Kematian Yang Tertunda

139

Oleh, Mbah Takrib

Senja merangkak pelan, tenggelam di perbatasan kota. Saat kurebahkan badanku di kursi tua, kursi yang usianya lebih tua dari usiaku. Iya aku ingat, kursi inilah dulu tempat bapak merebahkan badan seusai menggarap lahan sepetak milik keluarga kami yang diwariskan turun-temurun. Waktu itu aku masih kecil, duduk disebelah bapak dan mendengar cerita-cerita tentang lelehur kami.

Kekek leluhur kami dulu adalah abdi dalem di kadipaten. Karena jasanya itu, keluarga kami deberikan tanah sepetak, sebagai pusaka keluarga. Biarpun sepetak, nyatanya tanah itu selalu cukup buat hidup kami sekeluarga. Hasilnya tak pernah kami jual, hanya disimpan untuk makan. Entah dari mana kami mendapat nilai lebih untuk membeli bumbu dapur atau keperluan rumah tangga lainnnya. Namun yang pasti, kami tak pernah kekurangan, ‘mungkin inilah berkah’ pikirku.

Di tanah ini pula, leluhur kami dimakamkan. Aku tak tau apa yang leluhur kami pikirkan, tapi inilah wasiat turun-temurun. Konon katanya, Adipati pernah berpesan kepada kakek buyutku.

“Tanah adalah ibu, jagalah karena kelak kita akan kempali pada ibu” pasrahnya, sambil menandatangi surat tanah yang diberikannya kepada kakek buyutku.

Mungkin karena amanah itu, kakek buyut berwasiat. Saat kematianya, artinya juga kembali ke tanah, agar dimakamkan di tanah tersebut. Pesan itu kemudian berlaku turun-temurun sebagai hukum keluarga. Sejak saat itu, keluarga kami memanfaatkan penuh lahan tersebut, mulai dari bertahan hidup sampai pemakaman.

Aku adalah generasi ketujuh, sejak tanah wasiat itu dihadiahkan kepada keluarga kami. Dalam rentang generasi itu, tak banyak perubahan dalam keluarga. Kami bertahan hidup sebagai petani, sekaligus menjaga amanah leluhur dan istiqomah. Namun, dunia selalu mengikuti hukum perubahan, tak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Sedang waktu bergerak lebih cepat dibanding tata cara hidup dalam tradisi keluarga. Kini, kami hidup dalam arus modernisasi, dimana telah berdiri gedung-gedung menjulang, industrialisasi dari kemajuan tekhnologi.

Baca Juga:  Rembulan Di Mata Ibu

***

Perubahan arus zaman itu adalah sebagaimana kata pak Warsito, salah seorang pejabat dari perusahaan semen di kota kami. Saat pertama kali berkunjung ke rumah.

“Kita hidup di zaman yang maju, segalanya telah berubah dan tata cara kita hidup harus di upgret sesuai tuntututan zaman. Sedang industrialisasi merupakan suatu syarat mutlak untuk meraih kemajuan tersebut. Dengannya, pendapatan daerah meningkat, infrastruktur dibangun, terbuka lapangan pekerjaan baru dan kesejahteraan akan didapatkan”. Katannya, sembari menyodorkan surat pembelian tanah beberapa tahun silam.

Ia juga menambahkan, selain terbuka lapangan pekerjaan baru, nantinya akan ada program pemberdayaan masyarakat. Ada bertumpuk program bantuan sosial, mulai dari pemberian sembako bagi masyarakat miskin, pinjaman modal untuk usaha kecil menengah sampai  pembangunan fasilitas publik sepeti tempat ibadah dan jalan raya. Semua itu didanai dari dana CSR, dana yang disediakan oleh perusahaan.

Waktu itu, aku menolak permintaan pak Warsito untuk membeli tanah kami. Bukan tidak sepakat dengan pemikirannya ataupun harga yang ia tawarkan, tapi lebih untuk menjaga amanah leluhur.

Sudah ku jelaskan itu padanya, tetapi ia tetap bersikukuh akan membeli. Kadang ia datang wajah yang memelas, sebab jika pembelian ini sampai gagal karirnya di perusahaan akan terancam. Kadang ia juga datang dengan menggertak, memebawa beberapa orang, stumpuk uang dan cek kosong. Bahkan sempat suatu ketika ia datang dengan mengancam.

“Jika tanah bapak tidak dijual, toh juga percuma. Sebab tanah disekeling tanah bapak akan ditambang, dikeruk melingkar sesuai batas kepemilikan. Tidak akan ada lagi akses jalan dan tanah itu tidak akan bisa ditanami”. Katanya, kulihat wajahnya nampak serius.

Saat itu, aku aku sudah benar-benar bosan dengan tawaran pak Warsito, aku jenuh harus menjelaskan soal wasiat leluhur kami. Sampai akhirnya ku jawab dengan tegas.

Baca Juga:  Delia

“Tak akan ku jual tanahku pak, berepapun dan sampai kapanpun”

Ia pun kemudian pergi.

***

Sudah sekian tahun pabrik beroprasi. Kuingat kembali apa yang pernah dikatakan pak Warsito setiap kali berkunjungan ke rumah. Tidak kudapati kata-katanya itu nampak nyata, nasib warga kampung kami tidak banyak berubah dan justru semakin terpuruk dengan pekerjaan seadanya. Mereka masih bertani dengan sisa lahan yang belum ditambang perusahaan, sebagain menganggur dan sisanya menjadi buruh panggul dengan gaji kecil.

Sempat aku bertanya dalam hati, lalu kemana kekayaan alam kami dibawa?. Justru kini air semakin sulit, sungai mulai kering dan cemar, udara pun kian panas.

Kini pak Warsito sudah tidak pernah datang kembali ke rumah. Sebab, sikapku mungkin mengecewakan hatinya. Tanah di sekitar lahanku juga telah menjadi milik perusahaan. Persis sejak lima tahun silam, tanah di sekeliling lahanku telah dikeruk sebagai bahan baku produksi semen.

Lahanku kini menjadi bukit terjal. Bukan karena bertumbuh, tetapi akibat lahan di sekitarnya dikeruk melingkar, mengikuti batas kepemilikanku. Tak ada alat pertanian yang bisa masuk kesana. Hanya cangkul dan sabit yang bisa ku bawa saat berkunjunng.

Sekarang setiap aku datang, bukan lagi untuk bercocok tanam atau memanen. Sebagaimana yang telah dilakukan bapak dan kakek buyutku. Aku datang hanya untuk membersihkan rumput liar disekitar makam. Berziarah mengenang cerita perjuangan lelehur, mempertahankan keyakinan dalam merawat dan menjaga ibu. Sejak pengerukan itu, ibu kamipun telah mati, damai bersama arwah para leluhur.

Seringkali sebelum beranjak pulang, aku tak lupa berdoa dan berziarah ke utara. Pada gundukan besi, cerobong asap dan kepulan awan hitam. Menunggu kematianku, sembari meratapi kematian yang lebih besar.

Baca Juga:  “Pergi”

Yogyakarta, 2015