Kesan Menjadi Mantan Reporter Harian Jogja

243

Saya ingat sekali bagaimana pemimpin redaksi koran di Yogyakarta, orang tua yang dandanannya terkesan slengekan. Orangnya unik dan nyentrik. Dia berjenggot tebal, perutnya buncit, dan tubuhnya pendek. Ingatan saya melompat sepuluh tahun silam ke Pak YA Sunyoto, pemimpin redaksi koran dengan tagline berbudaya dan membangun kemandirian.

Almarhum Pak Nyoto, panggilannya di kantor telah lebih dulu meninggalkan bumi.

Ia orang yang menarik buat saya, tegas memberi tahu jurnalisnya untuk menolak amplop. Suatu ketika dia mengumpulkan reporter dan redaktur di kantor yang menjadi tempat saya pertama kali bekerja .

Saya juga ingat betul bagaimana kantor ini secara ketat menerapkan kode etik untuk jurnalisnya. Bila reporternya ditugaskan untuk ikut kegiatan studi banding pemerintah daerah maupun anggota dewan, maka ia wajib mengembalikan duit perjalanan yang diberikan oleh mereka. Kantor memberikan uang perjalanan dinas (perdin) ketika reporter ditugasi ikut perjalanan pegawai pemerintah daerah.

Saya ingat pernah menyerahkan duit sebesar Rp 500 ribu, uang itu diberikan humas pemerintah provinsi selama perjalanan ke Gunung Bromo ,Jawa Timur. Duit itu saya berikan kepada Mbak Ito, Sekretaris Redaksi kantor ini untuk dikembalikan ke humas pemerintah provinsi.

Hal paling berkesan yang saya dapat di kantor tempat saya belajar ini adalah jadilah jurnalis yang taat kode etik jurnalistik, tidak menerima sogokan narasumber. Pesan Pak YA Sunyoto begitu membekas. Tentu saja ini penting untuk mendidik jurnalis menjadi independen dan menjauhi korupsi.

Kesan lainnya adalah guyonan-guyonan dengan banyak kawan-kawan reporter dan redaktur. Saya mundur, pamit baik-baik dan tetap menjaga silaturahmi dengan mereka yang masih berkarya di kantor ini. Saya kini bekerja sebagai koresponden Tempo.

Baca Juga:  Menyambut keterbukaan informasi publik dan pelayanan publik yang transparan, "Sekolah Rakyat ' gratis di Kediri

Terima kasih untuk Pak Bayu Widagdo yang pernah memberi kepercayaan saya belajar dan berkarya di Harian Jogja.

Suatu siang, saya membuka kolom lowongan pekerjaan di koran lokal berwarna hitam putih. Di situ tertera kebutuhan mengisi posisi reporter. Saya bergegas mendaftar. Saya waktu itu culun. Tiga bulan setelah lulus kuliah saya mendaftar.

Modal mendaftar cuma bekal membaca buku-buku dan menulis sewaktu aktif di organisasi ekstra kampus. Dengan penuh percaya diri, saya mendaftar. Tentu saja saya jauh dari pengalaman bekerja sebelumnya. Saya pernah memberikan les singkat dari rumah ke rumah untuk siswa sekolah dasar. Honornya pun hanya cukup untuk uang makan.

Saya tak pernah membayangkan pekerjaan sebagai jurnalis menjadi bagian dari hidup hingga sekarang, membuat diri tak kaya dan tak miskin alias biasa-biasa saja.

Orang tua dan saudara bertanya kenapa kamu hanya memilih menjadi jurnalis? Kenapa tidak melamar sebagai pegawai negeri atau mungkin sesuai latar belakang pendidikanmu, mendaftar di kantor yang mentereng, kedutaan besar maupun departemen luar negeri. Bukankah nilaimu nggak jelek-jelek amat.

Saya menjawab dengan santai. Saya sadar kemampuan saya hanya menulis. Itu saja.

Hidup berlanjut bersama tulisan-tulisan yang sebagian mungkin menguap. Tapi dari banyak tulisan itu tentu ada yang membekas. Pertama kali bekerja, saya ditugaskan untuk mengkover liputan-liputan di Kabupaten Bantul. Saya masih ingat koran ini cukup kritis kepada pemerintahan lokal. Suatu ketika, muncul tulisan tentang bagaimana sekertaris daerah terlibat dalam sejumlah mega proyek yang berujung pada korupsi. Ia akhirnya divonis hukuman penjara.

Saya menjadi saksi bagaimana pejabat daerah ini gemar menyogok jurnalis, memberikan amplop setiap dia menggelar jumpa pers dengan dalih uang transportasi. Kantor saya waktu itu mengajarkan untuk menolak amplop pemberian dari narasumber.

Baca Juga:  Aspirasi untuk Sulawesi Tenggara

Tentu saja saya serahkan duit amplopan itu ke sekretaris redaksi dan diserahkan ke sekda. Semua dicatat dan ditandatangani untuk dikembalikan. Kepada saya sekda itu bilang kenapa dikembalikan alias gak diterima, itu kan hanya uang transportasi. Saya menjawab saya terikat aturan.

Terima kasih sudah memajang foto saya di deretan wajah-wajah yang sebagian saya kenal. Selamat tambah umur Harian Jogja: sepuluh tahun tumbuh. Semoga menjadi media massa yang menyajikan informasi bermutu untuk publik.

Aktif menulis di Tempo, AJI Yogyakarta, Vice, dan ragam isu lainnya. Meliput pemilu di Myanmar (2015), Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations Framework Convention on Climate Change) di Peru, Amerika Latin (2014).