Sejarah

Kesadaran Nasional: Otobiografi – Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo

Sumber Foto tirto.id

Oleh: Ruli Harmadi

Jenderal Fabius bertempat tinggal di Bussum. Selama satu minggu ia berada di Amsterdam, bekerja di kantor yang sama dengan tuan rumah saya. Pada hari minggu tuan Ketelaar juga pergi ke Bussum. Bussum adalah tempat di luar kota dengan villa-villa kepunyaan orang-orang Amsterdam yang kaya. Hawanya segar dan sehat. Setelah bekerja keras dalam sehari, dalam rumah-rumah yang menyenangkan, dapat mengumpulkan tenaga baru, dan setelah beristirahat di waktu malam, dengan kereta api pagi berangkat ke Amsterdam untuk berusaha.

Pada suatu pagi tuan Ketelaar membawa kami, Lim Ki Ay, Panudju dan saya ke Bussum, ke rumahnya keluarga Drescher. Di sini bertempat tinggal anak-anak dari orang-orang militer yang menerima tunjangan dari “Dana Van Heutz”. Akan tetapi Tuan Fabius memberikan juga tunjangan kepada orang-orang lain dan tidak hanya kepada anak-anak militer. Ini agaknya atas pertimbangan pribadi untuk mempergunakan uang yang ada di bawah pengamatannya, supaya sebanyak mungkin mendapat keuntungan. Jadi mahasiswa yang dianggap mempunyai kemampuan dapat meminjam uang dari dana tersebut. Mungkin Lim Ki Ay juga, sebab waktu tahun-tahun perang itu, pengiriman uang sangat sukar.

Di rumah Drescher kami berkenalan dengan seorang teman setanah air, Ibrahim Datuk Tan Malaka. Ia seorang lulusan dari Kweekschool di Haarlem. Dan sedang menyiapkan diri untuk meraih diploma “Hoofd-acte”. Menurut keterangan tuan Ketelaar, ia mendapat bantuan dari Dana Van Heutz, atas anjuran dari kepala sekolah “Kweekschool” di Haarlem, yang mengagumi Tan Malaka karena watak dan kecakapannya. Waktu berkenalan dengan saya, Tan Malaka nampaknya sangat kurus. Ia menderita sakit, dan untuk kesehatannya ia tinggal di Bussum. Sebagai orang Indonesia ia agak besar, sekurang-kurangnya ia lebih tinggi dari saya, yang menurut surat keterangan berukuran tinggi 1,55 meter pada waktu itu. Ia mempunyai pundak lebar, kuping berdiri dan mata tajam. Jika bicara suaranya tenang dan lembut, yang tidak seimbang dengan bentuk badannya. Jika misalnya dibandingkan dengan suara Tjokoraminoto, pemimpin Sarikat Islam yang pernah saya dengar berbicara di Kuningan Jawa Barat pada pertemuan Propaganda, suara Tan Malaka sangat lemah. Ia menderita sakit karena serangan jantung waktu ia bermain sepak bola dalam team sekolah pada waktu musim dingin. Kemudian ia jatuh sakit keras, karena kekuatan badannya sangat lemah yang disebabkan oleh kekurangan makanan. Ia bertitik tolak dari kebijaksanaannya bahwa uang yang seharusnya dipakai untuk makanan disimpannya membeli buku-buku untuk keperluan menambah pengetahuannya.

Ia merasa beruntung berjumpa dengan saya sebagai mahasiswa yang pertama tiba di Negeri Belanda sesudah perang. Dengan perhatian besar ia meminta keterangan-keterangan mengenai perkembangan pergerakan nasional di Indonesia. Tan Malaka mengatakan kepada saya, bahwa ia berangkat pada tahun 1913. Keberangkatannya ke Negeri Belanda adalah berdasarkan ongkos suatu dana yang dikumpulkan oleh orang-orang terkemuka, asal Suliki di Sumatera Barat, Minangkabau, Ongkos-ongkos itu hanya untuk tiga tahun guna mendapatkan diploma “Legeracte” di Ryksweetschese di Haarlem.

Sesungguhnya ia harus kembali ke Sumatera pada tahun 1916, akan tetapi terhalang oleh keadaan perang. Itulah sebabnya ia memutuskan melanjutkan pelajaran untuk mendapat diploma, yang dinamakan “Hoofdacte”, yang memberikannya kedudukan sebagai kepala sekolah. Ini dimungkinkan oleh tuan Ketelaar yang atas nama Jenderal Fabius memberi bantuan keuangan, yang akan dikembalikan dengan rente di kemudian hari. Karena itulah ia tinggal di Bussum, di rumah Drescher bersama-sama dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya.

Setelah perjumpaan yang pertama, saya bertemu dengan dia beberapa kali. Sekali di Bussum dan juga di Amsterdam di rumahnya tuan Ketelaar, di mana kami tinggal. Kadang-kadang saya menjumpainya di Kalvestraat bersama orang Belanda, dan saya bertanya kepada Panudju yang jalan bersama saya, siapa orang Belanda itu. Ia berbisik bahwa orang itu adalah Sneevliet, pemimpin Partai Buruh Belanda. Baru kemudian saya mengetahui bahwa Sneevliet ini mempunyai peranan penting di Semarang waktu ia dengan Semaun, Ketua Partai Buruh Kereta Api, mendirikan partai ISDV (Ind. Social Dem. Vereeniging).

(2)

Pertemuan dengan Ibrahim Datuk Tan Malaka (hal 359 s/d 364)

Tanggal 25 Agustus 1945, seminggu setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, pembantu rumah tangga kami mengatakan ada seorang tamu datang yang ingin berjumpa dengan saya. Ia menunggu di ruang depan rumah. Saya menuju ke ruang depan untuk menemui tamu itu. Dia duduk di pojok ruangan. Dengan melihat sepintas lalu, wajah tamu itu mirip Mr. Iskaq Tjokorhadisuryo bekas anggota Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda.

Ketika saya mendekatinya, saya kaget. “Wah, kau Tan Malaka”, kata saya, “Saya kira kau sudah mati, sebab saya baca di surat kabar bahwa kau disebut menjadi korban dalam kerusuhan di Birma, ada lagi kabar bahwa kau berada di Yerusalem, dan dikatakan mati dalam kerusuhan Israel”.

Tan Malaka lalu menjawab sambil ketawa dalam bahasa Belanda : “Onkruid vergaat toch niet” artinya: Alang-alang tokh tak dapat musnah kalau tak dicabut dengan akar-akarnya.

Sesudah bersenda-gurau, saya bertanya: “Apa maksudmu?”

Tan Malaka menjawab: “Sampai sekarang saya hidup incognito (tidak resmi) di bawah tanah. Sekarang Indonesia sudah merdeka, saya ingin hidup dan bergerak di atas tanah, secara resmi. Saya ingin menemui dan mengenal pemimpin-pemimpin Indonesia.”

Saya berpikir apa maksudnya dengan berkenalan dengan pemimpin-pemimpin. Apakah dia ingin mempengaruhi jalannya Revolusi Nasional kita dengan pandangan hidupnya sebagai seorang yang menganut ajaran Marx dan Lenin? Sebagai seorang yang pandai mempengaruhi orang-orang yang tidak berpikir kritis, saya khawatir dia akan berhasil mempengaruhi pemimpin-pemimpin Revolusi kita.

Saya sendiri selama bergaul dengan Tan Malaka di Negeri Belanda tidak pernah kena pengaruhnya. Perjuangan saya didasarkan atas prinsip-prinsip yang saya letakkan sebagai dasar dan pedoman bagi perjuangan Perhimpunan Indonesia, yakni: 1. Percaya kepada diri sendiri (self-reliance), 2. Tidak minta bantuan dari siapa pun dan dari mana pun (self-help), 3. Menentukan nasib sendiri (self-determination). Kecuali itu kami berjuang untuk kesatuan Tanah Air, kesatuan Bangsa dan kesatuan Bahasa. Prinsip ini menjadi Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 setelah beberapa bekas anggota Perhimpunan Indonesia pulang ke Tanah Air, mereka mempengaruhi gerakan pemuda.

Saudara Tan Malaka tinggal di mana?, tanya saya. Dia menjawab sambil mesem. “Bagaimana seorang zwerver (gelandangan) mempunyai tempat kediaman tertentu?” jawabnya. “Saya menginap di mana saya dapat tempat berlindung.”

“Kalau begitu”, kata saya, “baiklah Saudara tinggal buat sementara waktu di rumah pavilyun saya saja. Saya perlu mendengar pengalaman Saudara sesudah kita berpisah di Negeri Belanda.

Beberapa hari Tan Malaka berdiam di pavilyun tersebut. Ia sempat menceritakan pengalamannya.
“Setelah saya tamat belajar pada Hoge Kweek School di Haarlem dan mendapat ijazah Hoofdacte, saya pulang ke Tanah Air tahun 1920. Saya bekerja pada Senembah Maatschappij, suatu perusahaan perkebunan Belanda dekat Medan. Saya ditugaskan menjadi guru anak-anak pegawai Belanda dari Senembah Maatschappij itu.

Setelah beberapa bulan mengajar, saya ditegur oleh pimpinan perusahaan, bahwa saya tidak boleh bergaul dengan kaum buruh yang bekerja pada perusahaan itu. Rupanya diketahui bahwa saya di malam hari memberi kursus kepada kaum pekerja perusahaan mengenai sejarah pergerakan kaum buruh internasional. Akibatnya nampak pada tingkah lakunya kaum pekerja itu terhada atasannya yang dianggap “kurang ajar”

Oleh karena saya tidak menghiraukan larangan tersebut saya diberhentikan dari pekerjaan saya sebagai guru.

Kemudian saya pergi ke Semarang. Di sana saya menemui Saudara Semaun yang mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI). Saya mendirikan Sekolah Rakyat. Karena Pemerintah Belanda takut pengaruh saya di kalangan rakyat, maka tak lama kemudian saya diperintahkan meninggalkan Semarang untuk di-internir di salah satu tempat. Namun permintaan saya untuk pergi ke luar negeri atas biaya saya sendiri, dikabulkan. Lalu saya pergi ke Negeri Belanda di mana saya menjadi anggota Partai Komunis Belanda (CPH) dan menemui Saudara.”

Demikianlah cerita Tan Malaka. Saya masih ingat ketika Tan Malaka datang di Leiden. Waktu itu saya menjadi mahasiswa Universitas Leiden. Maksud kedatangannya ialah mengajak saya untuk menyaksikan suatu rapat pemilihan umum yang diselenggarakan oleh Partai Komunis Belanda di Den Haag.

Keadaan Tan Malaka di Negeri Belanda dipergunakan oleh CPH untuk memperkuat barisannya. Tan Malaka tercantum dalam daftar calon anggota Parlemen sebagai calon nomor 3.

Oleh karena Tan Malaka pandai berpidato, maka rakyat Belanda lebih banyak memberi suara kepada Tan Malaka sebagai calon nomor 3 daripada suara yang diberikan kepada Wynkoop, calon nomor 1 dan kepada Louis de Visser calon nomor 2.

Berhubung Tan Malaka tidak berminat untuk menjadi anggota Parlemen Belanda, suara yang didapat dalam pemilihan umum, secara otomatis jatuh ke calon nomor 1 dan nomor 2, sehingga CPH diwakili hanya oleh Wynkoop dan Louis Visser.

Tidak lama berselang, Tan Malaka meninggalkan Nederland untuk pergi ke Baku, di Rusia Selatan (daerah Krim) untuk menghadiri Konperensi rakyat-rakyat Timur (Conference of Oriental peoples).
Saya dengar kemudian bahwa ia pergi ke Canton, negeri Cina, untuk menunaikan tugasnya di negeri itu.

Setelah mendengarkan cerita Tan Malaka mengenai pengalamannya dalam buangan di Eropa, maka saya mengerti mengapa dia ingin hidup turut menikmati alam kemerdekaan Indonesia.

Karena ia ingin bertemu dengan beberapa orang terkemuka, maka saya mempersilakan beberapa orang seperjuangan datang di tempat kediaman saya untuk diperkenalkan dengan Tan Malaka. Demikianlah berturut-turut datang Gatot Tarunomihardjo, Iwa Kusuma Sumantri, Sajuti Melik, bahkan Bung Karno.

Pada suatu hari Tan Malaka memberitahukan kepada saya bahwa dia diajak oleh Sajuti Melik ke tempat kediaman Dr. Suharto di Kramat Raya. Di sana ia bertemu dengan Ir. Sukarno.

Dalam pertemuan itu Bung Karno mengatakan kepada Tan Malaka bahwa dia dalam perjuangannya mengambil banyak petunjuk-petunjuk yang Tan Malaka tulis dalam bukunya mengenai “Massa Aksi”.

“Bung Tan”, kata Sukarno, “kita sekarang menghadapi kedatangan Sekutu yang akan melucuti Angkatan Perang Jepang. Saya tidak mengetahui apa yang akan terjadi dengan diri saya. Saya bisa ditangkap, dibuang atau dibunuh. Berhubung dengan kemungkinan itu saya minta kepada Saudara, berikanlah petunjuk-petunjuk kepada para pemimpin kami dalam hal taktik dan strategi perjuangan rakyat kita untuk mempertahankan kemerdekaan kita.”

Tan Malaka lalu berkata: “Saya tidak dikenal oleh pemimpin-pemimpin yang Saudara singgung. Saya sanggup menunaikan tugas saya itu apabila Bung Karno memberi suarta kepada saya sebagai tanda pengenalan”.

Kemudian setelah beberapa hari lampau Tan Malaka minta saya memperingatkan Bung Karno agara surat itu diberikan kepadanya. Saya sampaikan pesan Tan Malaka itu kepada Bung Karno.

Pada suatu hari dalam suatu sidang Kabinet Menteri di Pejambon, Bung Karno sebagai Ketua sidang mengatakan:

“Saudara-saudara, kita pada dewasa ini menghadapi kedatangan Sekutu. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi akan diri saya. Saya bisa ditangkap, diasingkan ataupun dibunu. Teruskanlah perjuangan mempertahankan kemerdekaan kita. Dalam hal itu saya nanti akan meninggalkan suatu surat di mana saya sebut nama seorang yang mahir dalam perjuangan massa. Dengarkanlah nasehatnya demi keselamatan Republik kita.”

Setelah beberapa hari berselang, Tan Malaka belum juga menerima surat tanda pengenalan itu. Ia minta saya memperingatkan Bungk Karno tentang surat itu.

Pada suatu hari saya menerima kabar per tilpon bahwa Bung Karno akan datang ke rumah saya. Saya beritahukan hal itu kepada Tan Malaka dan kami berdua siap menerima Bung Karno.

Akhirnya Bung Karno datang, tetapi tidak sendiri. Ia dibarengi oleh Bung Hatta yang diperkenalkan kepada Tan Malaka.

Kami berempat duduk di ruang belakang rumah. “Bagaimana tentang surat tanda pengenalan yang Bung janjikan?” tanya Tan Malaka kepada Sukarno. “Kami datang ke sini justru untuk menyusun surat itu”, jawab Bung Karno. “Coba susunlah surat itu dengan kata-kata Bung Tan sendiri.”

Saya lalu menyediakan sehelai kertas yang dipergunakan oleh Tan Malaka untuk menulis maksudnya. Konsep tulisan itu disampaikan kepada Sukarno-Hatta.

Setelah Sukarno membacanya, lalu diberikannya kepada Hatta. Dia mengusulkan agar tanda pengenalan Tan Malaka itu diubah menjadi surat amanat dari Sukarno-Hatta yang kemudian terkenal sebagai “testamen politik”. Isi surat itu pada pokoknya berbunyi seperti berikut: “Kalau seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atas diri Sukarno dan Hatta – maka pimpinan perjuangan kemerdekaan diteruskan oleh Tan Malaka, Iwa Kusuma Sumantri, Sjahrir dan Wongsonegoro.”

Nama Sjahrir dan Wongsonegoro diusulkan oleh Hatta untuk disebut dalam amanat itu, karena Sjahrir katanya banyak pengaruh di kalangan pemuda intelektual, Wongsonegoro di kalangan Pamong Praja.

Kalau begitu, kata saya, sebaiknya nama Iwa Kusuma Sumantri disebut pula di dalam surat amanat itu karena dia sebagai seorang Sunda banyak mempunyai pengaruh di Jawa Barat.

Demikianlah terjadinya surat amanat Sukarno-Hatta itu. kemudian saya diminta agar mengetiknya dan membikin tiga copy untuk disampaikan kepada Wongsonegoro, Sjahrir dan Iwa Kusuma Sumantri.

Berhubung dengan suasana tidak aman karena revolusi, hubungan pers, lalu lintas dan lain-lain peristiwa, maka saya tak dapat lagi menyampaikannya kepada saudara-saudara yang disebut itu.

Tan Malaka tinggal kira-kira tujuh hari di tempat saya. Kemudian dia minta diri, katanya mau pergi ke Jawa Tengah

Popular

To Top