Kepengen Jadi BANSER

622
Foto: Dok, Pribadi
Foto: Dok, Pribadi

Oleh: Vinanda Febriani

Bagi yang sudah alergi mendengar istilah BANSER mungkin tidak akan sudi membaca tulisanku kali ini. Ya, sejak kurang lebih satu tahun yang lalu aku memang sangat mengidamkan menjadi seorang Banser dan sudah menjadi sebuah cita-cita. Entah mengapa, bukan karena aku mencari titik ketenaran, pujian dan lain sebagainya. Namun karena aku sangat menyukai keberaniannya (teringat tragedi Bom yang membunuh salah satu anggota Banser yang tengah mengamankan sebauh gereja), ketekunannya, keikhlasan dan segala yang ia lakukan, segala yang ia pertaruhkan dan perjuangkan demi NU dan NKRI. Bukan hanya modal omong kosong dan adu domba saja, namun berani bertindak secara nyata.

Berulang kali aku mengatakan, aku mencintai NU karena Banser. Banser lah yang paling awal mengenalkan kepadaku mengenai apa itu Nahdlatul Ulama, ormas paling in-Toleran (dibaca tanpa in) di Indonesia. Berulang kali aku katakan, Banser adalah banom GP Ansor (Anak kandung NU) yang sangat “gila”. Disaat orang-orang islam sibuk menyebarkan label “kafir” kepada saudaranya sendiri (saudara seiman, sebangsa dan saudara dalam kemanusiaan), Banser malah berupaya menghilangkan cap “Kafir” yang ditempelkan dengan dalih Politik tersebut. “, apa sih mau mu ser, Banser?”. Disaat orang-orang islam sibuk mengkafirkan orang Islam, NU bahkan mampu mengislamkan orang kafir.

Sungguh mulia bukan?. Lah terus, kenapa masih banyak yang nyinyir kepada NU, menganggap bahwa NU adalah perusak Islam? lha nyatanya banyak orang “non muslim” yang bersyahadat kepada Allah melalui perantara Kyai dan Ulama NU. Disaat para lasykar islam sibuk “melaknat” Polri yang “konon” katanya bertemu Polri serasa bertemu dengan zionis, eh justru Banser merangkul dan memeluk erat aparat kepolisian untuk tetap sabar dan selalu tegar atas tuduhan, fitnah dan olokan yang diberikan kaum seler seprai online. Aneh bukan? ya memang begitulah seharusnya ciri khas umat beragama dengan baik. Mengutamakan persatuan, kesatuan, dan persaudaraan serta menghindarkan mulut dari mencela, memprovokasi dan juga menfitnah.

Baca Juga:  Winter Is Coming-Manusia Unggul Jokowi, The Winter Soldier-Generasi Emas Prabowo, dan Politik Sontoloyo

Banser adalah banom GP Ansor NU yang paling aneh se-jagad raya. Benar kata orang islam sebelah, Banser menjaga gereja namun membubarkan pengajian. Nah, pasti tidak ada tindakan tanpa suatu alasan. Banser “mengamankan” Gereja karena kemanusiaannya, membubarkan pengajian karena isi ceramahnya yang provokatif dan memicu konflik bersaudara, entah antar umat Islam atau antar warga negara. Jadi, sudah jelas ya sudah banyak klarifikasi serta penjelasan dari NU dan GP Ansor terkait apa yang sering dikatakan orang islam sebelah mengenai lika-liku berNUsantara ala Banser NU. Mengenai caci-maki, olokan fitnahan dan segala yang ia terima dari golongan yang mengaku pengkapling syurga. “Ah, biarlah mereka berkata apa. Yang penting niatku lillahi ta’ala”.

Pengin jadi Banser katamu? apa nggak malu?
Begitulah kira-kira pertanyaan orang “aneh” yang sering dilontarkan kepadaku.

“Panggilan dari hati nurani” jawabku singkat saja, tidak usah diperpanjang ataupun diperpendek. Banser terbukti berani menyelesaikan masalahnya sendiri, memberanikan diri bertemu aparat ketika ada suatu permasalahan tanpa harus susah-susah cari pembelaan dengan mendatangkan pengacara kelas atas atau sampai repot-repot pergi umroh tapi lama nggak pulang-pulang (eh awas ada yang rindu).

Setiap orang tentu memiliki cita-citanya masing-masing. Jangan salahkan A jadi gubernur karena memang itu adalah cita-citanya, jangan salahkan B menjadi profesor karena cita-citanya, jangan salahkan aku menjadi Banser karena memang itu adalah cita-citaku. Dan aku tidak akan pernah menyalahkan dirimu ingin dan akan menjadi apa kelak dengan cita-citamu, karena itu hak, dan keinginanmu. Maka jangan saling menyalahkan, apalagi sampai menyalahkan Jokowi. Yang punya cita-cita siapa, yang disalahkan siapa? kan nggak etis.

Pengin jadi Banser

Suatu saat nanti aku pasti akan memakai seragam Banser. Jangan salah, seragam itu tidak bisa didapat tanpa melalui banyak pengorbanan dan proses yang panjang. Demi mendapat gelar Banser saja harus melalui Diklatsar penuh tantangan dan harus selalu berani untuk berdiri demi berikutserta dalam menjaga, mengawal, membentengi serta mempertahankan NU dan NKRI.

Baca Juga:  Mari Meriseit Ungkapan Oleh Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto

Banser kuat karena adanya do’a dan barokah para Ulama dan para Kyai. Para Kyai dan Ulama kuat karena selalu dijaga, diamankan serta dilindungi Banser dan Pagar Nusa. Merekalah generasi militan NUsantara kita. Mereka adalah cerminan terbaik untuk diceritakan kepada anak, cucu, cicit hingga generasi penerus kita kelak. Buktikan bahwa NU punya Banser yang siap siaga berkorban, berjuang, mengabdi untuk NUsantara Indonesia.

*Penulis Pimpinan Komisariat IPPNU MA Ma’arif Borobudur.