika untuk membakar semangat saja. Tetapi ternyata itu keliru. Kita terlena dengan nama besar bangsa ini yang selalu mabok disanjung dengan rasa patriotisme yang tinggi sebagai sebuah bangsa yang besar. Kita tidak melihat negara negara tetangga yang tidak peduli dengan nama besar tetapi mereka begitu masif membangun negaranya.

Tapi kenyataannya sekarang baru sadar bahwa kita tidak cukup hanya butuh seorang Leader tapi kita butuh seorang manajer.

Mungkin disini perlu saya jelaskan apa yg dimaksud manajer & Leader tersebut.

Manajer : Orang yang memiliki kemampuan dan bertugas untuk mengarahkan dan mengatur suatu kelompok untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Leader : Orang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi, memotivasi dan membuat orang lain berkontribusi untuk mencapai kesuksesan suatu organisasi.

Baca Juga:  MASA DEPAN INDONESIA POROS MARITIM DUNIA DITENGAH PERTEMPURAN POLITIK KEPENTINGAN DAN KERINGNYA GAGASAN PENYADARAN MARITIM

Dari dua pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa saat ini Indonesia butuh seseorang manajer untuk bisa mengejar ketertinggalan ketertinggalan itu. Munculnya Jokowi adalah sebuah jawaban. Jokowi tidak bisa berperan sebagai seorang Leader karena memang dia tidak pandai beretorika, tidak pandai berpidato dan berbicara ber api- api layaknya seorang Leader, tapi beliau punya kemampuan mengarahkan dan mengatur serta bisa memberi contoh dengan etos kerja yang tinggi pada suatu kelompok untuk mencapai tujuannya.

Seandainya dihitung dengan waktu, Indonesia butuh seorang manajer sampai tahun 2029 nanti agar minimal kita bisa sejajar dengan negara2 di Asia Tenggara.

Jadi kalau saya yakin hastag 2019 GANTI PRESIDEN hanya akan berhenti di kaos saja seperti pernyataan kang Romahurmuziy dari PPP.

Pemerhati Politik, Aktivis Relawan Jokowi.