Kalender Dalam Tinjauan Madilog

1609

Dalam pendahuluan buku Madilog Tan Malaka menulis: “Mokojobi, 15-6-2602. Tanggal resmi zaman pendudukan Jepang, waktu saya menulis “Madilog”. Dalam perhitungan “tuan” yang sekarang sedang jatuh dari takhta memerintah Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, mencatat pada hari Kamis, bulan Rajab 30, 1362.

Semua memberi gambaran, bahwa Indonesia belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu.”

Mengapa Tan Malaka mempermasalahkan Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad karena tidak memakai sistem kalender sendiri?

Apakah Proklamasi 17 Agustus 1945 bisa dibikin sebagai awal Kalender Indonesia tulen? Lalu bagaimana sistem kalendernya? Marilah kita tinjau sepintas sistem kalender yang ada.

Di Inggris Selatan terdapat Stonehange sebuah monomen kuno untuk memperhitungkan waktu yang sudah setengah hancur dalam perjalanan waktu sekitar 35 abad. Betapa pun rumitnya, bangunan Stonehange bukanlah sebuah kalender, paling-paling kegunaannya adalah membantu para pembangunnya untuk mengetahui kapan tugas-tugas keagamaan tertentu atau tugas-tugas pertanian harus dilaksanakan. Tidak ada bukti bahwa pembangunnya tahu atau memperhatikan bahwa tahun matahari yang mereka rayakan memuat hari dalam jumlah tertentu. Pengetahuan semacam ini hampir pasti menuntut pengamatan dan pencatatan selama waktu yang cukup panjang. Dan tugas itu mengandaikan suatu masyarakat yang beberapa orang anggotanya tidak hanya belajar membuat catatan, melainkan yang memang melakukannya sebagai pekerjaan mereka.

Contoh jelas yang paling kuno tentang masyarakat seperti itu muncul kurang lebih 5.000 tahun yang lampau di tepi Sungai Tigris dan Efrat, di kalangan bangsa Sumeria. Mereka adalah bangsa yang menonjol bakatnya dan yang pertama kali mengembangkan kebudayaan kota dan tulisan. Untuk membuat kalender, bangsa Sumeria mempunyai ahli khusus yang terdiri dari para imam penulis. Mereka membuat catatan pada kepingan yang terbuat dari tanah liat basah dan mereka pun pasti sudah menjadi ahli dalam hal mencatat waktu.

Riwayat kalender Romawi, seperti halnya kalender syamsiah-kamariah, berasal dari peradaban lembah sungai kuno yang lain, yakni di sepanjang Sungai Nil. Peradaban bangsa Mesir barangkali dihidupkan oleh pengaruh bangsa Sumeria, tetapi di bidang teknologi mereka kurang maju bila dibandingkan dengan bangsa Mesopotamia yang sezaman. Sekalipun demikian, kalender mereka lebih baik. Meskipun agaknya mereka menggunakan bulan untuk maksud-maksud keagamaan tertentu, namun mereka segera meninggalkan usahanya untuk menyesuaikan daur matahari dengan daur bulan, dan berpegang pada tahun yang panjangnya senantiasa 365 hari.

Di antara hal-hal penting dari kalender Yahudi yang diambil alih oleh orang Kristen adalah minggu yang terdiri dari tujuh hari. Semula satu minggu mungkin hanya merupakan selang antara hari-hari pasaran, bahkan sekarang masih banyak bangsa berbudaya mengikuti “mingguan” yang lamanya berkisar dari empat sampai 10 hari macam ini. Arti keagamaan pada tujuh hari, seperti yang terungkap dalam Kitab Kejadian, tampaknya berasal dari orang Yahudi. Mengapa mereka mengambil angka tujuh? Sebabnya mungkin karena mereka terpengaruh oleh arti mistiknya, bahkan di zaman kuno bilangan tujuh dianggap sebagai bilangan mujur. Kenyataan bahwa tujuh hari secara kasar sama dengan seperempat bulan (yaitu kira-kira sama dengan selang antara bulan baru sampai bulan setengah, atau dari bulan setengah sampai bulan purnama) mungkin juga menarik perhatian mereka. Akibat pemakaian minggu ini adalah ditambahkannya satuan lain lagi pada kalender, dan satuan itu tidak sejalan dengan bulan maupun tahun.

Baca Juga:  Kesadaran Nasional: Otobiografi - Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo

Bahkan dengan tambahan yang demikian tidak praktis itu kalender Julius masih jauh lebih sederhana bila dibandingkan dengan kalender Babilonia, dan hampir sama tepatnya. Walaupun demikian, selama berabad-abad, tertumpuklah kesalahan yang terkandung di dalamnya, yaitu adanya kelebihan satu hari setiap 128 tahun. Pada abad ke-16 kalender Julius ketinggalan 13 hari di belakang matahari. Ketidakcocokan ini hanya sedikit mempengaruhi kehidupan rakyat biasa, tetapi mengganggu Gereja, karena mendesak hari-hari suci ke musim yang salah (misalnya Paskah cenderung menjadi sebuah pesta musim panas).

Pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII, sesudah berunding lama dengan dokter dan ahli astronomi Italia, Aloisius Lilius, dan seorang ahli matematika berkebangsaan Jerman, Christophorus Clavius yang juga seorang rohaniawan Yesuit, memutuskan bahwa tahun berikutnya harus diperpendek 10 hari. Gregorius juga memerintahkan diadakannya pembaharuan sistem pembetulan tahun kabisat, dengan meniadakan tiga tahun kabisat setiap empat abad. Akibatnya, kalender Gregorius menjadi tepat, dengan kesalahan kira-kira hanya satu hari dalam tiap 3.323 tahun.

Tentu saja pembaharuan Gregorius segera diambil alih oleh negara-negara Katolik. Tetapi negara-negara Protestan baru saja menjalani Reformasi, dan enggan menerima dogma dari Roma, bahkan mengenai perkara yang begitu netral seperti kalender. Mereka tetap berpegang pada penanggalan Julius kendati mengandung kesalahan. Tetapi lama-kelamaan para pedagang dan diplomat di negara-negara ini mulai merasakan adanya kejanggalan karena menggunakan dua macam kalender, Gaya Lama dan Gaya Baru di satu benua yang kecil. Satu per satu negeri Protestan itu menyesuaikan diri dengan sistem yang lebih masuk akal. Inggris yang selalu kuat dalam memegang tradisi menyerah paling akhir, setelah bertahan sampai tahun 1752. Ketika itu kalender negeri ini sudah ketinggalan sebelas hari bila dibandingkan dengan kalender negeri-negeri tetangganya.

Setelah Inggris dan koloni-koloninya di Amerika menggunakan kalender Gaya Baru, maka negara penting Eropa yang masih bertahan tinggalah Rusia saja, sebab Gereja Ortodoksnya telah memisahkan diri dari Gereja Roma lama sebelum Reformasi. Rusia mempertahankan kalender Julius yang tentu saja kesalahannya kian menumpuk selama hampir dua abad lagi. Pada tahun 1918, sebagai salah satu akibat kecil yang ditimbulkan oleh Revolusi Bolsewik, pemerintah Rusia menghapus 13 hari dari tahun itu untuk menyesuaikan kalendernya dengan kalender yang berlaku di negara-negara Eropa lainnya. Sebagai akibat dari penghapusan itu perayaan tahunan “Revolusi Oktober” di Soviet yang menandakan pendudukan kaum Komunis di Rusia sekarang jatuh pada tanggal 7 November.

Baca Juga:  Di Kampung Ini Ada Tradisi "Huweh-Huweh" Setiap Malam 21 Ramadhan

Gereja Ortodoks tak pernah menerima pembaruan kaum Bolshewik yang dicapnya tak mengenal Tuhan itu! Sampai hari ini mereka tetap mempertahankan kalender Julius, dan merayakan pesta Natal yang jatuh pada tanggal 7 Januari bila dihitung menurut kalender Gregorius. Orang Kristen Ortodoks tidak begitu kolot dalam perkara semacam itu bila dibandingkan dengan orang Yahudi ortodoks. Sampai sekarang selama lebih dari 25 abad, orang Yahudi menghitung hari-hari sucinya menurut kalender syamsiah-kamariah yang mereka dapatkan dari daerah sungai-sungai Babilonia.

Kalender lain yang sekarang digunakan secara meluas adalah kalender Islam yang ditetapkan Khalifah Umar bin Khatab, dimulai dari Hijrah Nabi Muhammad sebagai permulaan tahun 1 Hijriah, mengambil alih kalender-kalender syamsiah-kamariah yang umum digunakan di seluruh daerah Timur Dekat. Karena alasan tertentu dia membuang sistem yang kadang-kadang menambahkan bulan-bulan istimewa untuk menyelaraskan kalendernya dengan musim. Sebagai akibatnya, kalender Islam sekarang mengikuti sistem kamariah murni yaitu melulu didasarkan pada peredaran bulan, tahunnya terdiri dari enam bulan yang panjangnya 29 hari dan enam bulan yang panjangnya 30 hari, sehingga seluruh tahun terdiri dari 354 hari. Musim dan bulan tidak saling berhubungan, dan 33 tahun Islam kurang lebih sama dengan 32 tahun syamsiah. Di dunia Islam kalender digunakan untuk mengatur hari-hari raya keagamaan. Maka sebagai akibatnya, hari-hari raya ini bergeser sepanjang tahun. Untuk menghindari kekacauan, negara-negara Islam menggunakan kalender Barat untuk mengatur urusan-urusan sipil.

Kalender sipil Barat, meskipun sederhana dan cukup tepat untuk memenuhi kebutuhan, telah dikritik karena pembagiannya yang tidak masuk akal. Bulan-bulannya tidak sama panjangnya, demikian pula triwulannya yang digunakan dalam banyak usaha untuk mengadakan perhitungan dan perencanaan. Baik bulan (kecuali Februari) maupun tahunnya tidak memuat minggu dalam jumlah yang bulat. Sebagai akibatnya, tiap tahun dan 11 dari 12 bulannya mulai pada hari yang berbeda dengan hari permulaan atau hari permulaan bulan sebelumnya.

Untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut, para pelopor pembaruan selama satu abad lebih mengusulkan berbagai macam cara untuk memperbaiki pembagian kalender Gregorius, tanpa mengubah caranya yang tepat untuk menangani kalender dengan tahun kabisat. Mungkin yang paling luas diterima di antara usul-usul pembaruan kalender itu adalah apa yang disebut Kalender Dunia.

Baca Juga:  Tan Malaka, Tintin dan Pacar Merah: Berebut Pengaruh dalam Fiksi

Kalender Dunia dimaksudkan untuk memperbaiki perhitungan Gregorius dengan menentukan tanggal yang tetap untuk hari-hari dalam pekan. Pada kalender ini tanggal 1 Januari selalu jatuh pada hari Minggu, dan beberapa hari raya jatuh pada hari Minggu, dan beberapa hari raya jatuh pada hari yang sama setiap tahun. Hal ini dikerjakan dengan membagi tahun menjadi empat triwulan, tiap triwulan memuat satu bulan dengan 31 hari dan diikuti oleh dua bulan dengan 30 hari. Karena 12 bulannya hanya berjumlah 364 hari, maka satu hari tambahan, yaitu Hari Dunia ditempatkan antara hari terakhir bulan Desember dan hari pertama bulan Januari, tetapi hari ini tidak dihitung sebagai suatu bagian dari kedua bulan tersebut. Dalam tahun kabisat, Hari Dunia yang kedua ditambahkan antara bulan Juni dan bulan Juli. Sistem tersebut telah diajukan oleh Serikat Kalender Dunia Internasional, akan tetapi masih diragukan penerimaannya.

Kalender Dunia sudah dibahas oleh Dewan Sosial dan Ekonomi PBB dan memperoleh tanggapan yang positif dari sejumlah wakil negara di sana. Tetapi agama, yang sejak semula telah demikian terlibat dalam penghitungan waktu, belum bersedia meninggalkan peranannya. Meskipun golongan-golongan agama besar di dunia tidak menyatakan keberatan terhadap Kalender Dunia, namun timbullah perlawanan dari beberapa kelompok minoritas, lebih-lebih kaum Yahudi Ortodoks dan penganut Gereja Adven Hari Ketujuh Protestan. Kelompok-kelompok ini mengikuti tafsiran harfiah atas perintah Kitab Suci “Pada Hari Ketujuh….kamu hendaknya tidak melakukan pekerjaan apa pun”. Mereka beranggapan bahwa Hari Dunia akan mengacaukan daur teratur tujuh hari yang terkandung dalam perintah ini.

Keberatan-keberatan dari pihak agama agaknya akan menghalangi Kalender Dunia selama bertahun-tahun yang akan datang dan mungkin sampai waktu yang tak tertentu. Sejauh yang dapat kita lihat di masa depan, kalender yang tergantung pada dinding-dinding rumah kiranya akan tetap tidak masuk akal dan agaknya tetap tidak akan berubah.

Jadi untuk mengubah sebuah sistem kalender pun bukanlah hal yang mudah, selain butuh konsensus juga butuh Revolusi yang berhasil, sehingga apa yang dikatakan Tan Malaka di awal buku Madilog adalah benar adanya. “Semua memberi gambaran, bahwa Indonesia belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu.”

Penulis adalah anggota Tan Malaka Institute (TMI)