Kemajemukan; Kekuatan Sosial Sekaligus Sumber Dinamika dan Tantangan!

Sebuah Refleksi Jelang 17 Agustus 2017

Oleh: Jeannie Latumahina

Bangsa dan Negara yang bernama Indonesia, mutiara di khatulistiwa yang memiliki 17 ribu pulau terbentang dari Sabang sampai Merauke, memiliki 34 Provinsi, 516 Kabupaten dan Kota, 714 Suku, mempunyai lebih dari 1.100 bahasa lokal dengan keragaman ekspresi seni, dengan pemeluk agama Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu adalah anugerah terindah tentang yang kita sebut “kemajemukan”.

Kemajemukan yang disatukan oleh cita- cita yang sama mewujudkan negara Pancasila dalam bingkai konstitusi UUD 1945, diikrarkan oleh para pendiri Republik ini, Founding Father dalam satu tekad yaitu Bhineeka Tunggal Ika.

Memasuki “Tahun Kemerdekaan” yang ke 72, dengan rumusan singkat sejarah di atas, dapat dikatakan masyarakat Indonesia berpengalaman hidup sebagai masyarakat majemuk. Idealisnya, semestinya memasuki ulang tahun yang ke 72 tidak menjadi persoalan tentang kemajemukan. Tetapi justru menjadi pertanyaan kebangsaan ketika bermunculan maraknya isu “radikalisme”, munculnya kelompok-kelompok intoleran yang mempersoalkan konsep kemajemukan.

Bukankah ketika “kemajemukan” ini terkoyak, maka secara nalar sehat kita sepakat bahwa kelompok – kelompok intoleran ini tidak konsisten dengan kesepakatan awal cita- cita berdirinya Republik ini? yang punya aturan konstitusi dan pemerintahan yang sah? Bahkan dengan tidak punya rasa malu ,mereka mengikutsertakan agama dan ras ke ranah politik? Dan hal ini sangat berbahaya bagi keutuhan Indonesia.

Sebagai rakyat Indonesia kita berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada pemerintahan Bapak Jokowi yang secara tegas dan bijaksana menyingkapi permasaalahan kebangsaan ini, walaupun ada suara sumbang yang mencapnya sebagai diktator.Menurut pemikiran saya bukankah mereka yang menyebut diktator adalah seorang diktator sejati dan penjajah,serta penghianat terhadap tatanan konstitusi bernegara yang telah dibangun oleh para pendiri Republik ini oleh, Sang Proklamator sejati Bung Karno, Bung Hata, melalui perjuangan darah, keringat dan nyawa dari para pahlawan yang mempertahankan Republik ini? Menurut pemikiran saya merekalah para oknum politisi, para oportunis, kelompok radikalisme adalah penjahat yang haus dengan kekuasan dan uang, tidak mengherankan jika korupsi turut mengoyakan rajutan kemajemukan ini.

Baca Juga:  ROHINGYA, FILM G30S PKI DAN KECERDIKAN JOKOWI

Tidak segan-segan pemikiran raykatpun dicuci bersih oleh mereka dengan segala tipu dan muslihat utk berusaha mengoyakan rajutan kemajemukan ke Indonesiaan!
Kita diingatkan lagi tentang fungsi agama dalam masyarakat majemuk adalah sebagai motivator. Meletakkan landasan etis, moral, dan spiritual dalam hidup bermasyarakat. Agama menjadi komitmen terdalam bagi manusia untuk mencapai harmoni dan perdamaian. Merupakan kekuatan yang transformatif, inspiratif untuk menciptakan masa kini dan masa depan penuh perdamaian. Sikap pemutlakan agama, sejarah dunia mencatat bahwa banyak negara yang pecah karena agama. Saling bunuh karena agama! Agama berwajah seram, tragis dan ironis, jauh dari hakekat yang sebenarnya”kasih sayang!”

Dalam bingkai kemajemukan, diperlukan citra agama yang damai, kasih, toleran dapat mengayomi, memberikan rasa nyaman untuk seluruh warga negara Indonesia tanpa memandang perbedaan. Jika setiap agama memahami dan menjalankan nilai ke Indonesiaan, maka tantangan dalam kemajemukan dapat diatasi.

Kemajemukan harus menjadi faktor pemersatu entitas negara dan bangsa yang bernama Indonesia. Kemajemukan harus menjadi kekuatan dan sumber inspirasi nasionalisme. Peran kita sebagai pemerintah, semua institusi pemerintahan, tokoh- tokoh agama, tokoh- tokoh masyarakat dan semua yang bersinergi dalam kebangsaan Indonesia Raya tidak terkecuali awak media untuk bersama –sama merajut dan mengelola kemajemukan,mempertahankan kerukunan, persaudaraan anak bangsa. Cerdas mengelola kemajemukan menjadi potensi pemersatu dan pemacu semangat kebangsaan! Konsep NKRI dapat terus dipertahankan kalau kita tetap bepegang teguh pada semangat Bhineeka Tunggal Ika, sehingga kemajemukan bukan merupakan ancaman melainkan kekuatan, sumber dinamika yang luar biasa!

Jangan pernah lelah merajut serta merawat kemajemukan! Kemajemukan menjadi spirit pemersatu negara, bangsa, mutiara khatulistiwa yang bernama Indonesia!

Merdeka!

Kediri, 16 Agustus 2017