Kain, Surat Terakhir Jose Saramago

331

Judul                : Kain

Penulis             : Jose Saramago

Penerbit          : Basabasi

Terbit              : Desember 2017

Tebal               : 190 halaman

ISBN                 : 978-602-6651-57-0

Premis terakhir dari Jose Saramago yang seorang atheis ini mungkin akan membawa pembaca kembali ke masa lampau. Masa di mana manusia pertama kali diciptakan, bukan manusia purba. Tapi manusia seutuhnya yang sudah paham bahasa serta perbudakan, meski sama-sama masih hidup secara nomaden. Kain merupakan novel terjemahan dari edisi Inggris, yang diterjemahkan oleh Margaret Jull Costa dengan judul Cain. Terbitan Boston, New York pada 2011 dan kembali diterbitkan Basabasi pada akhir tahun lalu, diterjemahkan oleh An Ismanto. Jose saramago yang meninggal pada 2010 di usia 87 tahun, meraih penghargaan Nobel pada 1998 atas “parable yang ditopang imajinasi, keharuan, dan ironi serta skeptisisme modern” tentang kebenaran resmi. Di sisi lain novel karyanya ini mengundang banyak sekali kontroversi, Jose bercerita tentang tuhan dan pandangannya terhadap agama. Ia pernah menceritakan ulang tentang Yesus dengan sudut pandangnya sendiri sebagai seorang komunis.

Novel Kain ini bercerita tentang tokoh Kain, manusia pertama yang melakukan pertumpahan darah terhadap saudara kandungnya sendiri, Habel. Yang karena perbuatannya itu, tuhan allah (tokoh Tuhan yang disebutkan pada novel) mengutuknya dengan menyaksikan kejadian tak mengenakan seumur hidupnya. Kain hidup secara nomaden dan banyak melewati kejadian tak menyenangkan. Kejadian-kejadian itu kembali mengingatkan pembaca (terutama muslim) tentang kisah Nabi terdahulu. Seperti kisah Abraham yang diperintah tuhan untuk membunuh putranya sendiri, lalu tentang sebuah menara besar yang dibangun manusia yang berharap menjangkau langit dan bagaimana tuhan meratakannya dengan tanah oleh badai, lalu tentang kota di mana laki-laki lebih suka tidur dengan laki-laki lain (Kain, halaman 137). Selain dari novel yang isinya hampir menyadur kitab suci, novel ini juga tidak sungkan menunjukkan sisi erotisnya. Pembaca akan sangat mudah menemukan kata-kata seperti penetrasi, payudara, penis, ejakulasi, ereksi dan Jose Saramago dengan gamblang menceritakan proses hubungan seks tersebut dilakukan oleh tokoh Kain. Pada Novel lain seperti Mei Hwa karangan Afifah Afra, juga menceritakan tentang hubungan seks yang dilakukan awak kapal kepada tokoh Mei Hwa yang masih polos. Namun tidak dikronologikan segamblang Jose Saramago. Atau pada novel Balada Si Roy #1 Joe, menceritakan sisi sensualitas tokoh Roy namun juga tidak diceritakan secara detil. Novel kain, mengingatkan pada Novel Alkudus karangan Asef Saeful Anwar yang juga mengangkat agama sebagai premis. Sayangnya Asef menuangkan bahasa kitab yang dapat dibilang sangat aman, dan jauh dari resiko perdebatan. Tokohnyapun dibuat seaman mungkin disisi lain cover dan judul novel yang menjadi daya tarik perdebatan.

Baca Juga:  Pilkada Merupakan Bukti Hasil Reformasi Internal PDIP Menjadi Partai Kader

Ada pula sosok Lilith wanita cantik, isteri Nuh yang pertama ditiduri Kain. Nuh menjadi sosok suami yang sabar karena tidak berhasil membuahi istrinya, permisif dalam soal suami-isteri yang nantinya akan berubah menjadi modus vivendi yang dapat dimaklumi. Diceritakan Lilith sebagai wanita dengan seksualitas tinggi karena dia tidak mendapatkan benih dari suaminya sendiri lantas dia menyilakan budak pilihannya untuk menabur benih tersebut. Terlepas dari Lilith, Kain meneruskan perjalanannya dan di akhir cerita dia lebih banyak meniduri wanita dan membunuh banyak umat tuhan. Perselisihan antara kain dan tuhan terus dimunculkan dalam cerita.

Pembaca tidak akan menemukan tanda baca yang tertib seperti novel atau bacaan-bacaan lain pada umumnya. Tidak pula menemukan alenia yang bagus untuk menata paragrafnya. Semua seakan sengaja dibiarkan acak-acakkan. Dibalik penghargaan yang diraih penulisnya, hal ini memang cukup mengganggu pembaca dalam mencerna isi cerita. Pembaca seolah dibiarkan membuat sendiri patokan rambu-rambu pada novel Kain. Bahkan penulisan “Tuhan” dan nama tokoh lain tidak diawali huruf besar. Semua ketertiban tata penulisan sangat minim ditemukan pada Kain. Terdapat patahan-patahan cerita tak terduga dan alur yang menarik. Call back di akhir cerita juga sangat mengena dan keseluruhan cerita jadi terlihat rapi. Di mana semua orang yang Kain kenal mati satu per satu, atau dia sengaja mematikannya.

Bisa dikatakan novel ini merupakan fiksi erotis yang mengandung unsur ketuhanan serta agama. Namun pada kenyataannya novel ini tidak dicabut dari peredaran perdagangan. Dan tidak ada yang mengambil tindakan, semisal novel ini nantinya ditutut oleh pemuka agama, juga sudah tidak ada lagi yang bisa menerima tuntutan selain batu nisan Jose Saramago. Antara fiksi, pelecehan agama dan unsur SARA memang bedanya sangat tipis. Tergantung bagaimana pembaca memaknainya. Terlebih bila tanda baca tersuguh sangat langka, pembaca bisa menentukkan sendiri kenyamanan gaya membacanya. Dan memaknai keseluruhan cerita dengan lebih santai tanpa mengedepenkan sisi temperamental. Semua orang diberi kebebasan menentukkan karya dan ide cerita, seliar apapun. Bila memang Kain dicekal dan ditarik dari peredaran dagang mungkin akan sangat menyita waktu karena novel ini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan beredar sejak 2009. Perbedaan sudut pandang sangat rentan memicu perdebatan. Namun memang kurang menarik bila sebuah buku tidak diperdebatkan.